Oleh: Eko P
Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump,menuding keberadaan Cina di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) membuat Amerika kehilangan 60.000 pabrik. Menurut Trump model ekonomi Cina dengan menciptakan hambatan pasar besar-besaran, subsidi sangat besar, manipulasi mata uang, pemaksaan transfer teknologi dan pencurian hak cipta, juga rahasia dagang menjadi biang keladinya.
“Bagi Amerika, kini masa-masa itu sudah berakhir,” tegasnya.
Trump berharap Amerika akan mencapai kesepakatan saling menguntungkan dengan Cina, seraya menyebut bea masuk yang diterapkannya telah membantu terciptanya perdagangan yang lebih adil. Itu juga disebutnya sebagai tekad warga Amerika.
“Kami mengembalikan keseimbangan hubungan dengan Cina. Tetapi, seperti saya sudah sangat tegaskan, saya tidak akan menerima kesepakatan yang merugikan warga Amerika,” katanya.
Agustus lalu, melalui Twitternya, Trump mengumumkan akan menerapkan bea masuk sebesar 10% terhadap barang-barang impor Cina mulai 1 September. Bea masuk itu berlaku untuk barang-barang dan produk dari Cina dengan nilai USD300 miliar.
Cina seperti biasa, membantah hal itu. Perdana Menteri Li Keqiang, menyatakan pihaknya tidak akan pernah mendorong ekspor dengan mendevaluasi mata uangnya.
Cina juga melakukan aksi balasan dengan menerapkan bea masuk terhadap produk AS senilai USD50 miliar atau Rp706 triliun. Produk-produk AS yang disasar berkaitan dengan sektor pertanian yang merupakan basis politik Presiden Trump.
Cina juga menerapkan bea masuk tambahan ke produk AS senilai USD60 miliar atau Rp847 triliun. (EP/BBC)