Suku Tengger – Pernahkah Anda berkunjung ke Gunung Bromo? Selain melihat keindahan alam berupa pegunungan dan dataran berpasir, di kawasan ini juga terdapat suku Tengger yang merupakan masyarakat asli Bromo.
Mereka memiliki keunikan yang luar biasa, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang datang. Seperti apa sebenarnya masyarakat Tengger tersebut?
Daftar Isi
Sejarah
Mari kita usut sedikit demi sedikit tentang sejarahnya, dimulai dari kata Tengger yang berdasarkan beberapa teori ada yang memiliki arti tegak berdiri dan merupakan identitas masyarakat Tengger yang memiliki akhlak baik.
Lalu ada juga yang mengartikan sebagai pegunungan yang merupakan lokasi bermukimnya suku tersebut.
Dan teori terakhir menyebutkan bahwa Tengger berasal dari penggabungan dari nama belakang pasangan leluhur suku tersebut, yaitu Roro Anteng yang menikah dengan Jaka Seger.
Konon ceritanya, suku Tengger berasal dari kerajaan Majapahit yang meninggalkan kerajaan ke daerah gunung di Jawa Timur setelah kalah dalam serangan Raden Patah abad ke-16.
Roro Anteng merupakan anak dari Raja Majapahit yang ikut mengungsi dan menetap di pegunungan Jawa Timur.
Dia kemudian jatuh cinta dan menikah dengan kalangan Brahmana bernama Joko Seger dan memimpin pengungsian.
Selama di daerah pegunungan, masyarakat tersebut mengisolasi diri dari kehidupan luar dan menjadi suku yang sangat tertutup.
Tradisi
Ada banyak tradisi unik yang dijalankan oleh masyarakat suku Tengger diantaranya adalah Karo,Melasti, Yadnya Kasada, Ojung. Semuanya dilakukan pada waktu tertentu dan melibatkan semua masyarakat, biasanya menjadi tontonan menarik bagi wisatawan karena dibuka untuk umum.
Baca Juga : Suku Mante
1. Karo
Tradisi ini merupakan hari raya besar yang diselenggarakan oleh masyarakat Tengger sesudah memperingati hari raya Nyepi bagi umat Hindu.
Tradisi ini dipimpin oleh seorang pria yang dinamakan ratu atau dukun.
Dia akan memimpin ritual dan doa selama prosesi adat berlangsung.
Dalam perayaan Karo, akan diselenggarakan pawai dengan membawa semua hasil bumi dari masyarakat suku Tengger dan dilengkapi dengan persembahan Tari Sodoran yang dilakukan oleh penari khas suku tersebut.
setelah ritual selesai, maka masyarakat akan melanjutkannya dengan bertamu ke rumah saudara dan tetangga seperti saat Lebaran pada umat Islam.
2. Melasti
Merupakan sebuah tradisi untuk menyucikan diri sebelum melakukan tradisi lain, alasannya adalah agar bisa dihindarkan dari bencana.
Ritual ini dilakukan di Pura bernama Luhur Poten, pada pukul 10.00 WIB sampai pukul 02.00 WIB dini hari.
Penyucian ini juga menjadi cara untuk menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam.
3. Yadnya Kasada
Berawal dari kisah cinta Roro Anteng dan Joko Seger yang menikah dan memimpin suku tersebut, namun setelah bertahun-tahun tak jua dikaruniai anak hingga akhirnya mereka meminta pertolongan leluhur di Gunung Bromo, dan merekapun diberikan keturunan dengan syarat anak terakhir harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.
Akhirnya anak demi anakpun lahir hingga berjumlah 25 orang, dan anak terakhir tersebut dikorbankan dan dibuang ke dalam kawah gunung tersebut.
Kemudian anak tersebut meminta sesajen setian tanggal 14 bulan sepuluh pada kalender Jawa, maka jadilah setiap tanggal 14 bulan Kasodo atau kesepuluh ritual tersebut dilakukan.
Warga suku Tengger akan berduyun-duyun ke tepi kawah Bromo sambil membawa sesajen, lalu beberapa warga akan masuk ke lereng gunung dan melemparkan sesajen berupa hasil bumi dan pertanian tersebut ke kawah.
Selain untuk memenuhi keinginan anak ke-25 Roro Anteng tersebut, ritual ini juga dimaksudkan untuk memohon selamat dan berkah dari tuhan.
4. Ojung
Tradisi ini dilakukan pada musim kemarau untuk meminta hujan kepada tuhan.
Biasanya diawali dengan penampilan Tari Rontek Singo Wulung dan juga Tari Topeng Kuna.
Kedua tari ini ditampilkan untuk mengingat jasa Ju Seng pada masa lalu yang rela mengumpulkan dana dari tarian ini untuk mengusir penjajah.
Dilanjutkan dengan perkelahian satu lawan satu menggunakan rotan untuk mencambuk.
Siapa yang berhasil mencambuk lebih banyak adalah pemenangnya.
Biasanya merupakan laki-laki suku Tengger dengan rentang usia 17 hingga 50 tahun, yang akan diberi waktu untuk bertarung hingga titik darah penghabisan.
Rumah Adat Suku Tengger
Masyarakat suku ini memiliki rumah adat yang cukup unik. Terbuat dari kayu, dan biasanya dibangun dengat dengan sumber air, tidak memiliki tingkat dan bukan rumah jenis panggung merupakan karakter utamanya.
Pembangunan rumah ini menggunakan kayu atau papan dengan atap yang memiliki kemiringan terjal, dan maksimal memiliki dua jendela.
Dalam pembangunannya warga suku Tengger juga sangat memperhatikan kondisi tanah, dimana rumah hanya akan di bangun di atas tanah yang rata tidak bergelombang.
Namun seiring perkembangan zaman, ada perubahan bahan yang digunakan baik itu atap yang dulu bambu menjadi seng, dan bagian depan rumah yang memiliki dipan sebagai tempat untuk menerima tamu atau bersantai.
Arsitektur dari rumah-rumah ini dibuat berkelompok dan bersisian satu denngan yang lainnya, sebagai upaya untuk mencegah angin kencang dan cuaca ekstrim yang sering terjadi pada kawasan Bromo.
Alhasil, dengan pola bangunan seperti itu akan mencegah kerusakan fatal pada bangunan dan semua barang milik masyarakat.
Baca Juga : Suku Sasak
Pakaian Adat Suku Tengger
Masyarakat suku yang bermukim di kawasan Bromo ini memiliki pakaian khas yang membedakannya dengan warga lainnya, yaitu menggunakan kain saruh.
Bukan asal dipakai, namun penggunaannya memiliki arti tersendiri baik bagi pria maupun wanita. Biasanya dipakai pada acara adat ataupun sebagai bagian dari pakaian harian.
1. Sarung Pria
Cara memakai sarung oleh pria suku Tengger adalah dengan memasukkan sarung dari kepala dan dijadikan pakaian bagian atas dengan cara diselempangkan.
Biasanya penggunaan sarung ini dilengkapi dengan topi yang disebut Udheng. Warna sarung yang sering dipakai pria Tengger adalah biru, hijau, ungu atauun merah.
Tujuan dari penggunaan sarung bagi pria adalah sebagai pelindung diri dari cuaca dingin dan panas, apalagi bagi warga yang bekerja di kebun atau ladang.
Makanya penggunaan sarung sudah jadi bagian dari fashion masyarakat. Bahkan para warga yang sudah terkontaminasi budaya modern masih berupaya mempertahankan tradisi sarung ini sebagai identitas diri.
2. Sarung Wanita
Penggunaan sarung pada wanita dengan mengikat di bagian leher dan sisanya menjuntai ke bagian punggung.
Untuk wanita yang masih perawan sarung diselempangkan pada sisi kiri badan dari bagian pundak.
Sedangkan untuk yang sudah berkeluarga diikat pada bagian dada tengah, artinya adalah ketulusan dalam menjaga hati dan keluarga.
Penggunaan sarung pada wanita selain untuk melindungi diri dari cuaca juga sebagai alat untuk menggendong bayi pada bagian punggung.
Biasanya warna sarung yang sering dipakai oleh wanita lebih lembut dari warna sarung pria. Contohnya coklat, krem, hijau muda, biru muda, dan merah muda.
Kebudayaan Suku Tengger
Ada beberapa kebudayaan yang dimiliki oleh suku Tengger dan masih dipertahankan hingga saat ini, mulai dari bahasa, teknologi, agama, profesi dan pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat asli Tengger.
1. Bahasa
Dalam berkomunikasi sehari-hari warga suku ini menggunakan bahasa Jawi jenis kuno, bahasa ini dipercaya sebagai bahasa yang digunakan pada zaman Majapahit, baik dari penulisan hingga pengucapan atau dialeknya.
Walaupun begitu, dengan perkembangan zaman banyak jyga warga setempat yang mulai mengenal bahasa lain termasuk bahasa Indonesia dan Jawa modern.
2. Teknologi
Masyarakat suku Tengger tak lepas dari perkembangan teknologi, jika dulu menggunakan cara bercocok tanam manual, kini sudah mengenal sejumlah alat modern.
Begitu juga dengan perlengkapan rumah tangga yang juga sudah tersentuh teknologi seperti kompor yang dahulunya memanfaatkan kayu bakar kini sudah pakai kompor modern.
3. Agama
Mayoritas dari masyarakat suku ini adalah pemeluk agama Hindu Mahayana, beda dengan masyarakat Bali yang menganut Hindu Dharma.
Tapi intinya tetap sama-sama memuja dewa-dewa yang dipercaya mampu memberikan kehidupan dan menjaga mereka setiap saat. Makanya beberapa tradisinya tetap sama dan memiliki nama yang sama.
4. Profesi
Sejak dulu hingga sekarang kebanyakan warga memiliki profesi sebagai petani, yang membudidayakan tanaman seperti jagung, kubis, kentang, wortel hingga tembakau.
Tapi berhubung kawasan ini menjadi lokasi wisata, tak sedikit pula warga yang alih profesi menjadi guide atau pemandu wisata bagi pelancong yang mendatangi Gunung Bromo dan sekitarnya.
5. Ilmu Pengetahuan
Dahulu warga suku Tengger memiliki tingkat pendidikan rendah, karena masih tertutup dari perkembangan di dunia luar.
Tapi saat ini sudah banyak sekolah yang didirikan hingga tingkat menengah untuk menampung generasi muda suku tersebut yang ingin menuntut ilmu.
Tapi tetap saja masih ada yang percaya pada mantra dan mengabaikan pendidikan.
Makanan Khas
Ada beberapa makanan khas yang dikonsumsi oleh masyarakat suku tersebut dan juga jadi wisata kuliner bagi wisatawan yang mendatangi kawasan Gunung Bromo. Ada yang namanya Nasi Aron, Sawut, Iga Pasir, dan Pokak.
1. Nasi Aron
Nasi yang menjadi menu utama warga Tengger ini terbuat dari jagung yang diolah menjadi butiran nasi.
Kekenyalannya mampu membuat perut kenyang lebih lama, untuk mengkonsumsinya biasa diletakkan bersama sayur dari daun ranti dan sambel.
Perpaduannya mampu menjaga kesehatan baik itu gula darah, diabetes dan daya tahan tubuh.
2. Sawut
Terbuat dari singkong yang diserut dan dibuat menjadi bongkahan kecil yang kemudian dihiasi dengan berbagai dedaunan dan buah.
Rasanya yang khas sudah melegenda sejak zaman dahulu.
Konon makanan ini juga sering disajikan pada zaman Kerajaaan Majapahit.
3. Iga Pasir
Kalau bagian iga sapi biasanya dimasak menggunakan kompor modern, di kawasan Gunung Bromo tepatnya di daerah tempat suku Tengger bermukim iga dimasak menggunakan pasir pada bagian bawah tungku sehingga memberikan cita rasa yang berbeda dari biasanya. Pantas jika banyak pelancong yang penasaran untuk mencoba makanan yang satu ini.
4. Pokak
Merupakan minuman khas warga setempat yang terbuat dari perpaduan daun pandan, serai, cenkeh, jahe, gula dan keninger.
Minuman jenis herbal ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit, mulai dari penyakit ringat seperti sakit kepala, batuk, hingga penyakit berbahaya seperti ginjal dan masih banyak lagi.
Keunikan dari suku Tengger sudah mendunia, bukan saja sejarah yang sudah ada sejak zaman kerajaan tapi juga karena cara hidup, filosofi yang dianut hingga makanan khas yang masih dipertahankan.
Baca Juga : Suku Dayak
Wajar kalau daerah Gunung Bromo dan sekitarnya yang jadi kawasan pemukiman suku ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang mau melihat langsung kehidupan masyarakat tersebut.