Setiap detiknya fenomena yang terjadi di dunia ini dipublikasikan dalam internet, terutama dalam media sosial. Twitter, Facebook, Instagram, dan Path ialah contoh dari media sosial yang memiliki berjuta-juta pengguna. Kesempatan “Freedom of Writing and Speech” yang ditawarkan oleh media sosial, dimana setiap insan manusia di dunia ini bebas untuk mengungkapkan ide atau pendapat mereka menjadi alasan mengapa media sosial digemari. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai sarana interaksi tidak langsung dalam jarak dekat maupun jarak jauh.
Namun ada kalanya dimana orang-orang salah menggunakan kesempatan tersebut. Kesempatan bebas mengungkapkan pendapat yang ada, kini justru digunakan seabagai sarana ejek-mengejek. Fenomena ejek-mengejek atau yang dikenal dengan cyberbullying ini umumnya membagikan konten buruk dan disebarluaskan seseorang hanya untuk kesenangan sesaat. Di mana kesenangan tersebut dengan mudahnya membuat orang lain tertekan dan dirugikan walau hanya melalui teknologi komunikasi.
Lalu, kenapa orang-orang tersebut melakukan cyberbullying?
Banyak sekali hal-hal yang mendasari terjadinya Cyber-bullying. Berikut ini ialah beberapa aspek penyebab terjadinya Cyber-bullying.
- Karakteristik Kepribadian
Kepribadian ini ditinjau dari dalam diri pelaku dan korban cyberbullying. Kedua karakteristik ini saling berkaitan, sehingga memperkuat terjadinya bullying dalam teknologi komunikasi.
- Karakteristik kepribadian pelaku:Memiliki kepribadian yang dominan, kuat dan menunjukan sedikit rasa empati pada orang lainCenderung memiliki sikap positif terhadap kekerasan dibandingkan anak lainnyaTidak berani menghadapi resiko karena perbuatannya sendiriMemiliki kebutuhan sensasi akan hal-hal dan pengalaman baru
- Karakteristik kepribadian korban/target:RapuhLemahBelum dewasaKemampuan dan pengetahuan yang belum cukup untuk membuat sebuah keputusan secara efektif
- Lingkungan
Tentunya perilaku cyberbullying ini juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lingkungan keluarga dan sekolah merupakan hal yang krusial dalam pembentukan kepribadian seseorang. Pengalaman yang kurang bahagia, ketidakharmonisan keluarga, kekerasan, dan kurangnya perhatian pada masa kecil bisa menjadikan orang tersebut sebagai “Attention Seeker”, dimana orang tersebut melakukan hal-hal apapun agar dirinya diperhatikan. Situasi lingkungan yang kurang memberikan perhatian menjadikan pelaku tersebut memiliki pemikiran yang salah. Bahwa dengan melakukan bullying dapat membuatnya diperhatikan dan diakui. Namun, ia menggunakan media sosial dan internet untuk mem-bully orang lain karena tidak berani melakukannya secara langsung.
- Motivasi
Berikut ini ialah motivasi dan tujuan seseorang melakukan cyberbullying
- Marah dan sakit hati sehingga ingin melakukan balas dendam pada orang lain
- Memiliki keinginan yang tinggi untuk mencari hal-hal baru yang berbau sensasi
- Ingin menonjolkan ego untuk menyakiti orang lain
- Merasa bosan karena tidak memiliki kegiatan dan menganggur
- Berusaha mencari hiburan untuk ditertawakan agar mendapatkan reaksi
- Ketakutan pelaku berhadapan langsung dengan korban/target
- Media
Motivasi di atas ditunjang oleh kecanggihan teknologi pada era globalisasi yang sangat memungkinkan terjadinya cyberbullying. Teknologi yang menyediakan ruang untuk memberikan pendapat serta mengizinkan orang untuk menggunakan akun tak bernama. Sehingga, para pelaku dapat menyamarkan aksi mereka dan membuat rasa aman untuk tidak tertangkap di dunia nyata. Kecepatan hitungan detik informasi dipublikasikan, disebar, dan dibaca oleh orang juga menjadikan pemicu maraknya cyberbullying.
- Aksi dan Reaksi
Nyatanya, tak semua cyberbullying terjadi karena faktor kepribadian pelaku yang dominan dan ingin mencari sensasi. Orang yang baik sekalipun juga memiliki kemungkinan menjadi pelaku cyberbullying jika ia terjebak dalam sebuah kondisi yang memaksanya untuk melakukannya. Seseorang bisa saja terpaksa mengeluarkan kata-kata buruk sebagai reaksi dari aksi. Namun, orang yang melihatnya langsung menghakimi orang tersebut sebagai pelaku cyberbullying yang sangat jahat, karena mereka hanya mengetahui reaksi tersebut tanpa mengetahui apa yang mengawalinya. Kebanyakan kasus dalam sosial media memang diawali dengan hanya sebatas membalas komentar impulsif dan emosional yang melecehkan seseorang atau diawali dengan seseorang yang memberikan pernyataan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.
Refrensi : http://www.academia.edu/6538662/CYBERBULLY
Oleh: Dina Anjani