William PSI: Jangan sampai saya dibui kayak Ahok
Ia menghadapi serangkaian intimidasi dan mengaku terlalu muda untuk tahu betapa kelamnya dunia politik.
Episode lem Aibon dan William belum usai. Belakangan, William justru divonis bersalah oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD karena dianggap melanggar tata tertib dan bersikap tak proporsional.
William dikenai sanksi teguran, lantaran mengunggah anggaran lem Aibon pada akun @willsarana sebulan lalu. Tagar William PSI divonis bersalah pun sempat jadi topik populer di Twitter. “Saya ikhlas kalau keputusannya begitu (vonis BK),” ujar senator termuda DPRD DKI Jakarta ini.
Sejak unggahan Aibon itu William memang jadi populer dan terus tebar pesona. Ia kerap tampil di media dan dianggap heroik atau cari panggung, tergantung sudut pandang Anda. Satu hal yang pasti: pria berusia 23 ini tak mau dipandang sebelah mata.
“Makanya gue tumbuhin berewok. Biar dikira sudah tua oleh senior-senior ha-ha,” kelakar William saat ditemui Heru Triyono dan Wisnu Agung di ruang kerjanya di Gedung DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa siang (26/11/2019).
Sebenarnya nama William sudah mencuat sejak menggugat Gubernur Anies Baswedan soal penutupan trotoar Tanah Abang. Tapi, ia terlalu sibuk untuk terus muncul di publik karena harus menyelesaikan gelar hukumnya di Universitas Indonesia (UI).
Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang moderat. Ibunya bekerja di rumah dan ayahnya adalah advokat. “Saya besar di Kalideres. Makanya menang pas nyaleg di sana,” tutur pemilik nama tulen William Aditya Sarana ini.
Siang itu, William baru selesai rapat anggaran. Ia tampak kuyu. Wajahnya yang putih, jadi merah jambu. “Capek pikiran bos he-he."
Selama satu jam kami bertukar tanya jawab perihal ideologi politiknya dan juga persamaan Gotham City dan Jakarta. Berikut perbincangannya:
Ada yang menganggap Anda sentimen terhadap Anies Baswedan, bahkan tak segan menyebutnya gubernur amatiran…
Saya mengkritik kebijakan yang gubernur buat. Tidak pernah personal. Pak Anies kan pejabat publik, ya pasti dikritik. Apalagi saya anggota DPRD yang disumpah untuk kritis.
Kritik itu dinilai sebagian pihak memberikan opini negatif terhadap Anies. Bagaimana?
Saya semata-mata menjalankan tugas sebagai anggota DPRD untuk mengawal pemerintahan Jakarta, termasuk mengawal anggaran.
Anda merasa kritik itu proporsional?
Apa yang saya lakukan proporsional. Ini sudah jelang pengetokan anggaran, kurang beberapa hari, tapi publik enggak tahu uangnya untuk apa.
Jadi, ketika saya buka ke publik, ya proporsional. Karena yang saya buka itu bukan uangnya gubernur, tapi uang publik. Masa proses penganggaran yang merupakan uang rakyat ditutup-tutupi.
Memangnya apa yang ditutupi, menurut pihak Pemprov DKI dokumen itu kan belum final?
Jika publik menemukan lem Aibon itu setelah ketok palu kan gak bisa ngapa-ngapain. Bagaimana? Harus dikoreksi.
Sistemnya juga sudah bagus, tinggal political will dari gubernurnya saja untuk gunakan sistem itu dengan baik.
Bagaimana sikap Anda ketika dapat sanksi dari Badan Kehormatan DPRD, padahal melaksanakan tugas sebagai dewan?
Kalau saya dapat sanksi teguran, ya saya melihatnya sebagai demokrasi. Enggak bisa saya membuat semua orang setuju sama saya. Konstituen kita kan beda-beda.
Anda menerima sanksi itu?
Sudah risiko perjuangan. Yang jelas, prinsip saya adalah tetap melaksanakan prinsip transparansi. Meski yang setuju dua orang saja, saya tetap jalankan prinsip itu.
Oke. Biar berimbang, kenapa anggaran janggal pada zaman Ahok tidak Anda munculkan juga, sebagai komparasi misalnya?
Aneh. Kenapa? Ketika itu saya bukan anggota DPRD. Kalau saat itu saya dewan, saya akan kritisi. Mau itu Pak Ahok atau Pak Jokowi, kalau mereka tidak transparan, saya kritisi.
Tapi ada yang janggal juga kan pada zaman Ahok?
Saya tidak menutupi ada temuan-temuan juga pada zaman itu. Tapi dengan adanya sistem e-budgeting, kan bisa meminimalisir kejanggalan itu.
Kejahatan kan terjadi di ruang gelap. Nah, sistem ini yang bisa bantu untuk menyisir anggaran yang aneh-aneh.
Soal proses penganggaran ini Anda berkomunikasi juga sama Anies?
Saya beberapa kali bertemu, tapi di acara formal. Biasa saja, salaman. Nothing personal. Saya belum pernah dialog non formal dengan Pak Anies. Justru saya mau ketemu sama beliau.
Setelah kasus lem Aibon mencuat, apakah Anda merasa menjadi public enemy di DPRD DKI Jakarta?
Saya terima kritikan dari senior-senior soal ini. Saya banyak belajar. Tapi soal prinsip transparansi, meritokrasi dan antikorupsi, saya enggak bisa tolerir. Mau itu ditegur, dimaki, kalau soal prinsip, saya tidak akan goyah.
Anda memegang prinsip transparansi itu. Sekarang berani gak buka kepada publik gaji Anda berapa dan dapat dana dari siapa saja ketika kampanye?
Gaji saya Rp98 juta, hampir menyentuh Rp100 juta per bulan. Dana untuk kampanye saya itu sekitar Rp600 juta. Ini murni ongkos politik, seperti cetak spanduk dan mengumpulkan warga. Saya enggak bagi-bagi sembako dan amplop.
Balik modal?
Hitung saja. Biaya saya enggak sampai Rp1 miliar. Anggota DPRD lain itu bisa Rp5 miliar, bahkan Rp10 miliar.
Kalau pakai angka Rp98 juta tadi, saya sih enggak rugi. Sebab, enggak ada juga uang mahar atau beli nomor urut di PSI. Cukup banget gaji segitu.
Sebenarnya apa yang mendorong Anda menjadi anggota DPRD?
Sudah lama saya terpanggil. Sejak SMA saya rutin baca koran dan melihat bagaimana kondisi politik kita. Ketika ada kesamaan DNA dengan PSI, ya saya maju. Selama satu tahun saya menyusun skripsi sambil nyaleg.
Bagaimana dengan labeling double minority terhadap Anda?
Di politik praktis itu saya bukan double minority, tapi triple minority. Saya Cina, Kristen dan muda he-he. Saya pernah mengalami orang enggan salaman sama saya saat kampanye. Itu biasa.
Anda kan blak-blakan dan kritis. Apakah ada ketakutan nasib Anda seperti Ahok di dunia politik?
Pasti ada. Ketika orang ingin ubah sistem, pasti ada perlawanan. Saya sih berharap enggak sampai kayak Ahok. Jangan sampai saya dibui juga. Ahok kan keras sekali.
Sikap partai Anda soal kasus lem Aibon ini bagaimana?
Mereka mendukung abis ya. Karena saat saya publikasi di sosmed, kan atas kesepakatan fraksi PSI juga.
Isu lem Aibon ini sudah masuk hitung-hitungan politik PSI lah ya?
Sebenarnya enggak sangka isunya sampai tiga minggu, bahkan sampai sekarang. Paling tidak, warga jadi tahu untuk apa uangnya digunakan. Warga juga jadi teredukasi kan soal anggaran.
Jadi hidup Anda berubah karena lem Aibon ya?
Ya. Hidup saya sekarang itu ada rangkaian intimidasi, undangan televisi, ada juga yang minta foto dan nomor HP.
Tapi kehidupan pribadi memang agak terganggu. Apalagi nomor HP, akun media sosial saya diserahkan ke KPK semua. Ini kebijakan DPW PSI Jakarta. Benar-benar ketat.
Lho, bagaimana kalau mau berkomunikasi secara intim, dengan keluarga atau pacar misalnya?
Jadi takut-takut. Tapi ya biasa. Ini sudah konsekuensi.
"Sekarang saya jadi tahu arti sebenarnya ignorance is bliss." William Aditya Sarana
Seperti tidak menikmati masa muda ya?
Sebenarnya saya merasa masa muda saya hilang. Karena di umur saya harusnya masih cari jati diri.
Tapi, saya kayak terlalu cepat tahu borok-boroknya politik di balik layar. Harusnya saya tahu di usia 40-an gitu. Ini jadi beban pikiran.
Pesimis?
Bagaimana ya. Saya jadi tahu arti sebenarnya ignorance is bliss. Celakanya kita enggak bisa melakukan apa-apa terhadap borok itu.
Boroknya kayak apa dan apa yang paling jadi beban pikiran Anda?
Kita tahu siapa yang bermain. Namanya, bahkan juga partainya. Dalam politik, kita enggak bisa buka. Ini yang membuat idealisme saya agak terganggu.
Saya kan masih muda, berapi-api, tapi harus belajar kapan harus perang, memilih musuh, memilih waktu dan bagaimana caranya.
Selama ini Anda menahan?
Banyak menahan. Kepikiran terus, jadi stres. Makan gue jadi banyak. Berat badan juga naik 10 kilogram. Asam urat kambuh ha-ha.
Tapi gue bisa tetap nonton bioskop pas weekend. Termasuk nonton film Joker.
Apa yang Anda bayangkan. Ada kesamaan kondisi Gotham City dan Jakarta?
Persis. Sama-sama ada ketimpangan sosial dan ada oligarki. Kalau di Gotham ada The Wayne Family, di sini itu ada ha-ha-ha. Tahu lah.
Jeffrey A Winters (pakar politik dan Indonesianis) kan pernah bilang oligarki kita itu terlalu serakah. Cara mengalahkan oligarki itu ya dengan kekuatan masyarakat atau menjadi oligarki lain--dengan merombak sistem yang ada. Ini yang saya mau lakukan.
Btw apa alasan Anda membiarkan jenggot dan kumis Anda tumbuh?
Ini personal branding saja. Banyak yang anggap saya anak-anak soalnya ha-ha.