Benyamin Sueb, Menghidupkan Budaya Betawi Untuk Hidup
17 Oktober 2018 , 18:00
JAKARTA – Base Betawi menyeruak di antara bahasa daerah lain di Indonesia. Kemiripan dengan bahasa Indonesia dan ringan diucapkan menjadikan base Betawi sebagai lingua franca percakapan masyarakat Indonesia.
Tersebut tiga tokoh yang memberi kontribusi meluaskan pengaruh base Betawi pada zamannya masing-masing. SM Ardan, Firman Muntaco, lalu Benyamin Sueb.
Bagi masyarakat Betawi, SM Ardan boleh jadi lebih dikenal sebagai seniman Betawi daripada sebagai sastrawan Indonesia. Firman Muntaco menjadi penulis cerpen berbahasa Betawi dalam berbagai media massa sejak tahun 1960-an. Keduanya bergelut dengan dunia sastra untuk mengembangkan base Betawi dalam ranah literasi.
Begitu pula dengan pengembangan base Betawi oleh Benyamin Sueb. Bang Ben, begitu sapaan orang padanya, melengkapi penetrasi bahasa Betawi, dari semula mewabah di media cetak, dia salurkan ke media film. Alhasil, pengaruhnya base Betawi tak terbendung lagi. Masyarakat Indonesia menjadikan base Betawi sebagai percakapan sehari-hari ketimbang bahasa Indonesia.
Banyamin Sueb, seniman asal Jakarta yang eksis pada tahun 1970-an hingga 1990-an. Termasuk seniman serba bisa, dimulai dari menyanyi, membuat lagu, komedian, hingga bermain dalam sejumlah film.
Melalui Si Doel Anak Betawi (1977), arahan sutradara Syumanjaya, dialog Betawi Benyamin mengalir sepanjang film itu diputar. Keseharian base Betawi yang dia tampilkan dalam film itu membuat dia meraih dua hal. Dikenang karena logat Betawi dan membawa pulang piala citra kedua sebagai pemeran utama pria terbaik. Piala citra pertama dia raih saat membintangi film Intan Berduri (1973), arahan sutradara Turino Djunaidy.
Bang Ben adalah salah satu pengisi dunia hiburan di tanah air yang terkenal pada era 1970. Dia adalah seniman yang serba bisa bukan hanya berkarier menjadi penyanyi tetapi juga bisa menjadi penulis lagu, aktor, sutradara, penulis skenario, pelawak, pembawa acara, bintang iklan.
Bang Ben merupakan salah satu generasi Betawi asli penghuni Kemayoran yang bersilang budaya dan berkawin campur dengan penduduk luar daerah yang didatangi dari kampung tersebut. Ayahnya bernama Sueb alias Sukiman, tentara asal Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan ibunya Siti Aisyah putri seorang jago Betawi dan kaya pada zamannya, Haji Ung.
Ben adalah anak terakhir dari delapan bersaudara, yang lahir 5 Maret 1939 di Kampung Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta. Setelah Bang Ben berumur dua tahun, ayahnya meninggal dunia di Belitung, Sumatera Selatan pada tahun 1941 akibat penyakit tumor yang dideritanya. Setelah Ben kehilangan ayahnya dia menjadi dekat dengan ibu, para kakaknya dan engkongnya Haji Ung yang kerap dipanggil Jiung.
Selain sosok ibu, ternyata kakeknya memberi pengaruh pada hidupnya. Jiung adalah engkong dari Bang Ben. Jiung panggilan akrabnya juga terkenal di kalangan masyarakat Kemayoran karena sifatnya yang dermawan.
Walaupun Jiung tidak mempunyai pendidikan yang tinggi tetapi dia banyak menurunkan ilmu kepada Bang Ben seperti layaknya anak-anak Betawi lainnya. Sebagai anak Betawi zaman itu Ben menjalani kebiasaan yakni wajib belajar agama lebih dahulu kemudian mempelajari ilmu lainnya seperti silat.
Menjadi Pilot
Setelah berusia tujuh tahun, sekira 1946, Ben mengikuti kebiasaan di keluarganya. Dia dibebaskan mencari sekolah yang dia inginkan.
Ben kecil memilih Perguruan Tamansiswa di Jl Garuda No 66, Jakarta Pusat. Ibu Darsih, guru Ben kecil mulai dari kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar. Ibu guru ini punya panggilan tersendiri bagi Ben yakni Nyamin.
Ben tergolong murid yang aktif tapi jahil. Prestasi, terbilang jempol, terutama untuk pelajaran matematika dan hafalan. Bakat seni Ben juga mulai terasah. Biarpun bandel dan nakal, Ben takkan segan membantu gurunya seperti menghapus papan tulis, menyapu, ataupun pekerjaan lain.
Kedekatan antara murid dengan pamong, sebutan guru di sekolah itu begitu dijaga. Ben pun punya perhatian pada Ibu Darsih. Hal itu pernah dia tunjukkan dengan mengunjungi Ibu Darsih jika tak datang mengajar. Ketika bertemu, Ben pasti langsung bertanya, “Kok ibu enggak dateng? Ibu sakit ya?”
Ada cerita lucu semasa Ben bersekolah, seperti ditulis Kompor Meleduk Benyamin. Ben selalu berusaha tepat waktu sampai di sekolah. Bila saat berangkat sekolah ternyata hujan tiba, Ben selalu melepaskan baju dan celananya lalu dimasukan kedalam tasnya. Saat ditanya para guru, Ben menjelaskan karena dia takut pakaiannya basah sehingga tak bisa sekolah.
Semakin Ben bertambah usia, kenakalannya makin menjadi. Makin kewalahan pula keluarganya. Pada 1950, keluarga memindahkan Ben ke SD Santo Yusuf di Bandung.
Ibunya berharap sekolah yang berbeda akan mengubah perilaku Ben. Tetapi, harapan itu jauh jadi nyata. Ben kecil tetap menjadi anak yang bandel. Jadi, pada usia 12 tahun, ia dipulangkan ke Jakarta.
Sekembalinya di Jakarta Ben melanjutkan kuliahnya di Perguruan Sosial Indonesia (PEPSI) di Cikini. Setelah lulus SMP, Ben meneruskan SMA di Perguruan Tamansiswa Kemayoran. Di SMA ini Ben mulai berani pamer bakat seninya.
Seperti, kala Perguruan Tamansiswa berulang tahun. Peringatan ulang tahun diadakan pada 13 Juli 1958. Ben ikut memeriahkan acara dengan melawak bersama Ateng Soeripto dan Baharudin (Diding). Guru serta teman-temannya tertawa karena Ben lupa memberikan kode kepada kedua temannya sehinga terjadi keributan di atas panggung.
Keinginan yang Pupus
Menjelang akhir studi SMA pada 1958, Ben bersua dengan anak-anak Kemayoran yang sama-sama tertarik dengan seni. Mereka adalah anak-anak musisi, yakni Rachmat Kartolo, A Rachman, dan Yahya. Kebetulan, di rumah Rachman, ada beberapa alat musik yang cukup lengkap.
Ben dikenalkan Hery, sepupu Rachman. Mereka bertemu di rumah Rachman. Setelah perkenalan itu, kemampuan Ben bermain gitar dan bongo secara otodidak, ditambah bakat menyanyi, membuat dia makin diterima di komunitas tersebut.
Mesti berbakat dengan seni, Ben ingin mengabdi sebagai penerbang. Hal pertama yang dilakukan setelah lulus SMA pada 1958 yaitu, mendaftarkan diri ke Angkatan Udara. Semua prosedurnya sudah dilewati dengan lancar termasuk tes kesehatan fisik.
Tiba pada syarat terakhir dari tes tersebut, AU mewajibkan persetujuan atau tanda tangan dari orangtua Ben. Tak disangka sang ibu tidak mendukung pilihan Ben. Sekalipun Ben sudah membujuk dengan pelbagai macam cara.
Ibunya tidak mengizinkan karena takut Ben jatuh dari pesawat. Tak ada restu diterima, Ben harus mengubur cita-cita menjadi penerbang. Ben tidak bisa membantah ucapan ibunya, “Entar lu jatoh.” Menurutnya, perkataan itu merupakan doa untuk anaknya.
Tidak kesampaian menjadi penerbang Ben beralih untuk kuliah di Akademi Manajemen Sawerigading. Tapi, Ben hanya duduk di bangku kuliahnya selama dua semester. Sementara itu untuk mengisi waktu senggangnya, dia tetap berusaha untuk mencari pekerjaan sambil sesekali bermain biola. Malam harinya, bermain musik dengan teman-temannya.
Setelah menganggur akhirnya kesempatan bekerja pun datang dan tidak disangka klub bola Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) sedang mencari pemain baru. Ben memang hobi main bola sejak kecil. Untuk mendaftar, tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi.
Yakni, harus melamar menjadi tenaga administrasi, tetapi ternyata ijazah SMA yang dimilikinya cuma dihargai menjadi posisi kondektur alias kernet bus. Karena butuh pekerjaan untuk membiayai keluarganya maka posisi itu pun akhirnya diterima.
Ben melaju dengan bus PPD trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput setiap hari untuk membawa pulang uang bagi keluarga. Terik dan debu, bertemu dengan penumpang yang enggan membayar ongkos, serta ajakan sopir untuk yang mengajak korupsi uang karcis dia temui tiap hari. Karena tak tahan, setelah beberapa bulan bekerja di PPD, Bang Ben memilih untuk meninggalkan pekerjaannya.
Selepas dari PPD, Bang Ben melamar kerja di bagian Peralatan dan Amunisi Angkatan Darat Kodam V Jakarta tahun 1959 sampai 1960. Di sinilah dia bekerja sebagai tenaga administrasi selama setahun.
Setelah itu terjadilah konflik di tempat kerja dengan temannya. Karena Ben sering kali tertidur saat kerja akhimya Ben pindah kerja ke PT Asbes Semen Kriya Jaya sebagai kepala bagian, membawahi kasir, keuangan, personalia dan pergudangan.
Setelah berpindah-pindah tempat kerja akhirnya Ben bertahan sehingga pekerjaan ini dilakoninya selama tujuh tahun sampai akhirnya perusahaan ini bangkrut. Karena perusahaannya bangkrut untuk menjalankan hidupnya Ben harus memilih bermusik menjadi pilihannya sebagai pengisi hidupnya.
Pada 1959, Ben menikah dengan Noni yang setahun lebih muda darinya dengan emas kawin Rp1.000. Awalnya, rencana ini tak disetujui ayah tiri Noni. Namun, Ben membawa Noni menemui ayah kandung Noni di Serpong yang memberi restu pernikahannya.
Awal masa rumah tangga pasangan ini, Ben harus menghidupi keluarga dengan berjualan roti. Lantaran uang yang dibawa pulang minim, pekerjaan itu hanya dia lakoni selama beberapa bulan saja.
Melakoni Seni
Kesenian bagi Benyamin bukan hal baru. Sejak berusia empat tahun, dia dan kakak-kakaknya membentuk sebuah kelompok musik dengan alat dari seadanya atau barang bekas. Berbekal itu, mereka mengamen dimulai sekira 1943. Lagu-lagu yang dinyanyikan antara lain lagu melayu,seperti “Bajang-bajang Bertali Sutra” atau “Pengantin Baru”. Entah mereka nyanyikan di hadapan keluarga atau di acara perkawinan. Bahkan, pesta sunat dan hanya dibayar dengan makan.
Setelah lulus SMA, bersama anak-anak Kemayoran, Ben membentuk kelompok musik Melody Boys yang dibentuk oleh Rachmat Kartolo, pelantun lagu “Patah Hati”.
Ben mulai mengawali kariernya di dunia musik sejak akhir tahun 1950-an saat bergabung dengan Melody Boys ini. Formasi lengkap Melody Boys ini terdiri dari 12 personel dengan Benyamin sebagai penyanyi latar dan bongo.
Melody Boys ini sering kali tampil di tempat-tempat, seperti Yacth Club Sindang Laut, Night Club Nusantara dan Hotel Des Indes dan dengan bayaran Rp5. Biasanya mereka membawakan lagu barat berirama jazz dan blues untuk mengiringi orang berdansa. Mereka juga sering membawakan lagu yang sedang ngetop saat itu, seperti “When I Fall In Love”, “Blue Moon” dan “Unchained Melody” atau lagu berjenis Rock And Roll, Calypso dan Cha-cha yang populer kala itu.
Dunia musik semakin berkembang di zaman itu. Melody Boys bukan hanya memainkan lagu-lagu ciptaan orang lain. Mereka mengenalkan lagu ciptaan sendiri dan merambah dunia rekaman. Seperti “Kisah Cinta”, “Panon Hideung”, “Nonton Bioskop” dan “Si Neneng”. Saat itu, Benyamin berkenalan dengan seniman Bing Slamet.
Selanjutnya, Melody Boys mendapatkan pekerjaan sebagai musisi bagian urusan moril (uril) Kodam V Jaya. Sebagai musisi mereka dikaryakan untuk menghibur prajurit dan digaji Rp200 perak dan beras 50kg per bulan. Mereka pun harus siap bermain musik di mana pun Kodam menggelar acara hiburan untuk para prajurit.
Peluang
Memasuki era 1960, karier Melody Boys menurun. Bahkan, saat memainkan lagu “Blue Moon” di Yacht Club, mereka didatangi wartawan yang melarang mereka menyanyikan lagu barat. Mereka disuruh menyanyikan lagu-lagu keroncong seperti “Bengawan Solo”.
Setelah kejadian ini Melody Boys mengubah namanya menjadi Melodi Ria yang memainkan lagu keroncong. Mereka terpaksa. Bila tak dituruti, Melody Boys akan bernasib sama seperti Tony Koeswoyo dan Koes Plus masuk penjara.
Keadaan itu seakan menjadi kesempatan bagi Benyamin yang tak menilai, di Jakarta, di kampung warga Betawi, belum ada yang memopulerkan lagu-lagu Betawi. Bencana bagi Melody Boys, menjadi peluang bagi Benyamin.
Tekad Bang Ben mengangkat budaya Betawi melalui lagu-lagu ciptaannya semakin mengental di masa-masa orde lama dan orde baru. Benyamin mulai tekun menulis lagu pergaulannya dengan kalangan musik saat itu dengan membawa lagu penyanyi lain. Saat itu Ben masih belum percaya diri untuk tampil sendiri membawakan lagu ciptaannya.
Seiring berjalannya waktu setelah Ben membuat banyak lagu, seperti Ade-ade Aje dan Hujan Gerimis yang dituliskannya hanya dinyanyikan oleh penyanyi lain. Akhirnya Ben bertemu dengan Bing Slamet di studio Dimita Record untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaannya.
Tak lama dari pertemuan ini Ben memberanikan diri membuat lagu berjudul “Malam Minggu” untuk dinyanyikan Bing Slamet. Saking suksesnya lagu itu kemudian direkam ulang kedalam pita kaset sehingga Ben mulai terkenal di kalangan musisi lain.
Keberhasilan ini mendorong Ben untuk menulis lagu lebih banyak dan suatu hari Ben membuat lagu untuk Bing Slamet dengan judul Si Jampang. Tetapi lagu ini di tolak dengan Bing Slamet karena tidak sesuai dengan karakter lagu yang biasa dinyanyikan Bing Slamet. Akhirnya mendengar saran dari Bing Slamet, akhirnya Benyamin memberanikan diri untuk membawakan lagu Si Jampang.
Lagu itu rilis dan laku di pasaran. Ben kemudian memutuskan untuk total terjun ke dunia musik. Lagu-lagu ciptaan Ben lahir kemudian dan mendulang sukses. Kesuksesan lagu “Nonton Bioskop” dan album Si Jampang tidak langsung membuat Ben menjadi bintang terkenal dalam waktu cepat.
Setelah Bang Ben sukses dengan album Si Jampang, Ben menggandeng penyanyi wanita untuk menjadi teman duetnya. Dimulai dari Rita Zahara, Rossy, Ida Royani, Inneke Kusumawati, dan Herlina Effendy. Namun, duet Ben-Ida Royani tampaknya sesuai dengan selera penggemar.
Tak hanya seni suara, Benyamin lengkap sebagai seniman serba bisa. Kali ini, dunia seni peran dia rambah.
Pertama kali terjun di dunia akting, dia diberi peran kecil, dalam film Honey, Money and Djakarta Fair. Sutradara dalam film itu adalah salah satu sutradara papan atas era 1970-an, yakni Misbach Yusa Biran.
Sutradara itu mengajak Benyamin main film ini karena suaranya bagus. Peran yang dimainkan Ben saat itu berperan sebagai penyanyi yang cukup terkenal.
Meski tak banyak bermain di film ini, akting Benyamin banyak menarik minat sutradara lain untuk mengajaknya bermain di film arahan mereka. Tahun 1971, sutradara Matnoor Tindaon mengajak Benyamin berakting di film arahannya yang berjudul Hostess Anita. Kemudian, Benyamin juga bermain di film Brandal-Brandal Metropolitan.
Setelah Ben terjun dalam dunia musik, pada 1979, Ben memutuskan untuk beristirahat dari seluruh aktivitasnya di dunia kesenian. Setelah setahun beristirahat di awal tahun 1980, dia kembali menyiapkan diri untuk tampil.
Berkat dorongan Eddy Sud, Benyamin pun semakin sering tampil di berbagai pertunjukan di kota-kota yang berbeda baik bernyanyi dan melawak. Setelah itu Bang Ben meluncurkan sebuah album lagu dan lawak bersama Eddy Sud yang juga membuat lagu “I Am A Teacher”.
Komunitas Betawi di Udara
Tidak hanya sukses menjadi musisi dan seni peran, Benyamin juga mendirikan Radio FM dengan nama Bens Radio. Didirikan oleh Benyamin pada 5 Maret 1990. Bens Radio merupakan unit Enikom Network dengan format radio etnik, yaitu radio yang memperkenalkan potensi budaya Betawi.
Budaya dan etnik Betawi terus menerus beradaptasi dengan perubahan zaman, seiring dengan perubahan karakter pendengar dan percepatan teknologi serta gaya hidup. Program radio etnik dikemas dalam balutan kreatif budaya masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Sebelum mengudara di penghujung tahun 1990, Bang Ben sudah lama memimpikan untuk mempunyai radio yang sebagian besar materinya berisikan budaya Betawi. Impian itu kemudian terealisasi saat Benyamin bertemu dengan rekan siaran baru, Fandi di Radio Arista, yang kini namanya berganti menjadi Kiss FM.
Bang Ben menyadari budaya Betawi tak melulu dikenalkan melalui media film dan musik saja. Dia memilih frekuensi radio untuk menyampaikan pada para pendengar, budaya Betawi tetap dekat dan dikenal pendengar. Jadi, bobot acara di radio itu, sekira 60% terkait budaya Betawi. Tak hanya melulu lagu Betawi, tetapi ada juga lagu pop Indonesia, dangdut dan lagu India.
Untuk menunjukkan bahwa Bens Radio memang radio Betawi, program siaran sekaligus acara off air yang selalu dibuatnya, senantiasa menghadirkan nuansa kebetawian, menggunakan bahasa Indonesia dan Betawi dalam komunikasi sehari-hari, termasuk dalam menyapa pendengarnya.
Agar senantiasa lekat di telinga pendengar mulai dari Ncang, Ncing, Nyak, Babe, Mpok, Abang, dan juga None yang sekaligus menjadi sapaan khas Bens Radio untuk pendengarnya sejabodetabek.
Di awal mengudara Bens Radio ini dalam sehari menerima 200 surat dari pendengar. Bahkan dalam waktu dua minggu siarannya, Bens Radio telah menerima 250 orang yang mendaftar sebagai anggota fans club.
Pada akhirnya Radio ini berkembang menjadi satu grup radio yang memiliki stasiun-stasiun radio di beberapa daerah Indonesia. Bernaung dibawah nama kelompok Etnikom, pendirinya tidak terlepas dari ide dan peran Biem Triani yang telah memimpin Bens Radio sepeninggalan Bang Ben. Etikom ini adalah holding company untuk semua radio yang ada di grup Bens Radio. Sampai saat ini sudah ada 10 radio yang dibawah naungan entikom.
Hingga saat ini visi dan misi Bens Radio masih belum berubah, yaitu melestarikan budaya betawi artinya gaya betawi yang dimiliki Bens Radio tidak berubah sejak didirikan oleh Bang Ben.
Tetapi seiring berjalannya waktu visi dan misinya berkembang, terdapat dua hal yang berubah yaitu yang pertama dalam hal jaringan. Dari segi format Bens Radio tetap bergaya Betawi dan terdapat juga edukasi dan informasi.
Biang Kerok Pergi Tak Kembali
Dari kecil Bang Ben memang hobi bermain sepak bola, mulai dari bola kulit jeruk bali sampai akhirnya di usia 14 tahun Ben dan teman-temannya membentuk sebuah klub sepak bola PORA bersama teman-temannya.
Kecintaannya kepada sepak bola juga terlihat dalam film Buaya Gila. Dalam satu adegan, Bang Ben yang memperkuat PS Apes diceritakan melawan PS Dongkrak. Keusilan pria itu terjadi di lapangan.
Salah satunya adalah ketika Ben meniup peluit demi menghentikan pertandingan, padahal wasit tidak merasa melakukannya. Lantas pertandingan dihentikan sementara dan Ben tertawa karena aksinya berhasil.
Kegemaran Ben terhadap sepak bola terus melekat. Hingga suatu saat Ben terjatuh akibat serangan jantung seusai dia bermain bola di acara HUT Kemerdekaan Indonesia pada 1995. Bang Ben meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada 5 September 1995.
Jenazah Bang Ben dimakamkan bersebelahan dengan Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya. Hal ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya. (Annisa Dewi Meifira)
Tulis Komentar
ATAU
MASUK DENGAN