Pemimpin kelompok militan Islam Jemaah Islamiyah (JI) Ustad Arif, ditahan polisi bersama dengan pembuat bom papan atas kelompok itu, Upik Lawanga. JI berada di balik serangan teror Bali yang menewaskan 202 orang, termasuk 11 warga Hong Kong, dan belakangan ini membangun kepentingan bisnisnya untuk membiayai kegiatannya.
Pemimpin Jemaah Islamiah (JI) yang terkait dengan al-Qaeda, kelompok di balik pemboman Bali yang menghancurkan, telah ditangkap di Indonesia bersama dengan salah satu ahli pembuat bom dari kelompok itu, kata sumber keamanan senior kepada This Week in Asia pada Kamis (10/12).
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Bom Bali 2005
JI berada di balik semua serangan teror paling mematikan di Indonesia dari 1998 hingga 2010, sebelum dilemahkan oleh polisi kontraterorisme Indonesia, yang menangkap ratusan anggotanya selama periode tersebut, termasuk beberapa pemimpin. Namun jaringan tersebut kembali bangkit belakangan ini, mengakumulasi kepentingan bisnis di perkebunan kelapa sawit serta industri pertambangan untuk menggerakan aktivitasnya.
Sumber keamanan mengidentifikasi pemimpin itu sebagai Ustad Arif, mengatakan dia telah ditangkap oleh polisi sekitar dua bulan lalu.
Arif (54 tahun), berasal dari Klaten, Jawa Tengah, dan memiliki pengetahuan Islam yang dalam, menurut sumber itu.
“Dia pandai mengelola jaringan JI yang luas dan sangat dihormati oleh semua anggota JI,” tutur sumber itu, yang berbicara tanpa menyebut nama karena dia tidak berwenang untuk berbicara dengan media, dikutip South China Morning Post.
Arif memimpin JI hanya delapan bulan sebelum dia ditangkap, sambung sumber itu. Dia adalah pemimpin JI kedua yang ditangkap dalam dua tahun terakhir.
Sumber keamanan mengatakan, JI akan “membutuhkan waktu untuk menemukan sosok” untuk mengambil alih kepemimpinan kelompok tersebut.
“Untuk sementara JI akan terus beroperasi. JI masih sangat kuat, tetapi masih perlu melakukan konsolidasi karena banyak pemimpin mereka telah ditangkap,” ungkap sumber itu.
Dia mengatakan, pasukan kontraterorisme polisi Indonesia, Densus 88, tidak pernah berhenti memantau atau melakukan operasi terhadap JI selama ini, meskipun profilnya lebih rendah.
Muhamad Taufiqurrohman, peneliti senior di Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi yang berbasis di Jakarta, mengatakan dia memperkirakan JI sekarang akan bersembunyi sampai memilih pemimpin baru.
Pendahulu Arif, Para Wijayanto, ditangkap pada Juli tahun lalu, dan tahun ini dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh pengadilan atas tuduhan terorisme serta pengiriman anggota JI ke Suriah untuk berperang bersama pemberontak oposisi di sana, lapor South China Morning Post.
Baca juga: Teroris Jemaah Islamiyah Dihukum 7 Tahun, Sudah Tepatkah?
Setelah penangkapan Wijayanto, polisi menemukan bahwa dia telah merestrukturisasi dan membangun kembali JI menjadi organisasi yang beralih dari sumbangan dan perampokan sebagai sumber pendapatan utamanya, menjadi organisasi dengan kepentingan bisnis di perkebunan kelapa sawit dan sektor komersial lainnya.
Di bawah arahan Wijayanto, perkebunan kelapa sawit JI menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memungkinkan kelompok tersebut membayar “petugas” mereka, dengan gaji bulanan sebesar Rp10 hingga Rp15 juta, menurut polisi.
Polisi Indonesia juga menangkap ahli pembuat bom JI, Upik Lawanga, dua minggu lalu, menurut sumber itu. Lawanga telah berada dalam daftar paling dicari negara selama 14 tahun.
“Upik alias ‘Profesor’ ditangkap dengan pistol rakitan yang dibuatnya. Dia murid Dr Azahari Hussein,” ungkap sumber itu, kepada South China Morning Post.
Azahari, warga Malaysia, membuat bom untuk serangan Bali pada 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 11 warga Hong Kong. Ia tewas dalam baku tembak dengan polisi di Jawa Timur pada 2005. Ia dikenal sebagai salah satu pembuat bom yang paling mematikan di wilayah tersebut, dan polisi telah lama khawatir bahwa ia akan mewariskan keahliannya kepada murid-muridnya.
Salah satu keterampilan itu adalah kemampuan untuk merakit alat peledak rakitan, ungkap Ayob Khan Mydin Pitchay, mantan kepala kontraterorisme cabang khusus Malaysia, badan intelijen Kepolisian Malaysia.
“Walau banyak anggota JI dilatih untuk merakit alat peledak, proses terakhir, termasuk papan sirkuit, diproduksi oleh Dr Azahari sendiri,” tutur Ayob, yang saat ini menjabat sebagai kepala polisi negara bagian Johor Malaysia.
Azahari dikenal sangat teliti, mengamati target dan lokasinya sebelum berangkat merakit bom, dan memastikan bisa menimbulkan “kehancuran besar-besaran”, imbuh Ayob. “Dia jenius, idealis dalam membuat bom yang bisa meledak dengan kekuatan maksimal,” tambah Ayob.
Menurut sumber tersebut, Upik juga seorang pembuat bom yang terampil, merakit banyak bom yang diledakkan di Poso, Sulawesi Tengah, dari 2005 hingga 2007. Di antara serangan teror yang terkait dengan Upik adalah ledakan kembar tahun 2005 di pasar Tentena di Sulawesi Tengah yang menewaskan 22 orang. Upik diduga membuat kedua bom tersebut, menurut sumber itu.
Setelah 2007, Upik tetap bersikap tidak mencolok agar tidak menarik perhatian polisi, karena JI ingin mempertahankannya untuk jangka panjang.
“JI telah menyembunyikan Upik dengan cermat dan melindunginya karena dia adalah aset yang sangat berharga,” tandas sumber itu, dinukil dari South China Morning Post.
Penerjemah: Desi Widiastuti
Editor: Aziza Larasati
Keterangan foto utama: Seorang polisi Indonesia berjaga di dekat monumen peringatan untuk para korban Bom Bali 2002, serangan yang dilakukan oleh Jamaah Islamiah. (Foto: AFP)