1 Juni diperingati sebagai hari lahir pancasila. Melalui semangat pancasila kita sadar hidup bersama dalam keragaman. kenyataan ini dipertegas dalam pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945, “kita hendak mendirikan suatu negara "semua buat semua". Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi "semua buat semua".
Indonesia terdiri dari pulau-pulau. Masing-masing pulau memiliki ragam suku etnis, budaya bahasa, dan agama. keragaman ini kekayaan yang paling berharga bagi Indonesia. Meskipun berbeda-beda namun tetap Indonesia. Bhinneka tunggal ika. Begitulah kehidupan di Indonesia, beragam paripurna, beragam sebagai sebuah kekuatan, beragam sebagai sebuah keindahan.
Pancasila oleh Presiden Soekarno ditegaskan sebagai dasar negara. Di dalamnya terdapat lima dasar tegaknya negara Indonesia. Kelima hal itu adalah, ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, permusawaratan, dan keadilan sosial. Dasar-dasar ini merupakan tujuan-tujuan kebangsaan, demi tercapainya keselamatan setiap orang, setiap warga negara.
Meskipun berbeda keyakinan agama, setiap orang tetap ber-pancasila. Tidak ada egoism-agama. tidak ada pemaksaan keyakinan kepada orang lain. Satu sama lain saling menghormati. saling menghargai. Tidak pula saling menuduh benar salah. Tidak pula saling klaim paling benar dan paling suci. Yang ada setiap orang beragama dengan keyakinanya, saling menghormati perbedaan itu menuju keselamatan berbangsa yang hakiki.
Juga tidak ada halangan bagi perbedaan politik. Politik hak setiap warga negara. namun hak politik tidaklah memaksakan kehendak. Tidak pula mencaci dan menghalalkan segala cara. Pada dasarnya politik bertujuan membangun bangsa mewujudkan keadilan sosial yang merata. Jadi jangan bertengkar hanya karena perbedaan politis, gunakan energi untuk membangun bangsa secara produktif.
Usah kembali saling hujat dan benci. Terlalu remeh urusan egoisme-politik dengan mengorbankan kehidupan berbangsa. terlalu lelah bangsa ini mengurusi ujaran-ujaran egois demi kepentingan politis hingga golongan.
Memang kita hakikatnya berbeda. Manusia satu dengan lainnya berbeda. Golongan satu dengan lainya berbeda. Partai satu dengan lainnya berbeda. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai sarana adu tanduk. Biarkan perbedaan itu sebagai sarana koreksi diri, saling mengisi, demi kemajuan bangsa.
Ingatlah kembali cita-cita luhur pancasila. Bangsa kita berperi kemanusiaan dan berkeadaban, bukan berlaku semaunya bertindak seenaknya. Cita luhur demi kesejahteraan bersama harus diwujudkan, bukan karena saling tanduk, tapi saling duduk untuk mufakat. Bukankah jelas pancasila mengajarkan kita untuk bermusyawarat untuk mufakat, bukan bermufakat di jalanan.
Sudahi saling tikai dan curiga. Negara ini terlalu lelah menyelesaikan soal egoisme karena berbeda. Mari duduk, kita punya pancasila, dasar negara kita. Kita kembalikan semua urusan berdasarkan nilai-nilai luhur berupa kebangsaan. Sehingga kita tidak lagi saling serang, namun kita saling menjaga. Kita tidak lagi saling mengusir, tapi kita saling menerima.
Berbeda itu boleh. Tapi jangan bertentangan dengan pancasila. Berbeda itu sah, tapi jangan menolak pancasila. kita pasti berbeda satu dengan lainnya. Antar pulau satu dengan satunya. Antara budaya satu dengan budaya lainya. Perbedaan itu kekuatan bangsa. perbedaan itu menyatukan kita semua. Meskipun berbeda-beda jiwa setiap orang adalah Indonesia, jiwa setiap kehidupan adalah pancasila.
Saya muslim, kamu Kristen, tetap pancasila. saya jawa, dia sunda, tetap pancasila. Begitulah indahnya perbedaan. Perbedaan bukan alasan saling mengusir dan bermusuhan. Perbedaan adalah alasan sebuah persatuan. Dan, perbedaan itulah alasan pancasila menjadi dasar tegaknya negara Indonesia.