Cocoklogi
Cocoklogi adalah istilah yang populer dalam masyarakat Indonesia yang merujuk pada sikap menyimpulkan sesuatu dari beberapa hal yang dianggap memiliki kemiripan.
Pengertian[sunting | sunting sumber]
Cocoklogi adalah lakuran dari kata dalam bahasa Indonesia "cocok" dan sufiks "-logi". Menurut Adrian Perkasa, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, cocoklogi adalah "mencari pengetahuan dengan menggunakan metode yang berbeda dengan ilmu sejarah." [1]
Menurut Andi Azhar dari Kompasiana, cocoklogi adalah "ilmu yang mencoba mengaitkan suatu kejadian, waktu, tempat, atau apapun dengan sabda alam. Maksudnya adalah mengkaitkan segala sesuatu yang terjadi saat ini dengan tanda-tanda kejadian di masa depan."[2]
Cocoklogi memiliki kemiripan dengan teori konspirasi dan bias konfirmasi, di mana masyarakat lebih percaya dengan takhayul dengan mencari kecocokan antara dua hal yang dianggap berhubungan, tanpa ada logika ilmiah. Contoh dari suatu cocoklogi adalah mengkaitkan jumlah gol dalam sepak bola dengan nomor urut calon presiden.[2]
Konsep cocoklogi telah ada sejak dulu, namun istilah ini baru muncul seiring berkembangnya Internet dan media sosial. Selain di medsos, konsep cocoklogi bahkan digunakan di buku tercetak. Salah satunya adalah buku Majapahit Kerajaan Islam (2014), di mana Gajah Mada diklaim memiliki nama asli Gaj Ahmada dan beragama Islam. Klaim ini pun dibantah.[3] Adrian Perkasa menyebut bahwa cocoklogi akan lebih berbahaya jika dikaitkan dengan agama.[3]
Tanggapan[sunting | sunting sumber]
Adrian Perkasa mengekspresikan kekhawatiran bahwa cocoklogi bisa mengancam perkembangan ilmu pengetahuan. Pradipto Niwandhono, juga dari Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa masyarakat mudah mempercayai penyampai informasi, tanpa mempertimbangkan substansinya, yang menyebabkan mereka mudah terkena disinformasi. Disinformasi bisa berdampak pada orang yang memiliki literasi rendah. Namun sebaliknya, disinformasi juga memacu pembaca yang kritis untuk mencari sumber yang lebih baik.[3]
Maraknya cocoklogi di masyarakat membuat Andi Azhar berkomentar, "Ketika bangsa lain sudah menjelajah bulan [bahkan sudah sampai Mars], bangsa kita malah masih terus menafsirkan makna setiap pergerakan bulan pada setiap kejadian sehari-hari."[2]
Menanggapi buku-buku best-seller yang menggunakan cocoklogi sebagai cara penelitian, situs Mahadit menyimpulkan bahwa buku yang tidak menggunakan metodologi penelitian yang ilmiah tidak bisa diterima begitu saja.[1]
Referensi[sunting | sunting sumber]
- ^ a b "COCOKLOGI".[pranala nonaktif permanen]
- ^ a b c Andi Azhar (17 Juli 2014). "Ilmu Cocoklogi : Kemajuan atau Kebuntuan Berpikir [?]". Kompasiana.
- ^ a b c Manda Firmansyah (24 Juni 2019). "Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan". alinea.id.
Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]
|Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.|