Bernas.id – Ada yang mengatakan bahwa kita harus berteman dengan siapa saja, tapi ada pula yang mengatakan bahwa kita harus memilah dan memilih teman. Maka bagaimana Islam melihat semua ini?
Setiap manusia pasti membutuhkan seorang teman untuk saling berbagi suka dan duka bersama, atau setidaknya untuk saling menguatkan dan memberi motivasi.
Namun, pertanyaan yang saling bertentangan di dalam hal ini senantiasa muncul, yakni berteman dengan siapa saja atau memilih teman?
Dalam hal ini dapat kita lihat dari beberapa hadits, seperti:
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Seseorang tergantung pada agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa saja yang menjadi temannya.” (HR. Tirmidzi)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa seseorang yang berteman dengan orang-orang yang baik, maka akan membawa pada urusan agama yang baik. Demikian pula sebaliknya, apabila seseorang berteman dengan orang-orang yang tidak baik, maka ia pun juga akan dijauhkan dari agamanya. (naudzubillah min dzalik).
Dari Abu Musa Al-As’ari ra, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “ Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, adapun penjual minyak wangi mungkin saja dia akan memberimu hadiah (minyak wanginya) kalaupun tidak kamu bisa membelinya, jika tidak maka kamu akan mendapatkan darinya aroma wanginya. Adapun pandai besi bisa jadi bajumu akan terbakar olehnya, bila tidak kamu akan mendapati bau yang tidak sedap.” (HR: Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa Rasulullah SAW memisahkan antara teman yang baik dan yang buruk. Teman yang baik akan memberimu bantuan kapan saja melalui nasihatnya, kebijaksanaannya sehingga mengajarimu untuk berintrospeksi sehingga menyibukkanmu pada kebaikan. Sedangkan temanmu yang buruk, dia yang tidak melarangmu dari kejelekan, dia memaksamu untuk condong pada pendapatnya yang menyimpang. Maka, berhati-hatilah dalam bergaul dengannya.
Dari kedua hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita untuk memilih teman yang mengajak pada kebaikan. Pentingnya memilih teman yang baik, nampak dalam kedua hadits di atas.
Teman yang buruk akan berusaha mempengaruhi kita dengan mengejek teman kita yang taat dan mengatakan banyak hal, seperti : “ Kalau kamu berteman dengannya, kamu bakalan diajak ke Masjid terus.”, atau mungkin mengatakan “Lihatlah mereka orang-orang sok suci itu.”
Setelah kau dengar perkataannya, rabalah dalam hatimu , sakitkah kau kalau saudaramu yang taat diejek seperti itu? Setelah itu tentukan posisimu, masihkah kau berada di sisinya? Atau di sisi mereka yang salih dan taat? Pantaskah kau untuk tetap berada di sisinya?