Perdana Menteri baru Inggris Boris Johnson hari Kamis (08/08) menyatakan bahwa pemerintahannya membuka fasilitas "visa jalur cepat" untuk memikat para ilmuwan dan tenaga ahli asing "yang terbaik dan terhebat" datang ke Inggris.
Menurut Biro Pusat Statistik ONS, pertumbuhan ekonomi Inggris dapat kuartal kedua anjlok ke kawasan minus, yaitu menyusut 0,2 persen. Inilah untuk pertama kalinya sejak 12 tahun, perekonomian tidak tumbuh, melainkan menyusut. Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Inggris masih tumbuh 0,5 persen.
Data-data ONS yang dirilis hari Jumat (09/08) menunjukkan, simpang siur dan ketidakpastian soal Brexit membuat sektor manufaktur mengalami kemunduran besar. Sementara sektor konstruksi melemah dan sektor jasa, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan, menunjukkan stagnasi.
Mencari dukungan imigran cemerlang
"Untuk memastikan kita bisa terus memimpin dalam kemajuan pengetahuan, kita tidak hanya harus mendukung bakat yang sudah kita miliki di sini, melainkan juga memastikan sistem imigrasi kita menarik otak-otak terbaik dari seluruh dunia," kata Boris Johnson.
Fasilitas imigrasi jalur cepat pertama-tama akan ditargetkan ke bidang teknik, teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya, kata pemerintah Inggris.
Ketentuan baru ini akan menghapus persyaratan harus memiliki tawaran kerja lebih dulu sebelum datang ke Inggris, dan akan memungkinkan tunjangan bagi imigran untuk mengakses pasar tenaga kerja Inggris. Aturan yang baru juga menghapus pembatasan jumlah pelamar yang ingin ikut program Visa Bakat Tingkat 1.
Kalangan bisnis dan universitas memuji langkah pemerintah. Lembaga-lembaga terkemuka seperti Oxford dan Cambridge sebelumnya memang telah menyuarakan keprihatinan tentang dampak Brexit terhadap para peneliti dan tenaga berbakat mereka.
Tahun akademik 2018-2019 melihat penurunan yang signifikan dalam aplikasi ke universitas-universitas Inggris dari siswa Uni Eropa.
Boris Johnson sekarang juga berusaha untuk memperkenalkan sistem imigrasi gaya Australia berdasarkan poin, yang diberikan untuk kualifikasi pendidikan tinggi, kompetensi bahasa dan keterampilan khusus lainnya.
hp/ts(rtr, afp, ap)
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Juni 2016: Kehendak Rakyat Inggris
Hasil referendum yang diumumkan 24 Juni 2016, hampir 52 persen dari pemilih setuju, Inggris keluar dari Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris saat itu, David Cameron dari partai konservatif menerima "kehendak rakyat Inggris, dan mengundurkan diri sehari setelah referendum..
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Juli 2016: Brexit berarti Brexit
Mantan Menteri Dalam Negeri, Theresa May gantikan posisi Cameron sebagai Perdana Menteri pada 11 Juli. Ia menjanjikan´Brexit berarti Brexit´. Sebelumnya, May diam-diam dukung kampanye Inggris tetap di Uni Eropa. Dia tidak secara jelas mengatakan kapan akan memulai pembicaraan diberlakukannya Pasal 50 Perjanjian Uni Eropa terkait masa dua tahun sebelum Inggris resmi keluar Uni Eropa.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Maret 2017: Kami siap Berpisah
May tandatangani nota diplomatik untuk memulai Pasal 50, 29 Maret. Beberapa jam kemudian, Duta Besar Inggris untuk UE, Tim Barrow serahkan nota itu kepada Presiden Dewan Eropal, Donald Tusk. Inggris dijadwalkan keluar dari Uni Eropa 29 Maret 2019. Tusk merespon nota itu dengan komentar: “Kami sudah siap berpisah. Terima kasih dan selamat tinggal”.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Juni 2017: Perundingan Dimulai
Menteri Brexit, David Davis dan ketua jururunding UE, Michel Barnier memulai perundingan di Brussel pada 19 Juni. Perundingan pertama diakhiri dengan kesepakatan Inggris akan mematuhi aturan UE terkait sisa negosiasi. Tahap pertama membahas persyaratan keluarnya Inggris dan tahap kedua membahas hubungan UE dan Inggris pasca-Brexit.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Juli – Oktober 2017: Uang, Hak-hak dan Irlandia
Tahap kedua perundingan dimulai dengan berfoto bersama tim Inggris yang terlihat tak siap. Perundingan gagal raih kemajuan terkait tiga masalah pasca-Brexit: Berapa banyak yang masih harus dibayar Inggris ke anggaran UE, bagaimana dengan hak warga negara UE dan Inggris dan apakah Inggris tetap dapat membuka perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
November 2017: May Tunjukkan Kemajuan?
Kemajuan baru terlihat setelah putaran perundingan ke-6 di awal November. Inggris setuju untuk membayar 57 miliar Euro atau sekitar Rp 900 triliun sebagai “biaya perceraian”. Awalnya May hanya mau membayar 20 juta, padahal UE telah menghitung biayanya sebesar 60 juta Euro. Laporan konsensi Inggris ini memicu kemarahan di kalangan politikus dan media pro-Brexit.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Desember 2017: Maju ke fase ke-2
Para pimpinan dari 27 anggota UE secara resmi menyetujui “kemajuan yang cukup” itu untuk diteruskan ke fase kedua: transisi periode pasca-Brexit dan masa depan hubungan perdagangan UE-Inggris. Perdana Menteri Theresa May mengungkapkan kegembiraannya atas keputusan ini, sebaliknya Presiden Dewan Eropa, Tusk memperingatkan bahwa perindingan putaran kedua akan “sangat sulit.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
September 2018: Tidak ada ceri untuk Inggris
Proposal May tidak berjalan mulus. Pada pertemuan puncak di Salzburg akhir September, para pimpinan UE sampaikan kepada May bahwa proposalnya tidak dapat diterima. Presiden Dewan Eropa,Tusk menyindir May lewat Instagram dengan postingan foto mereka yang sedang melihat sepotong kue: “Sepotong kue barangkali? Maaf, tidak ada ceri”. Ini sindiran bahwa Inggris cuma mau keuntungan sepihak dari Eropa.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
November 2018: Kemajuan di Brussel
Para pimpinan UE dukung draft kesepakatan perceraian serta deklarasi politis soal hubungan pasca-Brexit setebal 585 halaman. Draft ini dikecam habis anggota parlemen yang pro maupun kontra Brexit dalam perdebatan di Parlemen Inggris beberapa minggu sebelumnya. Menteri Brexit, Dominic Raab bersama dengan beberapa menteri mencoba memicu mosi tidak percaya di bulai Mei.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Desember 2019: May Lolos Dari Mosi Tidak Percaya
Menghadapi oposisi yang sulit, May menunda pemungutan suara di parlemen pada 10 Desember. Besoknya ia bertemu Kanselir Jerman, Angela Merkel untuk mencari kepercayaan diri dalam meyakinkan para anggota parlemen yang skeptis kembali ke kesepakatan. Sementara ia pergi, anggota parlemen dari Partai Konservatif ajukan mosi tidak percaya. May menang mosi kepercayaan di hari berikutnya.
-
Brexit: Tarik Ulur Politik Inggris Keluar Dari Uni Eropa
Januari 2019: Kesepakatan ditolak
Kesepakatan Brexit May, ditolak Parlemen Inggris dengan 432 suara dan hanya 202 suara mendukungnya. Sebagai respon hasil tersebut, Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk sarankan agar Inggris tetap bertahan di Uni Eropa. Partai Buruh Inggris menyerukanmosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri. Ini adalah tantangan berat dalam kepemimpinan kedua May dalam bulan-bulan terakhir.