Wacana seputar kenakalan remaja sudah menjadi isu sentral di ruang publik. Ironinya tindakan ini sering kali terjadi pada kalangan pelajar yang notabene adalah orang yang berpendidikan atau orang yang terdidik. Media komunikasi, media massa, baik elektronik maupun nonelektronik sering kali menyajikan berita-berita tak sedap tentang kenakalan-kenakalan yang terjadi pada siswa bahkan sampai pada tingkat mahasiswa.
Mulai dari perkelahian pelajar antara sekolah, perkelahian mahasiswa antara kampus maupun antarfakultas, bertukar gambar dan film porno via handphone, mengedar dan mengonsumsi narkoba, seks bebas bahkan sampai pada bunuh diri.
Berita-berita seputar kenakalan remaja ini yang dipelopori oleh siswa atau mahasiswa seakan-akan sudah menjadi menu harian media massa maupu media komunikasi. Di mana-mana terjadi perkelahian, tawuran seks bebas, dan bunuh diri.
Seperti yang terjadi di Ende seorang siswa yang melakukan aksi bunuh diri karena tidak lulus ujan nasional (Flores Pos, 3 Februari 2008), di tempat yang sama pula terjadi tawuran antara sekolah gara-gara seorang siswa menjelekkan sekolah tetangganya itu melalui SMS (Pos Kupang, 5 September 2010).
Aksi- aksi yang dilakukan oleh para pelajar di atas menunjukan sikap yang tidak mencitrai kehidupan dan tidak menghargai pendidikan. Seolah hidup mereka tidak mempunyai masa depan.
Mereka hanya memikirkan hidup merka untuk dinikmati pada saat sekarang sehingga dengan leluasa mereka melakukan aksi-aksi amoral yang melecehkan martabat hidupnya dan martabat pendidikan itu sendiri. Hidup mereka penuh dengan masalah, penuh dengan tindakan-tindakan amoral yang sangat ditentang oleh masyarakat, apa lagi predikat mereka sebagai pelajar.
Masyarakat sungguh mengaharapkan agar mereka (siswa dan mahasiswa) bisa menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan bangsa. Tetapi harapan itu hanyalah harapan semu yang tak punya nilai untuk diharapkan. Para pelajar melakukan berbagai aksi yang sungguh-sungguh tidak mencerminkan eksistensi mereka sebagai pelajar, sebagai orang yang terdidik.
Pendidikan yang mereka terima dan mereka dapat di sekolah seolah-olah tak punya makna bagi pembentukan kepribadian mereka. Seakan-akan pendidikan itu hanyalah label penanda bahwa mereka adalah pelajar, tetapi sikapnya sungguh tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang yang terdidik.
Berkaca pada realitas di yang ditunjukkan di atas yang masih terus terjadi hingga saat ini, maka kita sebagai generasi penerus masyarakat, bangsa dan negara ini tentu merasa prihatin dengan situasi ini.
Tetapi kita tidak hanya sebatas prihatin saja melainkan mencari jalan keluarnya yaitu dengan menata dan melihat kembali peran penting pendidikan dalam keluarga dalam membentuk karakter anak-anak sehingga mereka bisa menemukan arti dan makna hidupnya serta menghargai nilai-nilai luhur hidupnya.
Dengan demikian masa depan anak-anak itu akan lebih cerah seperti adasebuah kata bijak yang mengatakan “perhatikanlah kebiasaanmu karena itu menjadi karaktermu. Bangunkanlah karaktermu karena itu akan menentukan masa depanmu”.
Kata bijak ini hendaknya menjadi pedoman bagi para orang tua untuk membiasakan anak-anaknya dididik dalam keluarga sehingga sedikit demi sedikit karakter anak akan terbentuk dengan baik. Jika karakter anak sudah ditata dengan baik maka dengan mudah para orang tua membangunkan, membangkitkan karakter anak-anak, sehingga anak-anak itu bisa meraih masa depan yang cerah.
Walaupun kita menyadari bahwa tugas itu bukanlah tugas yang mudah karena mereka harus berhadapan dengan orang yang keras kepala, susah diatur dan orang yang bertindak sesuka hati. Tugas yang berat ini bukan tidak mungkin membutuhkan bantuan dari pihak lain yaitu pihak sekolah (lembaga pendidikan).
Tetapi kita harus ingat tidak semua anak sejak kecilnya menjadi tanggung jawab Sekolah. Kita tidak boleh salah tafsir bahwa anak-anak yang sudah diserahkan kepada sekolah untuk dididik adalah sepenuhnya tanggung jawab sekolah.
Kita harus tahu bahwa kewajiban sekolah hanya membantu keluarga dalam proses mendidik anak-anak. Kekuasaan orang tua (keluarga) terhadap pendidikan anak-anaknya tetap (tidak berubah), biarpun anak-anak itu sudah diserahkan kepada pihak sekolah.
Pendidikan yang terjadi di sekolah sekedar melanjutkan pendikan anak-anak yang telah dilakukan orang tua di rumah. Berhasil atau tidaknya pendidikan di sekolah bergantung pada pendidikan yang dilakukan di keluarga. Di sini pendidikan dalam keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kesuksesan pendidikan anak-anak selanjutnya.
Para orang tua harus tahu dan ingat, bahwa pendidikan dalam keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak-anak selanjutnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak-anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak-anak selanjutnya baik di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Demikianlah tidak dapat disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga bagi perkembangan anak-anak menjadi manusia yang berpribadi, yang bisa berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa; menjadi orang yang tahu menghargai orang lain, tahu menghargai dan bisa mempertahankan nilai-ailai luhur dari hidup.
Karena hidup itu merupakan anugrah Allah yang paling luhur. Jika kita bisa melakukan hal-hal di atas, kita sebenarnya mencintai, menghargai dan bertanggung jawab terhadap Allah selaku pemberi kehidupan. Ini semua akan terwujud apa bila pendidikan dalam keluarga sungguh-sungguh diperhatikan.
Ada bebarapa ahli yang mengatakan pentingnya pendidikan dalam keluarga, misalnya dalam buku Drs. M. Ngalim Purwanto, MP. Yang berjudul Ilmu Pendidikan Teoritis, mengemukakan bebrapa pendapat itu.
Pertama, Comenius (1592-1670), seorang ahli didaktik yang terbesar. Dalam bukunya yang berjudul didaktica Magna, di samping mengemukakan asas-asas didaktiknya, juga menekankan betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga itu bagi anak-anak yang sedang berkembang.
Dalam urainnya tentang tingkatan-tingkatan sekolah yang dilalui oleh anak-anak sampai mencapai tingkat kedewasaan, Ia menegaskan bahwa tingkatan pemulaan bagi pendidikan anak-anak dilakukan dalam keluarga, yang disebutnya scola materna (sekolah ibu).
Untuk tingkatan ini dia menulis sebuah buku berjudul informatorium. Isinya mengutarakan bagaimana orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan bijaksana, untuk memuliakan Tuhan dan untuk keselamatan jiwa serta untuk menghargai nilai luhur dari hidup yang merupakan anugrah Tuhan yamg paling luhur.
Kedua, J.J. Rosseau (1712-1778), sebagai salah seorang pelopor ilmu jiwa anak mengutarakan pula betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga. Ia menganjurkan agar pendidikan anak-anak disesuaikan dengan tiap-tiap masa perkembanganya sedari kecil. Dasar pendidikan Rosseau ialah alam anak-anak yang belum rusak; anak-anak yang harus dididik sesuai dengan alamnya.
Maksudnya, Pikiran, perasaan dan kemampuan mereka berbeda dengan orang dewasa. Kata- kata ini hendaknya menjadi pedoman bagi para pendidik umumnya khususnya orang tua.
Ketiga, C.G. Salzmann (1744-1811), seorang penganut aliran Philantropinum, juga telah mengkritik dan mengecam pendidikan yang telah dilakukan oleh para orang tua pada zamannya. Dalam karangannya Krebsuchlein (Buku Udang Karang), Salzmann mengatakan bahwa segala kesalahan anak- anak adalah akibat dari perbuatan pendidiknya.
Orang tua pada zamannya dipandang segagai penindas yang meyiksa anak-anaknya dengan pukulan yang merugikan kesehatan dan menyakiti perasaan-perasaan kehormatannya. Di sini Salzmann hendak mengatakan pendidikan dalam keluarga sangat penting dan berpengaruh bagi perkembagan watak anak- anak.
Pendapat-pendapat para ahli di atas semuanya mengindikasikan bahwa pendidikan dalam keluarga mempunyai dampak atau pengaruh yang sangat besar bagi pembinaan, pembentukan, perkembangan watak atau karakter anak dan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya. Berhasil atau tidaknya anak-anak dalam menempatkan atau memposisikan dirinya dalam lingkungan masyarakat bergantung pada keluarga.
Keluarga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar bagi keberhasilan anak-anak dikemudian hari. Karena itu dianjurkan agar keluarga (orang tua) membiasakan anak-anaknya dididik dalam keluarga, jangan terlalu berharap penuh pada pihak sekolah, karena sekolah sifatnya hanya melanjutkan pendidikan yang telah ditempa dalam keluarga.
Pendidikan dalam keluarga harus digerakkan dan dihidupkan kembali serta dilakukan dengan sebaik mungkin. Sebab apa yang kita tanam pada saat sekarang itulah yang kita petik dikemudian hari. Bukan jika yang ditanam mangga maka yang dipetik adalah jeruk atau kelapa. Jika yang ditanam adalah mangga sudah pasti yang dipetik nanti adalah mangga.
Analogi ini sedikitnya menggambarkan situasi atau proses pendidikan yang terjadi dalam keluarga. Jika pada saat sekarang para orang tua menanamkan nilai-nilai positif, nilai-nilai yang baik dari sisi kehidupannya kepada anak-anak, maka pada suatu saat di mana anak itu sudah dewasa pasti akan melakukan hal-hal serupa dan bahkan melebihi apa yang telah diberikan kepadanya.
Sebaliknya, Jika pada saat sekarang para orang tua menanamkan nilai-nilai yang kurang baik atau buruk, maka anak itu pasti akan melakukan hal-hal yang buruk pula bahkan melakukan hal-hal yang lebih buruk.
Hal baik atau buruk inilah yang menjadi buah dari apa yang telah ditanam oleh para orang tua pada waktu dahulu. Karena ada pepatah mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Jadi, lakukanlah hal-hal yang baik bagi anak-anak jika ingin mendapatkan hal-hal terbaik dari anak.