Konflik merupakan sebuah aspek yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sosial, ketika seseorang berada di suatu lingkungan di mana kepentingan, nilai dan keyakinan yang selama ini diyakini berbeda dengan lingkungan baru yang dihadapi maka akan timbul sebuah konflik ataupun masalah-masalah karena munculnya berbagai hambatan yang harus dilalui.
Pada saat ini, dunia internasional dihadapkan dengan frekuesi konflik-konflik di berbagai wilayah, bahkan sebuah konflik internal pun turut memberikan efek yang besar bagi masyarakat setempat dan lingkungan sekitar.
Penyebab konflik pun beraneka ragam. Akan tetapi, sebagian besar untuk keperluan dasar seperti keamanan, pengakuan dan penerimaan juga akses yang adil bagi semua golongan.
Konflik yang terjadi di sebuah negara pun tak lepas dari peran pemerintah dalam negaranya. Kerapkali konflik yang terjadi di suatu negara dan berlangsung berlarut-larut dikarenakan kepemimpinan pemerintahannya yang buruk. Pemerintah yang tidak mampu memenuhi keinginan dasar individu ataupun kelompok akan menimbulkan kekecewaan dan pemberontakan dari warga negaranya.
Pemerintah atau pemimpin yang mengambil suatu kebijakan dan tindakan yang berbeda-beda, seperti diskriminasi yang lebih memihak suatu kelompok mayoritas dan mengabaikan kelompok-kelompok minoritas bahkan menentukan hak politik hanya untuk kelompok atau etnis tertentu tentunya juga menjadi akar sebuah konflik di suatu negara.
Konflik internal yang terjadi di suatu negara juga bisa disebabkan oleh para elit tertentu, kaum elit yang sering memaksakan ideologinya untuk mengatur dan mengambil sebuah kebijakan dan juga kaum elit atau pemimpin yang ingin mengamankan kekuasaan atau power untuk kepentingan pribadinya.
Hal-hal tersebutlah yang juga memberikan pengaruh cukup besar terhadap sebuah konflik internal, ketika seorang pemimpin yang harusnya mengakomodasi kepentingan rakyatnya, tetapi dengan kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar membuatnya seakan terbelenggu kenikmatan dan melupakan tujuan serta tugas utamanya sebagai seorang pemimpin.
Konflik juga bisa terjadi ketika terdapat kesenjangan antar kelompok atau masyarakat, ketika perbedaan yang kaya akan miskin begitu terlihat, ketika kesejahteraan masyarakat tidak bisa dipenuhi bahkan ketika jarak antara harapan dan kenyataan juga tak bisa di minimalisir, maka terjadinya sebuah konflik pun tak dapat dihindari.
Faktor tersebut bisa kita anologikan ketika seseorang sedang dalam posisi lapar, maka emosinya pun kerap kali meningkat, begitu pula ketika kondisi ekonomi masyarakat melemah dan mereka harus hidup dalam krisis ekonomi berkepanjangan, maka masyarakat tersebut akan menuntut dan meminta pemerintahannya untuk segera mengambil kebijakan bahkan tidak segan untuk menggulingkan rezim pemerintahannya.
Pada akhirnya konflik internal yang terjadi di sebuah negara akan memberikan efek dan pengaruh bagi negara-negara sekitarnya. Bahkan jika konflik bersenjata terjadi maka tidak bisa dipungkiri para korban konflik atau masyarakat yang berada di zona konflik sebagian dari mereka akan memilih untuk pindah ke wilayah lain atau zona bebas konflik.
Perpindahan masyarakat atau banjirnya pengungsi ini juga akan mengakibatkan konflik baru baik bagi para pengungsi itu sendiri ataupun diantara pengungsi dan masyarakat yang menetap di wilayah yang baru mereka datangi. Perpindahan masyarakat yang relatif besar pun tentunya akan menarik perhatian negara-negara lainnya.
Ketika konflik internal akhirnya menarik perhatian negara lain bahkan organisasi internasional, kerap kali negara yang memiliki pengaruh dan kekuasaan yang lebih besar menggunakan alasan turut membantu menyelesaikan konflik dan melakukan intervensi.
Tentunya bukanlah masalah ketika negara atau sekutu terdekat benar-benar ingin membantu menyelesaikan konflik yang terjadi, akan tetapi keterlibatan atau intervensi pihak asing dalam suatu konflik internal pada umumnya juga bisa menyebabkan konflik internal tersebut semakin berkepanjangan.
Dalam sebuah konflik, pemerintah dan para pemberontak ataupun oposisi sering kali mendapatkan dukungan dari negara-negara yang berbeda, sehingga ketika alasan membantu menyelesaikan konflik atau pengiriman bantuan bagi para masyarat sipil dan pengiriman angkatan bersenjata untuk para pemegang kekuasaan. Hal ini juga bisa menjadi perang antara dua kubu atau pemegang kekuasaan yang berbeda.
Sehingga bukannya konflik internal di sebuah negara tersebut bisa segera terselesaikan, tetapi malah semakin berlarut-larut dan mengakibatkan semakin banyak korban yang berjatuhan.
Jika mengutip dari buku Resolusi Damai Konflik Kontemporer, salah satu resolusi konfik untuk konflik internal yakni ketika para pelaku konflik menilik lebih dalam akar dari konflik tersebut. Para pelaku konflik bisa melakukan diplomasi atau negosiasi agar bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang terjadi.
Tony Benn juga mengungkapkan bahwa “ A war represents a failure of diplomacy”, kalimat tersebut menunjukan bahwa ketika diplomasi tidak bisa dicapai maka sebuah perang bisa saja terjadi.
Oleh sebab itu, sebelum pelaku konflik memutuskan untuk melakukan perang ataupun konflik bersenjata, akan lebih baik jika para pelaku konflik mengoptimalkan langkah negoisasi dan juga mediasi agar permasalahan yang ada dapat terselesaikan.
Karena sebuah perang atau pun penggunakan senjata bukanlah solusi yang baik dalam menyelesaikan sebuah masalah ataupun konflik, akan banyak korban yang berjatuhan, akan banyak pihak yang dirugikan, kehilangan, kematian, dan derai air mata kehilangan keluarga, harta dan benda tentunya tak akan bisa dihindari.
“World peace must develop from inner peace, peace is not just mere absence of violence, peace is, I think, the manifestation of human compassion”. – Dalai Lama