Merdeka.com - Syarifah Firdausi atau yang lebih dikenal dengan Umik Nolay bukan sopir truk biasa. Perempuan yang menjadi minoritas dalam pekerjaannya itu membuktikan bahwa Ia punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Selain mengemudikan truk, Ia juga paham seluk-beluk otomotif.
Pekerjaan yang awalnya dilakoni untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, kini menjadi semacam passion. Delapan tahun lalu, Syarifah Firdausi mencoba pekerjaan sebagai pengemudi truk. Hal itu dilakukan lantaran sebagai orang tua tunggal, Ia mesti menjadi tulang punggung bagi delapan anaknya.
Perceraian dengan suaminya membuat Umik Nolay harus memutar otak bagaimana bisa mencari nafkah sekaligus merawat anak-anaknya. Sampai sekarang, kedua peran itu Ia lakoni dengan tulus.
Setiap hari sebelum berangkat kerja, perempuan asala Jember ini menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Di sela-sela melakukan pekerjaannya,Umik Nolay jugamenyempatkan diri menelepon anak-anaknya di rumah.
Pekerjaannya sebagai sopir truk membuat jam kerjanya tidak menentu. Kadang kala Ia membutuhkan waktu kerja selama 18 jam sehari. Medan yang ditempuh juga tidak selalu mudah. Selama melakoni pekerjaan sebagai sopir truk, Syarifah memiliki beragam kisah. Pengalaman seru hingga menyeramkan pernahUmik Nolay rasakan.
Tidak Bisa Mengisi Muatan
2020 Merdeka.com/Youtube dan Instagram Syarifah Firdausi
Pada 19 Februari 2020, Syarifah Firdausi mengunggah sebuah video di akun youtubenya. Ia menceritakan bahwa truknya belum bisa diisi material karena hujan deras yang terus mengguyur kawasan tambang pasir. Menurut Syarifah, menjalani pekerjaan sebagai sopir truk material memang harus sabar.
Faktor alam seperti hujan dan banjir menjadi salah satu rintangan bagi sopir truk. Tidak ada hal yang bisa diperbuat kecuali menunggu hujan reda.
Truk Syarifah Firdausi akhirnya bisa diisi material pasir ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Sementara Ia sudah tiba di kawasan tambang sejak pukul 12.00 WIB. Artinya, ada waktu sekitar enam jam untuk menunggu hujan reda.
Seorang kawannya yang bernama Joko mengalami hal serupa dengan Syarifah. Joko mengungkapkan bahwa karena durasi hujan yang lama, bisa dipastikan Ia merugi.
Sebab seharusnya waktu yang digunakan untuk menunggu sudah bisa digunakan untuk melakukan perjalanan lainnya. Syarifah Firdausi membenarkan apa yang dikatakan Joko. Sekaligus Ia menambahkan bahwasanya kendala karena faktor alam berada di luar kendali manusia.
Jalan Ekstrem dan Tanpa Penerangan
2020 Merdeka.com/Youtube dan Instagram Syarifah Firdausi
Syarifah Firdausi juga pernah keluar dari tambang pada malam hari. Jalan yang Ia lalui tergolong ekstrem dan tidak ada penerangan. Penerangannya hanya memanfaatkan lampu yang ada pada truk. Di kiri kanan jalanan tampak area persawahan dan banyak pohon-pohon tinggi.
Jalanan yang dilalui adalah jalanan tanah dan ditemui banyak lubang yang cukup dalam. Medan yang dilalui juga tidak selalu landai, ada tanjakan yang cukup tinggi yang harus dilaluinya.
Di kanan kiri tanjakan itu adalah jurang. Tanjakan yang Ia lalu ternyata merupakan daerah perbatasan antara hutan satu dengan hutan lainnya.
Masuk Hutan Angker Tengah Malam
2020 Merdeka.com/Facebook dan Instagram Syarifah Firdausi
Ketika melakukan perjalanan ke perbatasan Jember dan Bondowoso, Syarifah Firdausi memasuki kawasan hutan angker.
Perjalanan itu Ia lakukan tengah malam. Sepanjang jalan hanya ditemui pepohonan di kiri-kanan jalan. Syarifah bercerita bahwa di kawasan itu sering ada kuntilanak.
Cerita tentang kuntilanak sudah terkenal di kalangan masyarakat maupun di kalangan para sopir truk. Hantu kuntilanak biasanya ikut naik ke dalam truk-truk yang melintas.
Secara pribadi, Syarifah Firdausi belum pernah memiliki pengalaman mengerikan itu. Tetapi berdasarkan penceritaannya, beberapa kali Ia mendapat proyek yang menyebabkan dirinya harus menempuh perjalanan tengah malam di kawasan perbatasan Jember dan Bondowoso yang terkenal angker itu.
Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami