Dark/Light Mode
- Francesca Sofia Novello, Terkurung Di Kamar Hotel
- Elang Jawa Rombak Pasukan
- Patahkan Bhayangkara Solo FC 2-1, Persija Maju Ke Babak 8 Besar
- Polisi Datangi Rumah Perempuan Penyerang Mabes Polri
- Masyarakat Antusias Ikuti Program Vaksinasi Covid-19
Sebelumnya
Ini merupakan kemarahan Jokowi keenam kepada para anak buahnya dalam tahun ini. Sebelumnya, Jokowi marah besar pada Sidang Kabinet Paripurna pada 18 Juni lalu. Penyebabnya, banyak menteri kerja lamban di tengah pandemi. Kemudian, di 27 Juli, Jokowi kembali marah. Gara-gara masih rendahnya penyerapan anggaran stimulus dan pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19.
Dua hari setelahnya, 29 Juli, Jokowi marah lagi. Nada bicara tinggi ketika menyinggung prosedur birokrasi Indonesia yang lambat. Selanjutnya, dalam Rapat Kabinet Terbatas 3 Agustus, Jokowi kembali menjewer para menteri. Gara-gara serapan anggaran masih rendah. Di 5 Oktober, Jokowi juga marah. Saat itu, karena tingginya impor garam.
Berita Terkait : Jokowi Puji Kiprah Muhammadiyah Di Bidang Pendidikan dan Kesehatan
Karena sudah keseringan, warganet menanggapi kemarahan Jokowi biasa-biasa saja. "Nggak kaget lagi, Pak Jokowi udah keseringan kok marah... Abis marah, nanti juga baikan lagi sama bawahannya....," kicau @rakyat_biasa12.
Sedangkan akun @asepmulyadi13 menyebut, kemarahan Jokowi nggak berefek ke perbaikan kinerja para menterinya, "Marah sih marah. Tapi nggak ngapa-ngapain. Ya percuma," tulisnya.
Berita Terkait : Presiden Jokowi Minta Kadin Pacu Kinerja Sektor Pangan
Akun @berkicaumerdu malah berandai-andai. "Andai sehabis marah, langsung reshuffle, baru pedas lagi gertakannya. Kalau nggak, jadi tawar dan biasa. Nggak ngefek apa pun....," sentilnya.
Akun @Gajelasgitulah malah kasihan melihat Presiden Jokowi keseringan marah. Harusnya, menurut dia, Jokowi langsung ambil tindakan nyata. "Nggak capek Pak marah mulu. Mending langsung eksekusi aja, copot. Kasihan uang rakyat kepake buat pejabat yang gak berguna...," tulisnya. [SAR]