Kesehatan
Ada Banyak Penyebab Sariawan, Terutama Faktor Genetik
Dokter Harum Sasanti drg SpPM mengatakan, sariawan disebabkan oleh banyak hal, terutama adanya pembawa faktor genetik (keturunan).
WARTA KOTA, JAKARTA - Dokter Harum Sasanti drg SpPM mengatakan, sariawan disebabkan oleh banyak hal, terutama adanya pembawa faktor genetik (keturunan). Ditambah lagi faktor pemicu (predisposisi) antara lain kelelahan, hormonal, anemia, alergi, gangguan imunitas, defisiensi nutrisi/vitamin, stress dan trauma, serta adanya gangguan pencernaan.
Jika mengalami SAR (Stomatitis Aphthosa Recurrent) atau bahasa awamnya sariawan , pengobatan medis yang biasanya diberikan adalah obat analgetik topical, antiradang, antiseptic serta vitamin yang pada intinya bersifat supertif dan simtomatis (menghilangkan gejala).
Agar terhindar dari SAR dianjurkan menjalai pola hidup sehat, menghindari faktor pemicu kekambuhan SAR, menjaga kebersihan dan kesehatan rongga muut, merawat penyakit sistemik yang diderita dengan patuh menjalani pengobatan dan menghindari stress.
Dokter dari Departemen Gigi dan mulut Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan, munculnya sariawan seringkali dihubungkan dengan kekurangann vitamin C.
“Bukan kekurangan vitamin C pemicu sariawan. Dari pengalaman kami, justru kekurangan vitamin B1, B6, B12, dan asam folat yang bisa menyebabkan munculnya sariawan,” kata dokter Harum yang menjadi pembicara dalam media workshop ‘Jangan Anggap Remeh Sariawan’ di the Cone FX, Senayan, Rabu (16/4/2014).
Jika kekurangan vitamin C akan menimbulkan gusi mudah berdarah, tapi bukan penyebab sariawan. Umumnya, sariawan akan muncul pada usia muda atau remaja. Hal ini karena dipengaruhi oleh hormonal. Pada anak-anak jarang ditemukan munculnya sariawan. “Sariawan sering berulang. Sembuh, muncul lagi dan sembuh sendiri, asalkan badannya fit. Kalau kondisi tubuh terus menurun, sariawan itu akan lebih lama sembuhnya,” kata dokter harum.
Anemia juga sering memunculkan sariawan. Terutama pada wanita yang menjelang menstruasi. Baik pengaruh hormonal ataupun karena anemia. “Ketika akan menstruasi, hormonal meningkat. Saat itu juga darah keluar apalagi banyak muncul anemia. Anemia ini memicu faktor bawaan atau genetic, yang bersifat alergi serta imunitas,” kata dokter Harum.
Rahayu (40) salah satunya. Setiap menjelang haid, ia selalu mengalami sariawan. Tapi jika haidnya sudah lancar, sariawan itupun hilang dengan sendirinya. “Enggak enak juga tiap mau haid sariawan. Biasanya diminumin jus buah, lama-lama sembuh sendiri,” kata ibu dua anak warga Duren Sawit ini.
Rata-rata sariawan akan sembuh sendiri dalam waktu tujuh hari. Jika sudah lebih dari tujuh hari berarti ada faktor pemicu lain seperti stress, kecapekan, defisiensi. Biasanya pada kondisi ini yang muncul SAR minor. Trauma misalnya karena cara sikat gigi yang salah atau sering berganti-ganti pasta gigi juga bisa menyebabkan munculnya sariawan.
“Ganti pasta gigi kebetulan menyebabkan alergi lalu akan muncul sariawan. Lebih baik jika memang pasta gigi tertentu itu tidak menimbulkan alergi dan sariawan disarankan tidak perlu ganti pasta gigi,” ujar Rahayu.
|Anak Perempuan Belum Haid Usia 15 Tahun Harus Diperiksa, Agar Kasus Hipospadia Bisa terdeteksi|
|Satu dari 5 Kematian di Dunia Disebabkan karena Polusi Udara|
|Obesitas Simbol Penyakit Kronis dan 200 Penyakit Menggerogoti Tubuh|
|Jaga Sistem Pencernaan Si Kecil untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh dan Menangkal Covid-19|
|Operasi Hipospadia Boleh Dilakukan Kapan? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Anak|