TELENEWS.ID – Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan memiliki lempengan tenaga surya apung yang terbesar di dunia. Hal ini disampaikan oleh Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika.
Melalui PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), Indonesia telah menjajaki kerja sama dengan perusahaan energi terbarukan Masdar dari Abu Dhabi untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di kawasan waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat.
Sebagaimana namanya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah ‘mesin’ untuk menghasilkan tenaga listrik dengan menggunakan tenaga surya, alias matahari, sebagai bahan bakunya. Mengutip dari media energi solar Janaloka, PLTS termasuk salah satu dari sekian jenis aplikasi yang mengubah tenaga surya menjadi tenaga listrik. PLTS juga sering disebut sebagai listrik surya, panel surya, dan sistem fotovoltaik yang umum digunakan oleh masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.
Kerja sama pembangunan PLTS Cirata tertulis dalam perjanjian Power Purchase Agreement (PPA) antara konsorsium investor PT PJB Investasi (PT PJBI dan Masdar) dan PT PLN (Persero). PPA yang sudah ditandatangani 12 Januari 2020 di Abu Dhabi.
Mega proyek ini ditaksir bernilai USD 18.8 miliar dengan total investasi USD 129 juta. Dengan angka yang fantastis tersebut, PLTS Cirata akan berkapasitas 145 Megawatt (MW). Dengan daya sebesar ini, lempengan tenaga surya terbesar di dunia ini sekaligus memecahkan rekor sebagai pembangkit bertenaga matahari terbesar di ASEAN, mengalahkan PLTS di Filipina, Cadiz Solar Power Plant yang hanya berkapasitas sekitar 132.5 MW.
PLTS yang dinamakan Cirata Floating Photovoltaic (PV) Power Plant tersebut akan siap dibangun pada 2021 mendatang.
Baca Juga : Hari Raya Natal Tahun Ini Digelar Virtual
“Alhamdulillah peresmian pembangunan 145 MW Cirata Floating Photovoltaic (PV) Power Plant, di Waduk Cirata, Cipeundeuy, di Kabupaten Bandung Barat, telah dilaksanakan,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Setiawan Wangsaatmaja dilansir dari Antara, Sabtu (19/12/2020).
Pembangunan Cirata Floating Photovoltaic (PV) Power Plant merujuk pada Persetujuan Paris dalam kerangka UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Persetujuan tersebut menekankan pada reduksi emisi karbondioksida yang mulai berlaku sejak 2020. Persetujuan Paris sendiri dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2015 di Paris, Prancis.
Sistem Cirata Floating Photovoltaic (PV) Power Plant adalah ditanam di atas air waduk Cirata yang memiliki luas lebih dari 200 hektare. Nantinya, PLTS tersebut akan menambah bauran energi terbarukan PLN untuk mencapai proyeksi target yang tertuang dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Dalam RUKN tersebut, Indonesia ditargetkan akan memiliki bauran energi terbarukan sebanyak 23 persen di tahun 2025.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana juga menjelaskan, PLTS terapung ini salah satu upaya menggali potensi energi surya di Indonesia yang diproyeksikan mencapai 207 gigawatt (GW). Sedangkan, pemanfaatan energi surya saat ini baru menyentuh 150 megawatt (MW).
Melihat pada kontribusi untuk masyarakat sekitar, menurut Anne, proyek pembangunan PLTS tersebut akan memberikan banyak manfaat bagi penyediaan tenaga listrik baru yang ramah lingkungan. Proyek nasional tersebut juga diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lokal. Dengan begitu, Anna mengatakan, tingkat pengangguran di wilayah Tegalwaru dan Maniis akan berkurang.
Sementara itu, Direktur Aneka EBT, Harris mengatakan, proses pembangunan PLTS diperkirakan akan memakan waktu selama 16 bulan.
“Harga jual tenaga listrik nya pun telah ditetapkan, yaitu 5.8179 cUSD/kWh,” Harris menambahkan.
Harris menjelaskan, inisiasi pembangunannya sendiri sudah dimulai sejak 2017 lalu. Inisiasi tersebut ditandai dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia (MESDM) dengan Pemerintah Persatuan UEA tentang Kerjasama Energi pada 16 Januari 2017. Kemudian, ditindaklanjuti dengan Nota Kesepahaman antara PJB dengan MASDAR tentang Development of Large Scale Power Projects in RI pada 16 Juli 2017. Pembangunan PLTS Cirata akan mulai dibangun pada tahun 2021.
Sebagai tambahan, PLTS Terapung Cirata adalah salah satu dari total 16 kerja sama yang terjalin antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA). 11 perjanjian kerja sama di antaranya merupakan bisnis di bidang energi dengan total nilai mencapai USD 22.89 miliar atau setara dengan Rp. 413.9 triliun. Selain perjanjian bisnis tersebut, lima kerja sama lainnya termasuk dalam bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan dan penanggulangan terorisme.