Tentulah untuk mencetak SDM yang unggul harus didahului dengan menciptakan SDM yang sehat dan kuat. Pemerintahan Joko Widodo memang sudah berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting yang di tahun 2018 lalu masih berada di 30,8 persen.
Upaya penurunan angka prevalensi stunting ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga turut andil dalam mencegah stunting. Salah satunya adalah pemerintah daerah (pemda) Boalemo yang berhasil menurunkan angka stunting di kabupatennya.
Dalam waktu tiga tahun saja, kabupaten di Gorontalo ini bisa memangkas persentase prevalensi stunting di daerahnya hingga 26 persen, dari pada tahun 2015 yang mencapai 50,2 persen lalu turun drastis di tahun 2018 lalu, dimana hanya sekitar 24,2 persen.
Baca Juga:
Tentu ini adalah sebuah prestasi membanggakan bagi Kabupaten Boalemo. Angka prevalensi stunting di daerah yang termasuk dalam 100 kabupaten prioritas pencegahan stunting di tahun 2018 tersebut berada dibawah persentase stunting nasional di tahun 2018 yang mencapai 30,8 persen.
“Masalah stunting bukan masalah kesehatan semata, tapi masalah yang sifatnya multi faktor dan menjadi tanggung jawab kita semua,” ujar Asisten Daerah (Asda) 2 Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Kabupaten Boalemo, Mus Moha, saat ditemui di Boalemo, Kamis (5/9/2019) pekan lalu.
Berbagai cara dilakukan oleh pemda Boalemo untuk menurunkan angka stunting di daerahnya. Kabupaten ini memiliki Peraturan Bupati (PERBUP) tentang pencegahan stunting termasuk Dokumen rencana Aksi Stunting bagi setiap Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD).
“Setiap intervensi SOPD tentang stunting harus memperhatikan desa lokus stunting, sehingga penerima manfaat program pencegahan stunting bisa tepat sasaran,” ujarnya.