Tanpa uang, dunia ini seakan mati akibat terhentinya segala aktivitas manusia. Jangankan bepergian keluar kota, berkeliling kota saja harus mengeluarkan uang. Hanya air putih saja yang gratis di kampung-kampung yang jauh dari aroma perkotaan, sedang di kota-kota besar air putih juga harus dibayar. Ya, itulah kondisi dunia kini. Dunia di mana segala aktivitas dan kebutuhan manusia disama-nilaikan dengan uang.
Untuk beraktivitas diwajibkan untuk membayar, begitu pula untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan maupun papan. Dengan kondisi demikian, manusia menjadikan uang sebagai segala-galanya. Dalam artian bahwa, manusia harus berjuang memperoleh uang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup di dunia yang serba uang ini.
Ironinya, ketika orientasi manusia mengarah pada uang, dari tindakan yang baik hingga tindakan yang buruk sekalipun dilakukan manusia demi mempertahankan hidup. Orientasi hidup manusia yang selalu mengejar uang secara tidak sadar memenjarakan akal sehat manusia untuk berpikir, bersikap dan bertindak positif.
Ketika akal sehatnya terpenjara, manusia seakan buta, memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam kondisi seperti ini, tanpa berpikir panjang, manusia mengalami kebutaan hati dan pikiran, makanya manusia melakukan hal-hal yang buruk sekalipun demi mendapatkan uang.
Di mana-mana, di seluruh penjuruh dunia, segala hal negatif telah dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa saja – sesuatu yang tak menjadi persoalan walau bertentangan dengan ajaran adat, pemerintah dan agama. Misalnya ada ajaran agama yang melarang manusia untuk mencuri, berzina, membunuh dan lain sebagainya, tetapi larangan itu hanyalah larangan belaka.
Manusia melakukan pencurian hanya karena uang untuk memenuhi kebutuhan pribadi ataupun keluarga. Manusia juga melakukan korupsi demi memenuhi ketidakpuasannya terhadap uang. Demi uang juga manusia menjadi kupu-kupu malam, yang dijuluki pasangan seks komersial.
Demi uang, manusia juga begitu mudah membunuh sesama manusia, yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling mulia di hadapan-Nya. Telah diketahui bahwa, menurut ajaran adat, agama dan pemerintah ada larangan untuk membunuh, malah manusia yang tak manusiawi begitu kejam melenyapkan nyawa manusia lain.
Mungkinkah manusia diciptakan untuk dibunuh? Tidak. Manusia diciptakan untuk hidup saling berdampingan satu sama lain. Tentu pula untuk menciptakan hidup yang damai dan aman di muka bumi ini sebagaimana yang diyakini umat beragama bahwa hidup seperti di dalam kerajaan Surga.
Dewasa ini, uang dianggap sebagai Tuhan dan sebaliknya, Tuhan dianggap sebagai uang. Aneh tapi nyata. Nilai-nilai kemanusian dipendam begitu dalam, sedalam kelicikan dan kekejaman manusia tak bermoral. Jika Tuhan saja dianggap uang, bagaimana manusia menganggap sesama manusia yang lainnya? Barangkali mereka menganggap manusia lain sebagai binatang, yang harus diburu hingga dilenyapkan nyawanya.
Jangankan di daerah-daerah konflik seperti Afganistan, Israel-Palestina, Papua, dan daerah-daerah konflik lainnya di dunia, di negara-negara yang tingkat demokrasinya sudah maju saja saling membunuh satu sama lain. Hampir setiap hari diberitakan bahwa terjadi pembunuhan dimana-mana, entah di negara mana pun. Dari semua pembunuhan yang terjadi itu, tak sedikit orang yang mati dibunuh karena ada bayaran entah dari pihak mana pun.
Di daerah-daerah konflik, manusia saling berperang hingga menumpahkan darah. Demi kepentingan uang, manusia saling memata-matai aktifitas manusia lain. Kondisi ini tak jarang terjadi di daerah konflik seperti Papua. Para intelijen sering memata-matai aktivitas warga Papua.
Tak jarang pula mengejar, menangkap, menyiksa dan membunuh orang Papua maupun non-Papua yang selalu vokal menyuarakan aspirasi rakyat Papua dalam berbagai aspek kehidupan. Apalagi orang yang menyuarakan aspirasi Papua Merdeka, orang seperti ini akhirnya ditembak hingga mati. Contoh kasus yang terjadi di Papua adalah pembunuhan terhadap ketua Presideum Dewan Papua, Theys Hiyo Eluay dan Mako Tabuni.
Pembunuhan terhadap kedua tokoh pejuang Papua Merdeka ini, sangat jelas terjadi karena oknum-oknum yang melakukan penembakan itu bakal memperoleh penghargaan dari negara berupa uang dan jabatan. Dan kasus-kasus seperti ini terjadi juga di daerah-daerah konflik yang lainnya.
Guna memperoleh penghargaan itu, manusia yang tak bermoral berlomba-lomba membunuh manusia lain dengan cara yang kejam. Hal ini terjadi karena manusia telah dibutakan oleh uang dan jabatan, sehingga hak hidup manusia dicabut dengan seenaknya. Padahal mereka juga ingin hidup dan berkarya di muka bumi ini sebagaimana yang diinginkan oleh setiap orang. Manusia sering menyeleweng dari larangan yang telah diajarkan oleh agama, adat dan pemerintah.
Menurut agama, hanya Tuhanlah yang bisa mencabut nyawa manusia, tetapi di dunia ini manusia juga bisa dan berani mencabut nyawa manusia. Manusia menyamakan bahkan melebihi hak Tuhan untuk mencabut nyawa manusia. Jika manusia melebihi Tuhan, apa kata Tuhan? Bertobatlah.
Yang jelas tak ada pengampunan sejauh manusia tidak bertobat dan berbalik ke jalan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Maha Pengasih, maka Ia akan memberi pengampunan kepada orang-orang yang bertobat.
Ketika semua orang berlomba mengejar uang dengan berbagai cara, tak ada orang yang berlari mengejar Tuhan. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa, uang dinomorsatukan, sementara Tuhan? Tak tahu, entah dinomorberapakan. Kekacau-balauan hidup manusia di dunia ini diakibatkan karena manusia sering bahkan selalu menomorsatukan uang.
Uang dan Tuhan, adalah dua sosok yang memengaruhi hidup manusia di bumi ini. Ketika manusia berlari mengejar uang dengan cara yang tak halal, kehidupan manusia terjerumus ke dalam dunia yang memautkan. Tetapi, ketika manusia berlari mengejar Tuhan, manusia akan bangkit menikmati kehidupan yang menghidupkan. Tentunya kehidupan yang berkelanjutan, walaupun tubuh manusia membumi ketika ajal menjemputnya.
#LombaEsaiKemanusian