Negara Ghana di Afrika terkenal gemar menggelar pemakaman yang meriah serta mengundang banyak teman dan kerabat. Pandemi COVID-19 terpaksa menghambat tradisi itu di tengah pembatasan pergerakan dan penguncian wilayah. Akibatnya, kamar mayat di negara itu pun menjadi korban ketika banyak jenazah dibiarkan disimpan di sana.
Peristiwa budaya besar seperti pemakaman harus ditunda di Ghana di tengah penguncian wilayah selama pandemi COVID-19. Banyak keluarga enggan menggelar pemakaman tertutup. Sebaliknya, mereka justru memilih untuk meninggalkan jenazah orang yang mereka cintai di kamar mayat.
Ibu Emmanuel Akorh yang berusia 85 tahun meninggal beberapa bulan yang lalu. Namun, jenazahnya masih terbaring di kamar mayat. Seperti banyak keluarga di Ghana, Akorh menolak untuk melakukan pemakaman tertutup yang kecil seperti yang direkomendasikan oleh pihak berwenang. Ia lebih suka menunggu sampai penguncian wilayah akibat pandemi dicabut sehingga ia dapat mengadakan pemakaman yang lebih besar untuk sesama teman dan keluarga.
Meskipun dia mungkin harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bagi Akorh itu adalah keputusan yang mudah untuk dibuat.
“Jika saya disuruh pergi dan mengeluarkan tubuh ibu saya dari kamar mayat, saya tidak tahu ke mana saya harus membawanya. Kami tidak terbiasa dengan penguburan tertutup ini,” tutur Akorh kepada Deutsche Welle.
“Nanti ketika semuanya sudah selesai, mungkin saya akan mengadakan pemakaman yang sebenarnya.”
Pemakaman tertutup di Ghana jarang dilakukan. Pemakaman biasanya perhelatan besar yang sangat simbolis dan diadakan terutama pada akhir pekan. Banyak pemakaman semacam itu melibatkan menyanyi dan menari, serta bisa membutuhkan biaya semahal pernikahan. Bahkan sebelum pandemi melanda negara itu, tidak pernah terdengar tindakan orang-orang meninggalkan jenazah di kamar mayat selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Banyak keluarga dan masyarakat gemar menyibukkan diri dengan ritual pemakaman yang rumit.
Tak bisa menyimpan lebih banyak jenazah
Namun, di tengah pandemi COVID-19, sikap ini menimbulkan dampak serius bagi kamar mayat di kota-kota besar seperti Accra dan Kumasi.
Banyak keluarga enggan mengambil kembali mayat-mayat itu sampai pembatasan pergerakan mereda. Akibatnya, kamar mayat terisi lebih cepat dari biasanya, dengan beberapa sudah berkapasitas penuh. Pengelola kamar mayat di Rumah Sakit Pantang di Accra mengaku kepada Deutsche Welle, mencoba mengelola fasilitas tersebut pada saat ini merupakan tindakan sia-sia.
“Saat ini kamar mayat sudah penuh. Begitu penuh, kami tidak bisa menampung jenazah lagi. Jadi kami berharap orang akan datang untuk mengambil mayat, sehingga akan membebaskan beberapa ruang. Setelah kami berhenti menampung mayat, artinya kami mulai kehilangan uang.”
Kamar mayat dikhawatirkan menampung virus
Para pekerja di kamar mayat Ghana yang semakin padat sekarang khawatir mereka dipaksa untuk bekerja dalam kondisi yang menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi tertular virus corona COVID-19. Sekretaris jenderal untuk Asosiasi Pekerja Kamar Mayat Ghana (MOWAG) Richard Kofi Jordan menegaskan, kamar mayat jangan sampai membeludak jika mereka ingin menghindari wabah virus.
“Kamar mayat Ghana sama seperti penjara karena tidak memiliki ruang bergerak. Ada kemungkinan seseorang meninggal karena COVID-19 yang tidak terdeteksi di rumah, tapi mereka masih mungkin dibawa ke kamar mayat,” ujar Jordan kepada Deutsche Welle.
“Jika kamar mayat penuh sesak, kemungkinan akan ada transfer virus. Jadi, meskipun kami mencoba untuk melawan COVID-19, kami benar-benar akan berakhir menyebarkannya lebih banyak. Kemungkinan akan ada wabah lain jika kami tidak menghindari kamar mayat membludak.”
Dengan pihak berwenang sekarang memperpanjang penguncian wilayah di Accra dan Kumasi hingga seminggu lagi, pekerja kamar mayat seperti Jordan menyerukan kepada para keluarga untuk berubah pikiran dan mengambil jenazah orang-orang yang mereka cintai untuk dimakamkan tertutup. Menurut mereka, tindakan semacam itu akan membantu membebaskan ruang di kamar mayat Ghana, bahkan jika itu bertentangan norma budaya setempat.
“Mengapa Anda ingin menyimpan mayat di lemari es selama enam bulan?” tanya Jordan.
“Sudah waktunya praktik budaya ini mulai ditinggalkan secara bertahap. Ini tidak akan mudah, tapi saya pikir orang-orang Ghana akan belajar menyesuaikan diri dengan situasi.”
Jordan mengatakan situasinya juga dapat membantu keluarga yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Jika Anda tidak memiliki cukup uang untuk pemakaman, sekarang adalah waktunya untuk menabung, karena Anda memiliki kesempatan untuk menggelar pemakaman tanpa harus memberi makan orang banyak.”
Namun, dengan meningkatnya kasus COVID-19 di Ghana dan potensi penguncian wilayah diperpanjang lebih lama, masih belum ada akhir yang terbayangkan bagi krisis di kamar mayat negara itu.
Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Tradisi pemakaman Ghana yang meriah terpaksa dihilangkan untuk sementara. (Foto: The Vice)
Tak Ada Lagi Pemakaman Meriah di Ghana Selama Corona