Indonesiainside.id, Jakarta – Seorang peserta aksi demo Kyal Sin atau dikenal dengan nama Angel tewas ditembak di kepala oleh satuan polisi Myanmar. Gadis ini menjadi salah satu dari puluhan warga Myanmar yang meninggal dalam bentrok menentang aksi kudeta yang terjadi pada demo, Rabu (3/3).
Kyal Sin adalah seorang juara taekwondo yang menjadi korban kebringasan polisi di Myanmar.
Akibat insiden berdarah tersebut, kata Myanmar dan Angel menduduki trending topik pembicaraan di media sosial. Tercatat hingga pukul 11.00 WIB, ada 2 juta lebih postingan mengenai meninggalnya Angel dan demonstrasi di Myanmar.
Netizen mengunggah aksi brutal polisi yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 38 orang demonstran.
“Semuanya akan baik-baik saja,” bunyi kalimat kaos hitam yang dikenakan Angel saat dia tewas tertembak polisi di kepala.
Sedikitnya 38 orang tewas pada hari ‘paling berdarah’ saat krisis Myanmar, kata sumber Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ini terjadi setelah junta militer secara brutal melakukan aksi keras melawan protes yang berkembang.
Keadaan semakin tak terkendali di Myanmar .Seorang gadis pengunjuk rasa berumur 19 tahun ini ditembak dan dibunuh oleh tentara hari ini di Mandalay. #PrayForMyanmar🇲🇲 #JusticeForMyanmar#WhatsHappeningInMyanmar#HearTheVoiceOfMyanmar#AungSanSuuyuki#kyalsin #makyalsin pic.twitter.com/swD4Wu3rDs
— BANGOR.in (@bangordotin) March 4, 2021
Myanmar berada dalam kekacauan sejak 1 Februari lalu ketika militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, dan memicu protes harian besar-besaran.
Tekanan internasional meningkat karena kekuatan Barat berulang kali menekan Jenderal Myanmar dengan sanksi. Sedangkan Inggris juga menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB, dan setelah banyaknya kematian kemarin, AS mengatakan sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut.
Namun, junta sejauh ini mengabaikan kecaman global, menangani protes kekerasan yang berkembang.
“Hari ini saja 38 orang telah tewas,” kata utusan PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener mengatakan kepada wartawan.
Ditambahkannya, lebih dari 50 orang telah tewas sejak aksi kudeta militer, dengan lebih banyak lagi yang terluka.
“Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta,” katanya.
Dia meminta PBB untuk mengambil tindakan keras terhadap para jenderal militer Myanmar. (EP)