Senjata kujang ini merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
Dilihat dari bentuk dan ragamnya, kujang dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
- Kujang ciung (kujang yang bentuknya menyerupai burung ciung)
- Kujang jago (kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago)
- Kujang kuntul (kujang yang bentuknya menyerupai burung kuntul)
- Kujang bangkong (kujang yang bentuknya menyerupai bangkong (kodok))
- Kujang naga (kujang yang bentuknya menyerupai ular naga)
- Kujang badak (kujang yang bentuknya menyerupai badak); dan
- Kudi (pakarang dengan bentuk yang menyerupai kujang namun agak “kurus”).
Sedangkan, apabila dilihat dari fungsinya kujang dapat pula dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
- Kujang sebagai pusaka (lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan)
- Kujang sebagai pakarang (kujang yang berfungsi sebagai senjata untuk berperang);
- Kujang sebagai pangarak (alat upacara); dan
- Kujang pamangkas (kujang yang berfungsi sebagai alat dalam pertanian untuk memangkas, nyacar, dan menebang tanaman).
- Papatuk atau congo, yaitu bagian ujung yang runcing yang digunakan untuk menoreh atau mencungkil;
- Eluk atau siih, yaitu lekukan-lekukan pada badan kujang yang gunanya untuk mencabik-cabik tubuh lawan;
- Waruga yaitu badan atau wilahan kujang;
- Mata yaitu lubang-lubang kecil yang terdapat pada waruga yang jumlahnya bervariasi, antara 5 hingga 9 lubang. Sebagai catatan, ada juga kujang yang tidak mempunyai mata yang biasa disebut sebagai kujang buta;
- Tonggong, yaitu sisi tajam yang terdapat pada bagian punggung kujang;
- Tadah, yaitu lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang;
- Paksi, yaitu bagian ekor kujang yang berbentuk lancip;
- Selut, yaitu ring yang dipasang pada ujung gagang kujang;
- Combong, yaitu lubang yang terdapat pada gagang kujang;
- Ganja atau landaian yaitu sudut runcing yang mengarah ke arah ujung kujang;
- Kowak atau sarung kujang yang terbuat dari kayu samida yang memiliki aroma khas dan dapat menambah daya magis sebuah kujang; dan
- Pamor berbentuk garis-garis (sulangkar) atau bintik-bintik (tutul) yang tergambar di atas waruga kujang. Sulangkar atau tutul pada waruga kunjang, disamping sebagai penambah nilai artistik juga berfungsi untuk menyimpan racun