Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengatakan pada Selasa (17/9/2019) waktu setempat, bahwa dengan pemulihan segera maka produksi minyak rata-rata bulan September dan Oktober akan menjadi 9,89 juta barel per hari. Negara eksportir minyak terbesar dunia ini memastikan komitmennya untuk memasok minyak secara penuh kepada negara pelanggan di bulan ini.
"Selama dua hari terakhir, kami telah memperbaiki kerusakan dan memulihkan lebih dari setengah produksi minyak yang turun akibat serangan teroris," kata Pangeran Abdulaziz dalam konferensi pers di Jeddah, seperti dilansir Reuters, Rabu (18/9/2019).
Pangeran Abdulaziz menambahkan Kerajaan Arab Saudi akan mencapai kapasitas 11 juta barel per hari pada akhir September, dan 12 juta barel per hari pada akhir November.
Baca Juga:
"Pasokan minyak akan kembali ke pasar seperti sebelum terjadi serangan pada pukil 3:43 Sabtu pagi. Saudi Aramco ibarat burung phoenix yang bertambah kuat setelah terbakar," ujarnya. Baca: Harga Minyak Turun 5% Karena Produksi Minyak Saudi Akan Pulih Lebih Cepat
Pada Sabtu (14/9), serangan drone menyasar dua pabrik minyak Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais, sehingga menutup 5,7 juta barel per hari. Jumlah itu lebih dari setengah produksi minyak Arab Saudi atau 5% dari produksi minyak global.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan saat ini sedang dalam proses pengerjaan perbaikan. Dan mengatakan bahwa perbaikan "tidak terlalu signifikan" untuk ukuran Saudi Aramco, yang juga sedang mempersiapkan penawaran saham perdana (IPO).
"Kita akan berada di level produksi sebelum serangan terhadap fasilitas kita pada akhir September," kata Nasser dalam konferensi pers yang sama di Jeddah.