Jika bertanya, "Tahukah Anda tentang Halloween?" Mungkin semua orang Indonesia bisa menjawab tahu. Tapi apakah mereka merayakannya? Tidak juga. Bahkan jika dibandingkan, persentase orang-orang yang tidak merayakan Halloween masih jauh lebih banyak daripada yang merayakannya.
Halloween juga biasanya dirayakan oleh kalangan tertentu saja, yakni kalangan atas. Sementara kalangan bawah, mereka cenderung kurang peduli.
Perayaan itu pun biasanya hanya dilakukan oleh komunitas-komunitas atau pada acara-cara tertentu. Pada komunitas, tentulah mereka yang senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan hal mistis dan horor. Sementara untuk acara, biasanya Halloween hanyalah dijadikan sebagai gimmick agar perhelatannya lebih semarak.
Sejarah Halloween
Jika ditelisik ke belakang, Hallowen merupakan acara yang diadakan oleh bangsa Gael kuno di Irlandia untuk mendekatkan diri dengan iblis yang jahat. Tujuannya, agar mereka tidak diganggu.
Menurut mereka yang menganut paham paganisme, pintu gerbang dunia manusia dengan dunia roh terbuka di tanggal 31 Oktober. Untuk itu, mereka lalu berupaya untuk pura-pura menjadi roh agar terjalin hubungan yang damai.
BACA JUGA : 5 Inspirasi Dekorasi Interior Bertema Halloween
Pada tahun 1800-an, ketika banyak orang yang bermigrasi ke Amerika Serikat (khususnya dari Skotlandia dan Irlandia), budaya ini kemudian ikut terbawa masuk ke Negeri Paman Sam tersebut. Dan pada tahun 1900-an, Halloween pun semakin populer.
Ditambah lagi dengan semakin mudahnya akses sistem informasi, Halloween terus berkembang dan kian ramai di negara-negara di luar Amerika.
Perkembangan Halloween di Indonesia
Sementara di Indonesia, Halloween umumnya hanya dianggap sebagai upaya pesta-pora. Daripada untuk membeli kostum yang menyeramkan, atau membeli labu yang cuma untuk dihias, maka membeli beras beserta lauk pauknya dinilai lebih relevan.
Jika melihat sisi relevansinya, keliling rumah tetangga dengan berteriak "trick or treat" untuk mencari permen, juga tergantikan oleh tradisi salam-salaman dan maaf-maafan ketika Lebaran. Bahkan tidak cuma permen, mereka juga bisa mendapat kue, ketupat, biskuit, bahkan angpao.
Selain itu, kostum hantu barat juga tidak cocok dengan budaya Indonesia yang lebih mengenal pocong, genderuwo, dan kuntilanak. Oleh sebab itu, belum banyak orang Indonesia yang mengikuti perayaan Halloween. Jikapun ada yang merayakannya, biasanya tidak sama persis dengan di Amerika dan hanya untuk kegiatan seru semata.