Hal itu diungkapkan saat meresmikan Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/5/2019).
Jokowi mencontohkan, seperti persoalan ribuan hektar lahan produksi garam di NTT yang tidak termanfaatkan dengan maksimal. Padahal, jika masyarakat yang memanfaatkan bisa menghasilkan pendapatan sampai Rp 15 juta per bulan.
Saat ini ribuan hektar lahan garam yang dimaksud Jokowi, konsesinya masih dikuasai oleh swasta. Dirinya pun telah menginstruksikan Menteri ATR/Kepala BPN untuk membuatkan sertifikat dan diberikan langsung kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan lahan garam.
"PR kita di NTT ini banyak, saya mungkin bolak-balik ke NTT terus, ngecek, putusin," ujar dia.
Bahkan, Jokowi rela pergi jauh ke NTT demi memutuskan hal yang memang demi kepentingan masyarakat.
"Dulu mungkin presiden lima tahun ke sini sekali mungkin ya, mungkin, katanya pak gub (gubernur) tadi bisik bisik. Saya sudah nggak tahu berapa kali saya ke sini. Sudah 10 kali. Coba. 10 kali," ujar dia.
"Jauh loh ya, jangan dipikir Jakarta-NTT dekat. Nggak tahu saya ko bolak balik ke NTT. Nggak tahu saya, Begitu cintanya kepada NTT. Tapi kalau bolak balik ke NTT nggak bisa selesain masalah enggak usah ke sini ngapain, harus bisa selesaikan masalah masalah yang ada di provinsi Nusa Tenggara Timur," ungkap dia.