Festival Nasi Aron Tengger Lestarikan Budaya Lokal
TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Warga Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sangat kaya dengan tradisi turun temurun. Salah satunya adalah Nasi Aron, merupakan makanan khas warga Tengger. Paduan lembutnya bulir jagung dan sambal yang pedas, menjadi ciri khas masakan tradisional ini. Festival pun digelar untuk mengenalkan kudapan tradisional itu ke masyarakat luas.
Dalam festival yang digelar di SMK Pariwisata, di Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura itu, diikuti oleh pelajar dari wilayah Probolinggo dan sekitarnya. Tujuannya adalah mengenalkan olahan Nasi Aron ke generasi muda.
“Festival kami gelar untuk terus melestarikan budaya nenek moyang. Bukan berarti tradisi makan Nasi Aron ini mulai punah, tapi masih terus eksis di masyarakat Tengger hingga saat ini. Melalui festival ini kami harap ada respon positif ketika masyarakat luas mengetahuinya,” kata panitia festival, Siswandi, Rabu (26/9/2018).
Untuk mengolah Nasi Aron sendiri, sangat mudah. Semula balok Aron yang masih kering dihaluskan, lalu Aron yang sudah siap itu ditanak. Layaknya menanak nasi seperi pada umumnya. Setelah masak, Nasi Aron yang sudah jadi dihias sesuai selera. Dengan berbagai macam lauk pauk. Mulai dari ikan asin, sayuran, telur, tahu dan tempe. Yang menjadi ciri khas dalam olahan Nasi Aron ini adalah sambal yang menjadi pendamping Nasi Aron.
“Kalau makan Nasi Aron ini harus pedas sekali sambalnya. Untuk menghangatkan badan, kan udara di sekitar Tengger ini dingin,” ujar salah satu peserta, Dewi Shita Aprilia. Citarasa sambal yang pedas itu, berfungsi untuk memberikan rasa hangat pada tubuh serta mengusir hawa dingin.
Sebagai pelengkap, biasanya warga setempat juga menambahkan mlandingan. Yakni sejenis petai, namun hanya bisa ditemukan di kawasan lereng Gunung Bromo. Serta sayuran yang telah direbus, atau lazim disebut kulupan oleh warga setempat.
Nasi Aron ini, bahan utamanya ada jagung putih yang dihaluskan. Jika dibandingkan dengan nasi jagung seperti pada umumnya, Nasi Aron lebih gurih dan lembut. Teksturnya pun lebih kecil dibandingkan dengan nasi jagung. Dahulu kala, warga asli Suku Tengger menggunakan Nasi Aron sebagai bahan makanan utama. Hal itu karena kawasan lereng Gunung Bromo tidak ada atau jarang tanaman padi. Di dataran tersebut, hanya ada jagung.
Saat ini, walaupun peredaran beras sudah merata, penduduk setempat tetap tidak berubah. Nasi Aron masih menjadi primadona masyarakat Suku Tengger, untuk santapan sehari hari. Tertarik untuk mencobanya, silakan datang langsung ke kawasan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebelum atau sesudah melihat indahnya Gunung Bromo. (*)
|Sumber||: TIMES Probolinggo|
|Publisher||: Lucky Setyo Hendrawan|