Setiap musim penghujan tiba, ketakutan akan terjadinya banjir semakin meningkat. Bukan tanpa alasan. Karena berdasarkan pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya, setiap musim hujan datang banjir pun melanda. Tidak hanya dikarenakan curah hujan yang tinggi, tetapi juga, seperti yang dikutip dari National Geographic Indonesia (18/01/2013), disebabkan oleh ketidaktepatan penataan air dan ruang yang menyebabkan tergusurnya area resapan air. Seperti yang terjadi awal tahun 2013 ini pemerintah DKI Jakarta mendapatkan “kado” tahun baru berupa banjir yang menggenangi hampir seluruh wilayah DKI Jakarta, baik itu yang terjadi di daerah “langganan” banjir, hingga daerah-daerah yang notabene dikatakan daerah elit yang sebelumnya tidak pernah banjir. Jumlah wilayah yang tergenang air pun mencapai 41 km2 atau sekitar 8 persen dari total wilayah DKI Jakarta.
Berdasarkan data dari BNPB, Banjir yang terjadi ini mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 18018 lainnya mengungsi. Posko pengungsian berada di 25 kelurahan di lima wilayah dimana di setiap posko pengungsian tersebut puluhan hingga ribuan orang berkumpul. Kondisi ini tentu saja merupakan kondisi yang rentan untuk terkena penyakit. Menurut ilmu epidemiologi terjadinya suatu penyakit disebabkan oleh interaksi antara agent-host-enviroment. Kondisi fisik warga yang pastinya tidak dalam kondisi yang optimal ditambah lagi dengan lingkungan (kelembabab, suhu, crowded) yang merupakan tempat ideal untuk perkembangan dan penyebaran agen penyakit merupakan “modal” yang cukup untuk terjadinya penyakit.
Artikel Global Health Impacts of Floods: Epidemiologic Evidence yang diterbitkan dalam jurnal Epidemiologic Review Vol 7 tahun 2005 menyebutkan bahwa setidaknya ada lima flood related -disease yang ditemui di seluruh dunia, yaitu cedera, penyakit berkaitan dengan fecal-oral, vektor, rodent dan kesehatan jiwa.
Cedera
Cedera terjadi karena usaha yang dilakukan oleh korban untuk menyelamatkan diri, menyelamatkan harta benda maupun dalam proses perbaikan/pembersihan akibat banjir. Lain hal-nya dengan cedera yang disebabkan oleh gempa ataupun gunung meletus, cedera yang diakibatkan oleh banjir biasanya merupakan cedera ringan dan tidak menimbulkan kematian. Terkecuali cedera yang berkaitan dengan listrik, yang menyebabkan tersetrum. Selain itu tenggelam juga merupakan salah satu kondisi yang sering dilaporkan saat banjir.
Usaha yang dilakukan oleh PLN untuk memadamkan aliran listrik perlu diapresiasi. Walaupun demikian edukasi kepada masyarakat untuk menjauhi tiang/kabel listrik yang terjatuh, menjauhi genangan air yang terkena aliran listrik dan tidak menyalakan/mematikan listrik dan menggunakan peralatan elektronik selama berada dalam lingkungan yang tergenang air perlu terus menerus dilakukan. Pada banjir yang terjadi pada awal tahun ini, kematian yang diakibatkan tersetrum listrik adalah yang paling tinggi diantara penyebab lainnya, yaitu mencapai 40% (6 dari 15 kematian).
Penyakit berkaitan dengan fecal-oral
Kondisi banjir yang menyebabkan terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik merupakan kondisi yang berpotensi untuk meningkatnya kejadian fecal-oral related disease. Hasil studi pada tahun 2004 menyebutkan bahwa kondisi banjir menyebabkan risiko kejadian demam thypoid dan parathypoid sebesar 4,52 kali dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami banjir. Begitu juga dengan kejadian diare dan Hepatitis A perlu menjadi perhatian penting dalam kondisi banjir. Hal yang perlu diperhatikan untuk pencegahan penyakit-penyakit tersebut adalah pelaksanaan Praktek Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu melakukan cuci tangan setelah kontak dengan air banjir (khususnya sebelum makan), tidak membiarkan anak-anak bermain dengan air banjir dan mainan yang sudah terkontaminasi air banjir. Sayangnya fenomena yang terjadi sekarang ini, wilayah banjir dijadikan “objek wisata” dimana anak-anak menggunakan air banjir sebagai tempat berenang. Oleh karena itu dalam pemberian bantuan, selain kebutuhan pokok seperti makanan dan pakaian, pemberian peralatan hygiene set (sabun) juga harus diberikan pada korban banjir. Edukasi kepada orang tua dan anak-anak terkait dengan penyebaran penyakit fecal-oral melalui air banjir perlu dilakukan secara simultan dengan pemberian bantuan.
Penyakit yang berkaitan dengan vektor dan binatang
Di beberapa Negara, kejadian banjir menyebabkan peningkatan kasus malaria dan filariasis. Sementara di Indonesia penyakit demam berdarah adalah penyakit yang paling diwaspadai ketika musim hujan tiba atau pasca banjir. Kejadian ini terjadi pada kondisi banjir yang tidak terlalu besar, dimana hanya berupa genangan-genangan air saja. Sementara jika kondisi banjir besar seperti yang terjadi di Jakarta menyebabkan terbawanya tempat-tempat perindukan nyamuk oleh aliran air banjir. Oleh karena itu menjaga kebersihan pasca banjir khususnya menghilangkan semua genangan-genangan air akan sangat membantu pencegahan penyebaran penyakit akibat vektor
Sementara untuk penyakit yang disebabkan oleh binantang pengerat leptospirosis merupakan penyakit yang paling banyak ditemui. Bakteri leptospira banyak ditemukan pada tikus. Penyebaran pada manusia terjadi bila urine tikus yang mengandung leptospira mengkontaminasi air dan makanan serta mengenai kulit manusia. Menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi merupakan hal utama untuk mencegah penyakit ini agar KLB Leptospirosis (195 kasus) seperti yang terjadi pada saat banjir bulan Februari 2007 tidak terjadi lagi.
Kesehatan Jiwa
Bencana alam, apapun jenisnya, akan memberikan beban yang berat bagi siapapun yang mengalaminya. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, jenis kelainan jiwa yang berhubungan yang bermakna dengan kejadian banjir adalah kecemasan, depresi, Posttraumatic Stress Syndrome (PTSD) dan kondisi yang paling berat adalah bunuh diri. Sayangnya penanganan kesehatan jiwa para korban banjir belum menjadi prioritas. Data-data terkait banyaknya korban yang mengalami gangguan jiwa (sangat ringan hingga sangat berat) belum dapat ditemukan. Mungkin dengan bencana banjir kali ini, informasi tentang kesehatan jiwa korban perlu menjadi salah satu data yang dikumpulkan dan diamati. Karena walau bagaimanapun kesehatan tidak dapat hanya dilihat dari aspek fisik saja, tetapi juga perlu memperhatikan aspek mental.
Ajeng Tias Endarti