Pedangdut Nita Thalia menjadi salah satu tokoh di dunia hiburan yang gamblang akui lakukan operasi plastik. Nita sendiri menjelaskan bahwa dirinya sudah delapan kali mengubah beberapa bagian wajah. Lantas, apakah wanita kelahiran 1982 ini menyesali keputusannya?
Baca Juga: Lutfi Agizal larang kata ‘Anjay’, begini respon sarkastik Rizky Billar
Melalui kanal Youtube Orami Entertainment, Nita Thalia menceritakan kisahnya saat memutuskan untuk operasi plastik.
Ia mengaku sebenarnya merupakan orang yang takut dengan jarum suntik. Namun, Nita rela melakukan prosedur operasi lantaran dua hal, yaitu ingin membahagiakan suami dan dirinya sendiri.
“Saya orangnya takut. Sama jarum suntuk aja saya takut, apalagi dengan hal-hal yang berbau operasi, gitu kan,” ujarnya.
Baca Juga: Keluarga dibanjiri hujatan, kakak Adhisty Zara: Gue gak bisa terima
Nita sendiri mengaku tak memberi tahu orang tuanya terkait keinginannya untuk operasi plastik. Namun, Nita memberi tahu sang suami dan mendapatkan persetujuan. Bahkan, suaminya stand by menunggu dalam proses tersebut.
Kendati begitu, biaya operasi plastik sepenuhnya ditanggung oleh Nita sendiri melalui penghasilan yang diperolehnya sebagai biduan dangdut. Menurutnya, Nita merasa harus melakukan operasi plastik.
Ada beberapa area yang diakuinya telah dioperasi, di antaranya hidung, pipi, kantung mata, hingga area dagu. Semua operasinya dilakukan oleh satu dokter yang sama. Biaya operasi beragam. Untuk hidung, Nita menghabiskan biaya sebanyak Rp40 juta, sedangkan pipi sebanyak Rp30 juta.
Nita pun mengaku telah hijrah dan menyesali aksinya.
“setelah hijrah, saya sadar betul apa yang saya lakukan ini salah besar… Udah ya Allah, aku pengen tobat. Apa yang gue lakukan ini memang salah banget,” ujarnya.
Dari situ, Nita memutuskan untuk mengenakan hijab dan meninggalkan dunia hiburan. Ia ingin istiqomah dan menjadi muslimah yang baik.
Kendati begitu, Nita kembali melepas hijab dan aktif di panggung tarik suara. Hal ini dilakukannya lantaran ia adalah tulang punggung keluarga dan harus menafkahi keluarga.
“Karena memang hati saya waktu itu mungkin belum kuat. Dan istiqomah itu susah. Hijrahnya mungkin gampang, tetapi istiqomah-nya sangat sulit. Tetapi minimal saya udah berjuang, saya udah punya niat,” ujarnya sambil berderai air mata.