Manuver calon presiden petahana Partai Republik yang kalah dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika ini memicu kekhawatiran bahwa itu sebagai persiapan kudeta militer terhadap presiden terpilih Joe Biden dari Partai Demokrat.
(Baca juga : Langkah Gatot Nurmantyo Tak Hadiri Penerimaan Tanda Jasa Dinilai Tepat )
Ada juga dugaan bahwa aksi Trump ini bagian dari upaya penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan untuk mengakhiri apa yang disebut Trump sebagai perang tanpa akhir tentara Amerika di luar negeri. (Baca: Panik dengan Hasil Pilpres AS, Donald Trump Jr Serukan Perang Total )
Baca Juga:
- China Minta WHO Pertimbangkan Kemungkinan Covid-19 Berasal dari Lab di AS
- Penembakan di Pusat Perkantoran California, 4 Tewas
- Pria AS yang Hajar dan Menginjak-injak Kepala Wanita Asia 65 Tahun Ditangkap
Selain Esper, yang dipecat Trump pada hari Senin, kepala staf Esper Jennifer Stewart, pelaksana tugas (plt) kepala kebijakan James Anderson, dan wakil sekretaris intelijen Joseph Kernan juga telah disingkirkan. Mereka digantikan oleh kepala anti-teroris Dewan Keamanan Nasional (NSC) Christopher Miller, beberapa mantan asisten NSC termasuk Jenderal Anthony Tata dan Ezra Cohen-Watnick.
(Baca juga : Jangan Keburu Nafsu Beli, Ternyata iPhone 12 Dirundung Banyak Masalah )
Pembersihan dan penunjukan pejabat Pentagon yang secara luas digambarkan di media arus utama sebagai "loyalis Trump" telah menyebabkan kubu Demokrat dan neokonservatif memperingatkan bahwa kudeta militer mungkin sedang dilakukan terhadap Joe Biden, yang telah mengklaim kemenangan dalam pilpres 3 November.
Membiarkan kemungkinan bahwa Trump bisa saja bertindak karena dendam terhadap orang-orang yang tidak setia kepadanya, Michael Klare dari The Nation mencatat bahwa Miller telah terlibat dalam operasi rahasia di lingkungan perkotaan Irak dan Afghanistan dengan Pasukan Khusus AS.