Perusahaan rokok di Indonesia terus mencatatkan pendapatan yang luar biasa, meski cukai hasil tembakau hampir terus naik setiap tahunnya. Bahkan, pertumbuhan pendapatan perusahaan rokok bisa mengalahkan perusahaan fast food.
Rokok dan fast food adalah dua lini bisnis yang memberikan dampak negatif ke masyarakat. Rokok jelas mencemari udara dan menganggu kesehatan perokok maupun yang hanya menghirup asapnya saja.
Di sisi lain, fast food juga memberikan dampak negatif dari sisi kesehatan manusia seperti, obesitas. Lalu, dampak negatif ke lingkungan dalam bentuk limbah minyak goreng dan plastik kemasan sampah.
BACA INI: Survei Konsumen Bank Indonesia Sebut Masyarakat Mulai Belanja, Bakal Bangkit dari Resesi Nih?
Lalu, keberadaan fast food pun memicu lahirnya lahan-lahan peternakan baru yang bisa meningkatkan pemanasan global.
Rokok dan fast food adalah beberapa sektor bisnis ritel dengan potensi konsumen terbesar di Indonesia. Bayangkan, dari lima produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja mencatat pendapatan senilai Rp238,97 triliun pada 2019. Angka itu lebih dari setengah dari biaya pemindahan ibu kota Indonesia.
Lalu, empat pemilik restoran fast food di BEI mencatat pendapatan Rp11,61 triliun pada 2019. Angka itu memang lebih kecil dibandingkan dengan omzet perusahaan rokok, tetapi pendapatan itu bisa setara dengan biaya pembangunan satu sampai dua ruas jalan tol.
Rincian Pendapatan Perusahaan Rokok
Dua perusahaan rokok terbesar yang sudah melantai di BEI, yakni PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) sudah mencatatkan pendapatan tembus Rp100 triliun pada 2019. Sumber pendapatan kedua perusahaan itu antara lain, dari aktivitas ekspor dan penjualan domestik.
Dari data laporan keuangan kuartal III/2020 GGRM, porsi penjualan domestik mencapai 98,32 persen dari total pendapatan yang senilai Rp83,37 triliun. Begitu juga dengan HMSP, 99,74 persen pendapatannya berasal dari konsumsi domestik.
Masyarakat yang merokok di Indonesia memiliki andil besar memperkaya GGRM dkk setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia sudah menaikkan cukai rokok setiap tahunnya, teranya tahun depan naik 12,5% demi meredam laju konsumsi.
Sayangnya, konsumen rokok seperti tak memikirkan kenaikan harga dan terus meningkatkan konsumsi hingga dua perusahaan rokok di bursa raup omzet masing-masing tembus Rp100 triliun.
Tenaga Kerja dan Tembakau Impor
Jika para perokok masih berdalih kalau industrinya padat karya dan menjadi tumpuan nasib petani, tampaknya itu harus dipikirkan ulang lagi juga. Soalnya, produk rokok yang lebih populer saat ini adalah produksi dari sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.
Kedua produk itu memiliki kebutuhan bahan baku tembakau impor dan kurang padat karya karena produksinya sudah menggunakan mesin.
GGRM mencatatkan 89,81 persen pendapatannya berasal dari produk sigaret kretek mesin. HMSP mencatat 89,48 persen pendapatannya berasal dari produk sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.
Di sisi lain, produk sigaret kretek tangan yang menyerap banyak tenaga kerja dan tembakau dari petani perlahan mulai tergerus permintaannya. Bahkan, jika melihat persentase pendapatan dari sigaret kretek mesin dan putih mesin, porsi omzet dari sigaret kretek tangan hanya di bawah 10 persen.
Untuk itu, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan cukai sigaret kretek tangan. Alasannya, demi bisa menyerap tenaga kerja dan tembakau petani, serta bisa membuat harganya lebih menarik ketimbang kretek mesin.
Waralaba Fast Food Asing yang Menggoda
Beberapa waktu lalu, warganet di Indonesia sempat dihebohkan terkait rencana pembukaan Subway, waralaba fast food asal Amerika Serikat (AS), di Indonesia. Sayangnya, kabar itu hanya hoaks belaka karena akun Subway Indonesia itu hanya dibuat oleh orang iseng.
Di sisi lain, Taco Bell justru yang siap membuka gerai pertamanya di Indonesia. Waralaba makananan yang satu grup dengan KFC dan Pizza Hut itu akan dibuka di Indonesia oleh PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST), yang juga pegang lisensi KFC.
Masyarakat yang merespons secara luar biasa atas kehadiran Subway, meski ternyata hoaks, serta FAST yang tertarik bawa Taco Bell ke Indonesia menjadi sinyal omzet dari bisnis fast food cukup legit.
Skema bisnsi waralaba fast food juga menggiurkan sekali. Cukup bermitra lewat biaya lisensi saja, mereka sudah bisa mendulang triliunan rupiah tanpa perlu memikirkan model bisnis dari nol.
Inovasi Rokok dan Fast Food Melawan Stigma Negatif
Masyarakat yang sangat menggilai produk rokok dan fast food bukan berarti perusahaan di sektor itu mengesampingkan stigma negatif yang ada. Mereka pun ‘berupaya’ melakukan inovasi agar stigma negatif bisa diredam sedikit demi sedikit.
Sampoerna membuat kejutan dengan berencana membuat produk rokok tanpa asap bernama Iqos. Inovasi produk itu sebagai upaya meredam dampak negatif asap rokok yang bisa membahayakan orang sekitar.
Di sisi lain, KFC juga sudah membuat gebrakan di tengah pandemi Covid-19 dengan melahirkan cabang fast food dengan konsep ramah lingkungan. Bahkan, KFC Naughty by Nature itu sampai viral di media sosial dan kena sanksi karena melanggar pembatasan sosial berskala besar di Jakarta.
Upaya inovasi itu dilakukan agar mereka bisa tetap mencatatkan pertumbuhan omzet dalam skala bisnis secara berkelanjutan. Dari mana omzet mereka dapatkan? Dari uang masyarakat yang tergila-gila dengan produknya.