Kronologi, Gorontalo – Raja Ilato merupakan tokoh legendaris dan penyebar agama islam di Gorontalo. Karena kebesaran namanya, makam Raja Ilato yang terletak di Jalan Usman Isa, Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo pun kini menjadi salah satu situs sejarah yang sering dikunjungi oleh masyarakat maupun wisatawan.
Karena penasaran, reporter Kronologi.id mendatangi dan mencoba mengetahui lebih jauh tentang makam raja yang dikenal sebagai salah satu wali tersebut.
Perjalanan sejauh tujuh kilometer dari pusat Kota Gorontalo harus ditempuh untuk menuju makam Raja Ilato. Begitu tiba, pengunjung akan disambut papan nama yang bertuliskan Makam Raja Ilato Ju Panggola.
Makam itu berada di puncak bukit. setiap pengunjung yang datang, harus melewati 100 anak tangga untuk sampai ke masjid, tempat Raja Ilato Ju Panggola dimakamkan.
Menurut Ketua Badan Pengelola Lembaga Pariwisata Banthayo Pobo’ide, Farhan Daulima, nama Ju Panggola yang diberikan kepada Raja Ilato merupakan sebuah julukan dalam bahasa Gorontalo.
“Ju berarti ya, sedangkan Panggola berarti tua. Julukan itu diberikan kepada orang yang lebih tua. Panggilan itu memiliki arti sebagai ya orang tua. Jadi Ju Panggola sesungguhnya adalah gelar, artinya tokoh yang dituakan,” kata Farhan kepada reporter Kronologi.id, Sabtu (7/9/2019).
Farhan melanjutkan, Raja Ilato disebut sebagai Ju Panggola karena selalu muncul sebagai sosok orang tua yang berjenggot panjang dan mengenakan jubah putih pada masanya.
“Pada masa penyebaran Islam 1500 M, Raja Ilato sudah menjajaki Negeri Gorontalo. Dan dia dikenal sebagai orang yang berpengaruh pada kerajaan yang ada di Gorontalo,” lanjutnya.
Dia mengungkapkan, Raja Ilato Ju Panggola dikenal oleh masyarakat sebagai aulia atau wali yang mempunyai sejarah dalam penyebaran Islam di Gorontalo.
“Kata Ilato berarti kilat. Ju Panggola diyakini punya keistimewaan, salah satunya mampu menghilang dari pandangan manusia dan dapat muncul seketika jika Negeri Gorontalo dalam keadaan genting. Kesaktian ini muncul dalam sejarah lisan dalam kisah perjuangan melawan Belanda,” jelasnya.
Dalam sejarah, ungkap Farhan, Ju Panggola meninggalkan ilmu yang diterapkan lewat bela diri yang dikenal oleh masyarakat Gorontalo dengan sebutan Langga.
“Di masa hidupnya, Ju Panggola mewariskan ilmu itu kepada murid-muridnya dengan cara meneteskan air pada mata mereka. Setelah itu sang murid akan menguasai ilmu bela diri tersebut melalui mimpi ataupun bergerak sendiri,” ujar dia.
Farhan mengatakan, Raja Ilato memiliki jasa terhadap perjuangan rakyat Gorontalo. Dengan bela diri yang dimilikinya, Raja Ilato mampu menyelamatkan rakyat Gorontalo dari ancaman Belanda.
“Dia juga diberi gelar Ta Lo’o Baya Lipu atau orang yang berjasa kepada rakyat, sebagai lambang kehormatan dan keluhuran negeri,” katanya.
Meski begitu, menurut Farhan, banyak cerita rakyat yang tidak dapat dipastikan bahwa Ju Panggola adalah seorang raja. Sebagian orang, lanjut dia, mempercayainya sebagai putra dari Raja Amai yang memerintah di Kerajaan Gorontalo pada 1550-1585.
Pada masa kepemimpinannya, Raja Amai menetapkan Islam sebagai agama yang patut dianut di dalam Kerajaan Gorontalo.
Farhan menjelaskan, banyak warga yang tinggal di sekitar makam mempercayai bahwa Raja Ilato tidak wafat, melainkan raib atau menghilang secara gaib. Adapun makam yang kini dijadikan tempat berziarah oleh masyarakat setempat, diyakini hanya karena keajaiban di tanah tersebut.
“Sebab, menurut cerita orang tua dahulu, Ju Panggola pernah berwasiat, di mana ada bau harum dan tanahnya berwarna putih, maka di situlah aku. Dengan pesan itu, warga setempat menganggap di sanalah ia beristirahat panjang,” jelasnya.
Masyarakat senduri membangun sebuah masjid kubah di makam keramat Ju Panggola, yang berada di perbukitan dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dari jalan raya. Hal itu dilakukan untuk mengenang peristiwa bersejarah dari Ilato Ju Puanggola.
“Saat masjid itu dibangun oleh masyarakat setempat. Tidak ada jasad yang ditemukan. Tapi masyarakat tetap berpedoman pada wasiat Ju Panggola,” ujar Jumiati, warga sekitar makam.
Dalam penelusuruan reporter Kronologi.id, makam keramat tersebut berada di sebuah bilik berukuran 3×3 meter, dan dihiasi dengan kelambu putih sebagai penutup dinding. Adapun tanah putih di sekitar makam itu sendiri hingga kini menebarkan bau harum.
Munai Ismail, penjaga makam Raja Ilato Ju Panggola, mengatakan, masyarakat setempat meyakini tanah itu mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, terhindar dari santet dan meperlancar rezeki. Keyakinan itu yang membuat banyak penziarah datang untuk mengambil tanah tersebut.
“Banyak juga yang salat dan memohon kesembuhan dari penyakit. Tapi banyak juga orang kurang mempercayai hal itu karena takut syirik,” katanya.
Kisah Ju Panggola memang diwarnai dengan beragam mitos. Sehingga, ungkap Farhan, makam keramat Raja Ilato Ju Panggola ramai dikunjungi peziarah dari luar daerah maupun lokal saat bulan Ramadan tiba.
“Sejak bulan Rajab dan Syaban, terus menjadi lokasi tujuan peziarah dari penjuru Gorontalo. Bahkan hampir setiap hari ada peziarah. Warga berziarah ke makam ini bersama dengan keluarga,” ungkap dia.
Tak hanya jelang Ramadan, makam Raja Ilato juga ramai dikunjungi setiap tiap Kamis dan Jumat.
“Biasanya hari Jumat banyak orang yang menghabiskan waktunya di tempat ini untuk salat dan berdoa,” tutupnya.
Penulis: Sarjan Lahai Editor : Zulhamdi
Discussion about this post