Oleh: IRENE SARWINDANINGRUM
"Nanti kamu bakal 'ngalamin' orang seperti burung, tinggal di atas tidak memijak tanah," demikian pernah didengar Mu'minah dari ayahnya ketika dirinya terpaksa meninggalkan kampungnya di Senayan untuk pindah ke Tebet, Jakarta Selatan. Tak pernah ia sangka, dalam waktu 40 tahun, kata-kata ayahnya menjadi nyata.
Saat Mu'minah (95) tiba di Tebet tahun 1960 setelah terkena penggusuran proyek pembangunan kompleks olahraga Senayan, Tebet masih berupa rawa-rawa nyaris tak berpenghuni. Rumahnya hanya satu dari empat rumah di sepanjang jalan yang ia tempati saat itu. Sekarang, rumah Mu'minah berada di tengah permukiman padat.
Dua gedung apartemen belasan lantai terlihat dari sana.
"Eh, ternyata bener ayah saya dulu. Sekarang manusia tinggal di atas seperti burung," katanya, merujuk pada apartemen-apartemen itu, di rumahnya di Jalan Tebet Utara 4C, Jakarta Selatan, Selasa (11/10).
Dalam lima dekade, perubahan kawasan Tebet begitu masif. Dari rawa-rawa tak berpenghuni, kawasan ini menjadi simpul kreativitas anak muda di era 1970-1990-an, hingga sekarang menjadi kawasan usaha dan tempat nongkrong gaul anak-anak muda Jakarta.
Malam-malam di Tebet yang dulu gelap gulita kini gemerlap oleh lampu-lampu hias dari puluhan distro, rumah makan, dan kafe. Kemacetan di jalan-jalan utamanya cukup membuat frustrasi di pagi dan sore hari.
Perkembangan kawasan Tebet tak lepas dari penggusuran perkampungan di Senayan yang diawali 19 Mei 1959. Kebijakan itu dikenal sebagai penggusuran besar-besaran pertama dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Pembebasan lahan sekitar 300 hektar dilakukan guna pembangunan kompleks olahraga Senayan dan kampung atlet untuk perhelatan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) sebagai tandingan Olimpiade.
Sekitar 60.000 orang dipindahkan, empat kampung terdampak penggusuran, yaitu Kampung Senayan, Petunduan, Kebon Kelapa, dan Bendungan Hilir (Kompas, 26 Mei 2006). Saat ini, Kampung Petunduan dan Kebon Kelapa sudah lenyap jejaknya.
Saat penggusuran itu, Mu'minah sudah beranak empat. Keluarga itu mendapat ganti tanah seluas 150 meter persegi di jalan yang saat itu disebut Jalan Ganefo 2. Ia lalu pindah ke Jalan Ganefo 6.
"Waktu itu ada juga ganti rugi uang untuk rumah, tetapi tidak seberapa. Tidak cukup buat bangun rumah baru," katanya.
Seiring pergantian presiden dari Soekarno menjadi Soeharto, jalan-jalan di sana tak lagi menggunakan kata Ganefo, tetapi menggunakan nama arah angin, seperti Tebet Utara, Tebet Barat, dan Tebet Timur.
Haji Muhammad Rais (82), warga asli Kampung Kebon Baru Ceremai yang sekarang disebut Tebet Barat, mengatakan, kawasan Tebet dulu hanya sebutan warga sekitar untuk kawasan rawa-rawa berkebun lebat tak berpenghuni di sekitar kampung mereka.
Kata "Tebet", kata Rais, artinya 'kebonan lebat' dalam bahasa sehari-hari Betawi. Adapun daerah permukiman merupakan kampung-kampung yang punya nama sendiri.
Sejak gusuran Senayan, nama kampung-kampung itu dilebur menjadi Tebet. "Sekarang ada nama-nama kampung lama yang sudah tidak ada lagi," ucapnya.
Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone. Syarat & Ketentuan