CNN Indonesia | Selasa, 11/12/2018 05:55 WIB
Ilustrasi. (REUTERS/Johannes P. Christo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom IMF memperkirakan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2019 mendatang akan menghadapi tantangan berat. Dalam pernyataan yang dipublikasikan Minggu (9/12) kemarin mereka bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS tahun depan akan melamban jika dibandingkan tahun ini.
Kepala Ekonom IMFMauriceObstfeldmengatakan perlambatan ekonomi dipicu oleh memudarnyaefek kebijakan fiskal dan anggaran yang dijalankan oleh Pemerintahan Presiden DonaldTrump.
Obstfeldyang berbicara beberapa hari menjelang pensiunnya mengatakan perlambatan ekonomi AS pada 2019 mendatang akan semakin menjadi di 2020. "Berdasarkan data yang kami lihat, pada 2020 perlambatan ekonomi yang semakin menjadi akan terjadi. Lebih dalam melambatnya jika dibandingkan 2019," katanya seperti dikutip dari AFP, Senin (10/12).
Lihat juga: Sri Mulyani Berharap Ketegangan Dagang Segera Berakhir
IMFsebenarnya sudah merevisi turun proyeksi pertumbuhan AS pada 2019 dari 2,8 persenmenjadi tinggal 2,5 persen.Obstfeldmengatakan selain disebabkan oleh kebijakan anggaran dan fiskalTrump, perlambatan ekonomi AS juga akan mendapatkan pengaruh kebijakan perang dagang yang dikobarkan oleh AS ke China dan sejumlah negara.
Perang dagang tersebut berpotensi menghambat dan mengancam pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, perang dagang bisa merusak investasi dan proses produksi di dunia.
Obstfeldmengatakan investasi dan produksi berkaitan erat dengan perdagangan.Iabilang perlambatan tersebut akan berdampak ke AS."Dampaknya akan kembali. Itu akan mempengaruhi ekonomi AS," katanya.
Dalam kesempatan terpisah Direktur Pelaksana Bank Dunia ChristineLagardemenyesalkanperang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan sejumlah negara karena bisa menimbulkan risiko pada ekonomi dunia dan AS.
(AFP/agt)
Lihat juga: Lagarde Desak AS dan Negara Dunia Mundur dari Proteksionisme
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
LIHAT SEMUA EKOPEDIA
SAAT INI
Sidney membuka kemungkinan lone wolf mungkin terjadi lagi karena penyebaran paham radikalisme hingga perekrutan kelompok teror di media sosial.
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
TERPOPULER