Usulan Trump itu disampaikan saat bertemu dengan korban selamat, guru, dan keluarga korban, serangan pembantaian massal pada 14 Februari lalu di Gedung Putih. Dia berjanji kalau insiden serupa seharusnya tidak terjadi kembali. Trump menyerukan agar semua guru dipersenjatai dengan senjata api. "Jika kamu memiliki guru yang memiliki senjata api, mereka akan mengakhiri serangan itu dengan sangat cepat," kata Trump dilansir Reuters.
Dia mengakui rencana itu memang kontroversial. "Ketika guru memiliki senjata secara tersembunyi, mereka harus mengikuti pelatihan khusus dan tidak akan ada lagi zona bebas senjata," kata Trump.
Dia menjelaskan, kalau zona bebas senjata, bagi para maniak yang mereka semua pengecut merupakan daerah di mana mereka akan mudah masuk dan menyerang. Kemudian Presiden dari Partai Republik itu juga mendukung seruan memperketat proses pengecekan latar belakang pembeli senjata.
Baca Juga:
"Kita akan melakukan upaya pengecekan latar belakang (pembeli senjata) dengan sangat ketat dan menekankan kesehatan mental seseorang," ungkap Trump di depan siswa Sekolah Menengah Marjory Stoneman yang disiarkan langsung di televisi pada Rabu (21/2/2018) waktu setempat. Presiden Trump juga memegang catatan pada sesi mendengarkan tersebut. "Saya tidak akan banyak bicara seperti yang dulu," paparnya.
Sebenarnya usul Trump agar guru bisa membawa senjata bukan hal baru. Sejumlah negara bagian AS sudah mengizinkan pistol dibawa tersembunyi ke tempat kuliah. Namun, negara bagian Florida tidak termasuk. Pada kampanye pemilihan presiden 2016, Trump menyangkal bahwa dia mendukung diizinkannya membawa senjata di ruang kelas.
Usulan Trump didukung beberapa orang yang hadir di Gedung Putih tersebut. Forum juga mendukung reformasi kepemilikan senjata yang disampaikan sekitar 40 siswa, guru, dan keluarga. Namun, Mark Barden yang anaknya Daniel terbunuh dalam penembakan di Sandy Hook Elementary School di Connecticut 2012 mengatakan, penggunaan senjata bukan jawaban.
"Guru sekolah sudah memikul begitu banyak tanggung jawab saat ini. Berat kalau harus pula mengemban tanggung jawab luar biasa untuk memegang senjata yang bisa mengakhiri hidup orang," katanya dilansir BBC.