1-Rumah Bubungan Tinggi (untuk raja). Foto : Komunitas Pecinta Rumah Adat Banjar
Saat ini sudah tidak ada lagi yang membangun rumah adat Banjar karena pembuatanya cukup rumit dan memakan biaya yang banyak, mengingat rumah Banjar ini terbuat dari kayu ulin yang harganya sangat mahal.
Ã¢â‚¬Å“Jika ada yang membangun rumah paling hanya sekedar berasitektur adat Banjar saja tidak lebih dari itu,Ã¢â‚¬Â kata pemerhati khusus Rumah Adat Banjar ini.
2-Rumah Gajah Baliku (untuk saudara dan anak raja)
3-Rumah Gajah Manyusu (untuk warit raja/cikal bakal pengganti raja)
4-Rumah Balai Laki (untuk para punggawa mantra atau para prajurit)
5-Rumah Balai Bini (untuk puteri raja atau warga raja yang perempuan)
6-Rumah Palimasan (untuk ulama/tokoh masyarakat)
Dari observasi Komunitas Pecinta Rumah Banjar, saat ini terdapat kurang lebih 300 rumah adat Banjar yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kalsel, tetapi setengahnya sudah tidak layak atau sudah dalam kategori rusak.
Ã¢â‚¬Å“Sebenarnya rumah adat Banjar ini terbilang sangat awet bisa bertahan lama tetapi jika ada yang menghuni, kalau kosong akan cepat rapuh dan rusak,Ã¢â‚¬Â kata Rusman Efendi,
Rusman Effendi mengatakan, Komunitas Pecinta Rumah Adat Banjar selalu berupaya mengenalkan rumah adat banjar kepada masyarakat.
Ã¢â‚¬Å“Kita selalu giat melakukan promosi khususnya di facebook, jika ada rumah yang butuh bantuan kita akan viralkan videonya hingga pemerintah akan turut membantu,Ã¢â‚¬Â ujarnya. Tidak hanya melalui sosial media dan media massa, tetapi melalui pengenalan miniatur rumah adat Banjar karena para komunitas pecinta rumah Banjar ini juga sebagai pengrajin miniatur rumah adat Banjar.
Bagi anda yang ingin mengetahui lebih banyak adat banjar yang legendaris, bisa langsung menengoknya di Teluk Selong, kurang lebih 3,2 Km dari kota Martapura. Rumah Adat Banjar Gajah Baliku dan Bubungan Tinggi. Rumah Adat ini dibangun oleh HM Arif dengan istrinya bernama Hj Fatimah pada tahun 1811 M. (asriyani)
7-Rumah Cacak Burung (untuk petani)
8-Rumah Tadah Alas (untuk rakyat biasa)
9-Rumah Anjung Surung (untuk para petani / rakyat biasa)
10-Rumah Bangun Gudang (untuk para pedagang kebanyan dari tionghoa)
11-Rumah Palimbangan (untuk para saudagar)
Reporter : Asriyani
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pasca kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan seorang teroris di Mabes Polri, membuat semua daerah memperketat pengamanan, tak terkecuali di Markas Polisi Daerah (Polda) Kalsel.
Dari pantauan Kanalkalimantan.com, untuk masuk ke kawasan Mapolda Kalsel, terlihat dijaga ketata saat ini. Diberlakukan akses satu pintu masuk ke Mapolda Kalsel, petugas bersenjata tampak ditempatkan di posko masuk. Pengunjung yang akan masuk diawasi secara ketat.
Pintu utama markas Polda Kalsel yang menghadap ke Jalan S Parman -sebelah barat-, biasa digunakan untuk keluar masuk kini ditutup. Dan dialihkan ke pintu gerbang bagian belakang yang menghadap ke Jalan DI Panjaitan atau sebelah timur, Kota Banjarmasin.
Selain itu, para pengunjung yang masuk ke Mako Polda juga akan diperiksa secara ketat, oleh para petugas yang berjaga dengan menggunakan atribut lengkap.
Kombes Pol Mochamad Rifa’i, Kabid Humad Polda Kalsel, kepada Kanalkalimantan.com mengatakan, kejadian-kejadian aksi teror itu, memang menjadi sorotan dan peringatan untuk seluruh wilayah.
“Kalau untuk pengamanan sendiri, itu sudah rutin kita lakukan jauh sebelum kejadian-kejadian tersebut,” ujar Kombes Pol Mochamad Rifa’i, kepada Kanalkalimantan.com, Kamis (1/4/2021) siang.
Dr. Birute Mary Galdikas bersama beberapa orangutan di Kalimantan (foto: courtesy).
KANALKALIMANTAN.COM, TANJUNG PUTING – Dikenal dengan bulu oranyenya yang khas, orangutan adalah mamalia terbesar yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan. Orangutan memiliki 96,4% gen manusia dan merupakan makhluk yang sangat cerdas. Namun keberadaan mereka kini terancam, karena 80% dari populasinya musnah. Itulah sebabnya, Orangutan Foundation International (OFI) dibentuk sejak tahun 1986 di Amerika.
Hanya dua negara di dunia memiliki orangutan, yaitu Malaysia dan Indonesia dengan populasi 10% di Malaysia dan 90% di Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera.
Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan (foto: Wikipedia).
Setelah Orangutan Foundation International (OFI) dibentuk 1986 di Amerika, sepuluh tahun kemudian didirikan di Indonesia, tepatnya di Pangkalan Bun, di dekat Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, oleh seorang perempuan yang sangat peduli akan keselamatan dan pelestarian orangutan.
Doktor Birute Mary Galdikas, 74 tahun, pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 1971, setelah selama 6 bulan mempelajari orangutan tanpa henti, di kebun binatang Los Angeles. Perempuan kelahiran Jerman, namun warganegara Indonesia yang akrab disapa dengan “Bu Birute” itu menceritakan kepada VOA:
“Saya tiba di Indonesia tahun 1971, artinya pada bulan November tahun ini adalah hari jadi ke-50 tahun, saya di Indonesia dalam menyelidiki dan melindungi orangutan serta hutan mereka.”
Birute (kanan) bersama orangutan yang berhasil diselamatkan (foto courtesy: OFI).
Meskipun ia menyukai binatang lain, namun ada sesuatu yang membuatnya sangat dekat dengan orangutan.
“Kalau kita mengamati mata orangutan, mata mereka persis seperti mata manusia. Mata orangutan hampir semua punya iris (lingkaran di bola mata) yang coklat dan di keliling iris warnanya putih seperti manusia. Juga kalau orangutan melihat kita, sepertinya mereka paham dan tertarik pada jiwa kita juga,” tukas Birute.
Pimpin Yayasan Orangutan dan Menikah dengan Pria Dayak
Perempuan yang telah menikah selama 40 tahun dengan pria Dayak ini menjadi Presiden dan pendiri yayasan nirlabanya itu. Ia mempunyai 230 karyawan yang sebagian besar penduduk asli Dayak. Selain karyawan tetap, terdapat pula beberapa relawan. Salah seorang di antaranya, Yan Wiramidjaja, diaspora Indonesia yang tinggal di AS.
Yan Wiramidjaja bersama orangutan di Kalimantan (foto: courtesy).
Yan, 57 tahun, semula adalah mahasiswa Birute ketika ia kuliah di UNAS (Universitas Nasional) Jakarta. Yan yang telah tinggal di AS selama 26 tahun itu merasa tergugah untuk menjadi relawan di Tanjung Puting, tempat mantan dosennya, Birute Galdikas mengabdikan dirinya untuk melestarikan orangutan.
“Saya kan memang pernah menjadi mahasiswa bu Galdikas. Saya membiayai sendiri untuk menjadi relawan. Saya orang Indonesia-Amerika, banyak orang Indonesia berpikir: ‘wah enak ya jadi relawan, pasti dibayar banyak. Tidak sama sekali, saya dianggap sebagai relawan orang Amerika.”
Indonesia sangat beruntung memiliki seorang Birute Galdikas yang pengabdiaannya sangat besar kepada orangutan dan hutan terutama di Kalimantan.
Dr. Birute Galdikas bersama beberapa karyawannya (foto courtesy: OFI).
Yayasan Orangutannya memiliki Pusat Perawatan atau Care Center orangutan yang menangani berbagai kasus, seperti orangutan yang terkena konflik dengan man usia, maupun bayi orangutan yang kehilangan induknya. Di sana terdapat empat dokter hewan. Relawan seperti Yan menangani berbagai pekerjaan, dari ikut membersihkan kandang, memberi makan dan ur usan lain.
“Tugas saya sih datang mengontrol, bagaimana kebersihan kandang, karena saya sudah tahu orangutan , jadi 75% saya di Care Center, di tempat karantina. Sekarang ini berubah perilaku orangutan karena sudah terlalu lama di kandang. Jadi kalau mangga dikupas kadang tidak dimakan, terbuang. Lain kalau kita kupaskan dan dipotong-potong. Harus bisa kreatif dalam mengerjakan ini, jadi harus diatur bagaimana agar mereka suka sehingga tidak terbuang”.
Bayi orangutan bernama Vida yang kehilangan induknya (foto courtesy: OFI).
Hutan Kalimantan yang luas menjadi habitat yang baik bagi orangutan. Tak heran jika Birute juga ikut melestarikan hutan di Kalimantan dengan menanam berbagai pohon.
“Kami menanam pohon asli, memulai menanam bibit sejak tahun 2017. Sejak itu sudah menanam 375.000 bibit sampai akhir tahun 2020. Memang waktu pandemik agak susah, karena orang tidak mau keluar dari desa,” ujar Birute.
Doktor Birute Galdikas yang pernah mengikuti konferensi orangutan di Serawak mengatakan, hanya terdapat 2.000 orangutan liar di sana. Karena di Malaysia, mereka punya hak untuk memiliki senjata secara sah, dan mereka suka membunuh orangutan. Sedangkan Indonesia mempunyai lebih banyak orangutan.
“Sekarang di Taman Nasional Tanjung Puting dan sekitarnya, ada sekitar 5.000 orangutan liar dan Tanjung Puting adalah tempat di seluruh dunia yang mempunyai paling banyak orangutan,” ungkapnya.
Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah (foto: Wikipedia).
Memang Taman Nasional Tanjung Puting sangat terkenal sebagai obyek wisata alam dan pendidikan, seperti dijelaskan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah, Dr. Guntur Talajan.
“Jadi gaya hidup liar orangutan yang bebas di hutan itu yang ditonton, dilihat, diteliti, bahkan menjadi obyek pendidikan baik bagi wisatawan maupun kalangan akademis, terutama untuk manca negara Eropa,” ujar Guntur.
Sekarang ini Doktor Birute Galdikas sedang berada di Los Angeles, California, sambil menunggu untuk bisa kembali ke Kalimantan setelah pandemi covid berlalu.
Peringatan 50 tahun pengabdiannya untuk pelestarian orangutan sejak tahun 1971 tepatnya bulan November nanti, ingin ia peringati dalam acara Gala di Kalimantan. (ps/em)