Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan kunjungannya ke Denmark setelah negara Eropa itu menolak mendiskusikan penjualan Greenland. Langkah Trump tersebut telah membuat geram para politisi Denmark dan memperburuk hubungan dengan sekutu yang—sampai saat ini, setidaknya—telah berdiri di belakang Amerika Serikat di medan perang dan di arena diplomatik. Ada empat alasan mengapa Denmark adalah sekutu penting Amerika, dan Greenland hanya salah satu alasan.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan kunjungan ke Denmark yang dijadwalkan bulan depan, setelah Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menolak untuk mempertimbangkan menjual Greenland ke Amerika Serikat.
Langkah Trump tersebut telah membuat geram para politisi Denmark dan memperburuk hubungan dengan sekutu yang—sampai saat ini, setidaknya—telah berdiri di belakang Amerika Serikat di medan perang dan di arena diplomatik.
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Denmark dimulai sejak tahun 1783, ketika monarki yang saat itu dikenal sebagai Denmark-Norwegia secara resmi mengakui dan membentuk perjanjian komersial dengan negara yang baru merdeka tersebut.
Persahabatan itu berlanjut, sebagian besar dengan lancar, sejak saat itu. Denmark bergabung dengan NATO sebagai anggota pendiri pada tahun 1949 dan tetap menjadi “sekutu NATO yang kuat,” menurut laman Web Departemen Luar Negeri AS.
”Di seluruh dunia, Denmark adalah mitra yang paling teguh bagi Amerika Serikat,” kata situs web Kedutaan Besar AS di Denmark.
Hubungan baik ini menjadi alasan mengapa para politisi Denmark menganggap pembatalan kunjungan Trump yang mendadak sebagai penghinaan. “Ini merupakan penghinaan dari teman dekat dan sekutu,” Michael Aastrup Jensen, anggota Parlemen yang mewakili Partai Venstre kanan-tengah, mengatakan kepada The Washington Post.
Berikut empat poin penting hubungan AS-Denmark dalam beberapa dekade terakhir.
Dukungan untuk perang Amerika
Ketika Amerika Serikat berperang, Denmark dengan cepat melakukan aksi. Denmark adalah anggota penting NATO selama Perang Dingin karena lokasinya yang strategis di tepi utara blok itu. Pada satu dekade setelah Perang Dingin, pasukan Denmark bertugas di Bosnia di bawah komando AS sebagai bagian dari kampanye udara NATO melawan Serbia pada tahun 1999, menurut Dewan Atlantik.
Setelah 9/11, Denmark menyumbangkan pasukan untuk perang di Afghanistan, dan sebuah kontingen kecil Denmark tetap berada di Kabul hampir 18 tahun kemudian. Denmark juga menyediakan rata-rata lebih dari $100 juta per tahun untuk membangun pasukan keamanan Afghanistan, menurut Kementerian Pertahanan Denmark.
Denmark juga cepat mendukung perang di Irak, menerbangkan kapal selam, kapal perang, dan beberapa ratus tentara pada tahun 2003 untuk mendukung invasi AS, menurut Irish Times. Para menteri pemerintah di bawah Perdana Menteri Anders Fogh Rasmussen membela informasi intelijen—yang kemudian dibantah—yang digunakan untuk membenarkan invasi itu. Denmark mempertahankan kehadiran militer di Irak hingga tahun 2007.
Sejak itu, Denmark telah menyumbangkan pasukan untuk koalisi pimpinan AS dalam melawan ISIS, dan membantu operasi militer AS lainnya di Timur Tengah.
Martin Lidegaard—seorang politisi di Partai Liberal Sosial Denmark dan mantan Menteri Luar Negeri—menyebut Amerika Serikat “sekutu terdekat kami dalam hal keamanan”.
“Dan saya berharap bahwa AS juga menganggap kami sekutu dekat,” tambahnya.
Perdagangan
Amerika Serikat adalah mitra dagang non-Eropa terbesar Denmark. Departemen Luar Negeri AS menggambarkan Denmark sebagai “pusat badan-badan AS dan sektor swasta yang berurusan dengan wilayah Nordik/Baltik” karena bertengger di negara kecil di pintu masuk ke Laut Baltik.
Amerika Serikat dan Denmark memperdagangkan barang senilai $11,5 miliar dolar pada tahun 2018, menurut angka pemerintah AS. Amerika Serikat mengekspor pesawat terbang, komputer, dan mesin ke Denmark, menurut Departemen Luar Negeri AS. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menerima produk kimia, kincir angin, ham dan babi kalengan, serta furnitur dari negara Skandinavia tersebut.
Penampakan Thule Air Base, pangkalan udara Angkatan Udara Amerika Serikat, di Greenland, Denmark, pada tanggal 31 Oktober 2018. (Foto: Ritzu Scanpix/Linda Kastrup via Reuters)
Greenland
Greenland menjadi sumber pergolakan saat ini dalam hubungan AS-Denmark, dan itu juga merupakan sumber masalah di masa lalu. Setelah Perang Dunia II, Denmark menolak tawaran mantan Presiden AS Harry Truman untuk membeli Greenland seharga $100 juta dalam bentuk emas.
Namun Greenland juga menandai lokasi kerja sama antara kedua negara. Pemerintah Amerika telah mengawasi pulau besar itu, yang menjadi milik Denmark, karena lokasinya yang strategis di Kutub Utara.
Denmark mengizinkan Amerika Serikat membangun pangkalan udara di sana pada tahun 1951, dan Pangkalan Udara Thule masih menjadi pos terdepan militer Amerika Serikat sejak saat itu. Greenland adalah rumah bagi sistem pertahanan rudal Amerika, dan ribuan penerbangan mendarat atau lepas landas dari landasan pacu di sana setiap tahun.
Hubungan AS-Denmark sedikit memburuk di bawah Trump, meskipun para pemimpin utama Denmark menegaskan bahwa aliansi itu tetap kuat.
Duta besar pemerintahan Trump untuk Denmark, sosialita dan mantan aktris Carla Sands, tidak sepopuler di Kopenhagen seperti Duta Besar tercinta Duta Besar Rufus Gifford, yang membintangi sebuah acara TV realitas, I Am the Ambassador From America.
Gifford menyebut keputusan Trump untuk membatalkan perjalanannya “memalukan”, di CNN pada Rabu (21/8).
“Denmark bukan penggemar berat Donald Trump dan politiknya—saya pikir itu sudah jelas,” kata Gifford. “Tapi Anda tahu apa? Mereka adalah penggemar berat Amerika Serikat, dan fakta bahwa mereka akan mendapatkan kunjungan Presiden Amerika adalah sesuatu yang besar bagi mereka.”
Ketika anggota Parlemen Denmark memberikan kritik tajam terhadap Trump dan pendekatannya pada kebijakan luar negeri pada Rabu (21/8), Frederiksen—Perdana Menteri Denmark—menyampaikan komentar yang lebih keras.
Meskipun dia menyuarakan keterkejutan dan kekecewaan bahwa Gedung Putih telah memutuskan untuk membatalkan kunjungan yang persiapannya sudah “berjalan dengan baik,” namun menurutnya keputusan Trump tidak akan “mengubah karakter hubungan baik kami.”
Itu tidak menghentikan Trump dari melemparkan salah satu penghinaan favoritnya terhadap Frederiksen pada Rabu (21/8), menyebut penolakannya atas tawaran Trump untuk membeli Greenland “jahat”.
Meskipun Trump tidak akan mengunjungi Kopenhagen pada bulan September, namun beberapa penduduk Denmark masih berencana untuk menerbangkan balon ‘bayi Trump’ di sana, Bloomberg News melaporkan.
Meski begitu, Lidegaard mengatakan bahwa dia tidak memperkirakan hubungan akan berubah secara dramatis dalam jangka panjang.
“AS akan terus menjadi sekutu kami selama mayoritas luas di AS juga menganggap kami sebagai sekutu, dan tentu saja saya percaya itulah yang terjadi saat ini,” katanya.
Keterangan foto utama: Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen berbicara kepada wartawan terkait batalnya kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Denmark, di Copenhagen, Denmark, 21 Agustus 2019. (Foto: Ritzau Scanpix/Mads Claus Rasmussen via Reuters)