Politisi Hanura Bongkar Sekenario Uni Eropa Dibalik Pembubaran FPI, Peran Diplomat Ini Jadi Petunjuk
Politisi Hanura curiga ada skenario Uni Eropa yang terkait dengan keputusan pemerintah Indonesia hingga akhirnya berdampak pada FPI dibubarkan.
Politisi Hanura Bongkar Sekenario Uni Eropa Dibalik Pembubaran FPI, Peran Diplomat Ini Jadi Petunjuk
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Politisi Hanura menduga ada alasan lain dibalik pembubaran Front Pembela Islam (FPI).
Inas Nasrullah Zubir menyinggung adanya skenario Uni Eropa yang terkait dengan keputusan pemerintah Indonesia hingga akhirnya berdampak pada FPI sebagai ormas terlarang.
Inas mengatakan alasan kedatangan diplomat Jerman ke markas FPI beberapa waktu lalu untuk mengetahui rute demo FPI haruslah dipertanyakan.
Menurutnya, kedatangan mereka terkait adanya skenario besar yang diduga direncanakan Uni Eropa perihal pelarangan ekspor bijih nikel.
"Sangat naif jika kita percaya penjelasan Kedubes Jerman tersebut. Sebenarnya ada skenario besar yang bisa saja sedang di-create oleh Uni Eropa, yang berkaitan dengan keputusan Pemerintah Indonesia pada tanggal 30 Agustus 2019, tentang larangan ekspor bijih nikel yang dipercepat dua tahun dan mulai berlaku pada 1 Januari 2020," ujar Inas, ketika dihubungi, Jumat (1/1/2021).
Baca juga: Heboh Video FPI Dukung ISIS, Aziz Yanuar Buru-buru Jelaskan Isi Ceramah Habib Rizieq: Apa Salah FPI?
Baca juga: Masa Lalu Mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok Dibongkar Setelah Kasus Ini Panas, Mahfud MD Ikut Disebut
Baca juga: Rizieq Shihab Sengsara di Penjara Sampai Tolak Lakukan Ini, FPI Bubar Muncul Ini Gantinya
Baca juga: Petamburan Mendadak Dijaga Ketat TNI Polri, Kapolsek Buka Suara, Begini Kondisinya Pasca FPI Bubar
Inas mengatakan keputusan pemerintahan Jokowi ini berdampak sangat luas kepada industri baja Uni Eropa. Sehingga tidak heran jika Uni Eropa memperkarakan Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.
Perlu diketahui bahwa Indonesia memproduksi sekitar 27 persen dari pasokan nikel global, sehingga keputusan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia tentang larangan ekspor bijih mentah tersebut telah berkontribusi pada kenaikan harga nikel.
"Terjadi kenaikan harga nikel dari sekitar USD 12.000 per ton, lalu beranjak naik terus hingga hari ini sekitar USD 16.975 per ton. Bahkan diperkirakan akan mencapai harga USD 20.000 per ton pada tahun 2021," kata dia.
Jerman sendiri, kata Inas, adalah salah satu negara penghasil baja terbesar di Uni Eropa selain Inggris. Kekosongan supply nikel dari Indonesia mau tak mau harus segera ditutupi.
Politisi Hanura
Inas Nasrullah Zubir
Uni Eropa
Diplomat Jerman
industri baja
ekspor biji nikel
China
Pemerintah Indonesia
Presiden Jokowi
Tribun Jambi
Tribunjambi.com
Markas FPI
Front Pembela Islam
|Teh Ninih Diduga Terguncang Dipoligami Aa Gym Hingga Temui Psikolog Untuk Konsultasi|
|Bermodalkan Bambu Petuk, Pria ini Berhasil Raup Uang Hingga Rp 107 Juta|
|Markas Dikuasai TNI/POLRI Ternyata KKB Papua Pimpinan Eganus Kogoya Melarikan Diri|
|Puisi Perempuan yang Suaminya Direbut Pelakor: Anakku Dipelihara Wanita yang Merusak Hidupku|
|Tangisan Mantan Istri Pimpinan Bank Melihat Putrinya Meninggal Usai Suami Direbut Pelakor|