Alasan Indonesia Ngotot Pakai Vaksin China Sinovac
Profesor Gustavo Romero, selaku koordinator riset vaksin COVID-19 di Brasil, menunjukkan vaksin Sinovac asal China dalam uji klinis fase 3 di Rumah Sakit Universitas Brasilia, di Brasilia, Brasil, 5 Agustus 2020. (Foto: EPA/BBC)
Indonesia memutuskan untuk memakai vaksin corona dari pelbagai produsen negara lain. Salah satu yang diimpor banyak adalah vaksin corona dari Sinovac, China. Apa plus minus vaksin yang sudah disetujui untuk penggunaan darurat di negara asalnya itu?
Sebanyak 1,8 juta dosis vaksin Sinovac asal China tiba pada Kamis (31/12). Sebelumnya 1,2 juta vaksin COVID-19 Sinovac sudah tiba awal Desember. Dengan tambahan 1,8 juta dosis tersebut, maka pemerintah memesan 3 juta dosis vaksin Sinovac.
Ada alasan kenapa pemerintah kita kukuh memesan vaksin Sinovac dalam jumlah banyak. Pasalnya, vaksin itu dinilai telah memenuhi beberapa faktor penting, yaitu memenuhi unsur keamanan, pengembangannya cepat, dan dapat memenuhi aspek mandiri untuk diproduksi di dalam negeri.
“Vaksin itu harus memiliki unsur keamanan, khasiat, dan mutu dari lembaga yang berwenang,” ujar Direktur utama Bio Farma Honesti Basyir, dilansir dari CNBC Indonesia.
Vaksin COVID-19 milik Sinovac juga sudah terjamin keamanannya dengan serangkaian pengujian. Mulai dari uji praklinis hingga uji coba selama 3 tahap.
Karena itulah, Honesti juga menargetkan untuk bisa mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/UEA) untuk vaksin CoronaVac milik Sinovac dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada pekan ketiga Januari 2021. Jika izin ini sudah dikantongi, maka program vaksinasi nasional bisa segera dimulai, sesuai dengan target Jokowi.
Hingga berita ini ditulis, uji klinis tahap ketiga vaksin ini masih berlangsung, namun Bio Farma terus melaporkan data-data hasil uji klinis yang ada kepada BPOM untuk dijadikan pertimbangan.
Pertanyaannya, seberapa efektif dan adakah bahaya efek samping dari vaksin ini? Belum ada temuan signifikan. Hanya saja, Ketua Tim Riset Uji klinis vaksin COVID-19 Kusnandi Rusmil menjelaskan munculnya efek samping dalam uji klinis vaksin asal China Sinovac selama 5 bulan, yang melibatkan 1.620 orang pada rentang usia 18 hingga 59 tahun.
“Ada beberapa efek samping yang timbul akibat reaksi penyuntikan, berupa nyeri pada lokasi penyuntikan dengan intensitas ringan, dan menunjukkan reaksi pegal otot dengan mayoritas intensitas ringan,” ungkap Kusnandi saat diskusi virtual, Rabu (30/12), dilansir dari CNN.
Sebagai informasi, vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi China Sinovac Biotech Ltd. ditemukan lebih dari 50 persen efektif dalam uji klinis Brasil, meskipun para peneliti menunda merilis lebih banyak informasi atas permintaan perusahaan.
Tingkat kemanjuran 50 persen adalah standar minimum yang ditetapkan oleh regulator AS untuk otorisasi darurat vaksin COVID-19. Vaksin Messenger RNA dari Moderna Inc. dan Pfizer Inc. telah memberikan hasil yang jauh lebih baik, mengurangi kasus corona yang bergejala lebih dari 90 persen dalam uji coba besar.
Pengembang vaksin China lambat dibandingkan dengan rekan-rekan barat mereka dalam merilis data kemanjuran pada suntikan mereka. Sebab, jutaan orang sehat mengandalkan transparansi dalam uji coba sebelum mengambil gambar, kurangnya hasil yang lebih spesifik dari uji coba Sinovac berisiko mengikis kepercayaan pada vaksin China.
Hong Kong bahkan mengatakan, penduduk akan diizinkan untuk memilih pengambilan gambar mana yang ingin mereka ambil di antara beberapa kandidat yang kemungkinan akan mencakup Sinovac.
Kurangnya transparansi dalam melaporkan hasil uji coba Brasil “sama sekali tidak dapat diterima,” ucap Eric Topol, pakar uji klinis dan direktur Scripps Research Translational Institute kepada Live Mint.
Surat kabar yang didukung negara, Global Times pun menyebut media barat sok sibuk “mempertanyakan tentang transparansi”, mereka juga menyebut media Barat penyebar “data palsu.”
Sejauh ini, uji coba tahap akhir dari vaksin Sinovac di Brasil, yang melibatkan sekitar 13.000 peserta, menunjukkan suntikan itu “aman dan efektif,” menurut pihak berwenang di Butantan Institute dan dari Sao Paulo. Mereka diminta untuk tidak menyebarkan informasi sampai itu ditinjau secara menyeluruh di China sebagai bagian dari perjanjian kontrak, ungkap mereka.
Penulis: Anastacia Patricia
Editor: Aziza Larasati
Keterangan foto utama: Profesor Gustavo Romero, selaku koordinator riset vaksin COVID-19 di Brasil, menunjukkan vaksin Sinovac asal China dalam uji klinis fase 3 di Rumah Sakit Universitas Brasilia, di Brasilia, Brasil, 5 Agustus 2020. (Foto: EPA/BBC)
Alasan Indonesia Ngotot Pakai Vaksin China Sinovac