TPS Food juga siap membeli penggilingan gabah dan membidik 6-7 persen pasar beras nasiona.
PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food Tbk [AISA] mengakuisisi pabrik dan merek makanan ringan Taro Snack dari PT Unilever Indonesia Tbk [UNVR] senilai Rp 200 miliar lebih.
Taro Snack merupakan merek makanan ringan satu-satunya yang dimiliki Unilever sejak 2003 dan menjadi merek terkemuka di Indonesia.
Selain Taro, TPS Food bakal mengambil alih pabrik beserta mesin produksi Taro yang berlokasi di Gunung Putri, Bogor, dan Medan, Sumatera Utara.
“Kami menganggap Taro sebagai produk strategis,” kata Sekretaris Perusahaan TPS Food Yulianni Liyuwardi hari ini di Jakarta seperti dikutip Investor Daily .
Yulianni menegaskan, Taro Snack memiliki nilai tambah bagi TPS Food. Sebab, basis konsumen produk itu merupakan kelas menengah atas. Adapun produk-produk perseroan umumnya menyasar menengah bawah. Selama ini, TPS Food memproduksi mi kering cap Ayam 2 Telor, Superior, Mie Kremezz, dan permen Gulas.
Akuisisi Taro Snack bakal mendongkrak pendapatan TPS Food. Sebab, kontribusi Taro diproyeksikan mencapai Rp 500 miliar atau meningkat dua kali lipat dari saat ini Rp 250 miliar per tahun.
Namun, menurut Yulianni, penjualan Taro Snack baru akan mengontribusi pendapatan TPS Food tahun depan. Sebab, hingga akhir 2011, perseroan masih akan kerja sama operasi
dengan Unilever.
“Jadi selama masa transisi, Taro masih berkontribusi kepada Unilever. Nanti, per Januari 2012, baru masuk ke buku kami,” tutur dia.
Selain mengakuisisi Taro Snack, TPS Food siap membeli penggilingan gabah menjadi beras senilai lebih dari Rp 150 miliar. Perseroan membidik 6-7 persen pasar beras nasional dalam
lima tahun mendatang.
“Untuk mencapai sasaran tersebut, kami akan terus menambah skala pengolahan dan volume penjualan,” ungkap Yulianni.
TPS Food juga akan bekerja sama dengan sejumlah pabrik beras kecil untuk mendukung produksi beras di daerah tertentu. Selain itu, perseroan berencana membangun 18 pabrik
beras selama lima tahun. Nilai investasinya sekitar US$ 8 juta per pabrik. Dengan demikian, total investasinya mencapai US$ 144 juta. Sumber pendanaan berasal dari pinjaman bank
[70 persen] dan ekuitas [30 persen].
Sumber: -