Pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini merupakan Guru Bangsa yang banyak mewariskan inspirasi, baik secara pribadi maupun jabatannya. BJ Habibie semasa hidup mendukuki posisi penting di sejumlah industri penerbangan dan BUMN industri strategis, hingga jabatan Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak 1983-1998.
Pada tahun 1998 BJ Habibie dipercaya menduduki posisi Wakil Presiden RI ke-7, hingga akhirnya menjabat Presiden RI ke-3 dari tahun 1998-1999, setelah Presiden Soeharto lengser akibat kondisi politik dan ekonomi saat itu.
BJ Habibie dikenal sebagai pribadi yang visioner dan fokus pada tujuannya. Salah satu karya BJ Habibie yang paling dikenal adalah pesawat N250 Gatot Kaca, merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama. Namun akibat kondisi ekonomi dan politik 1997-1998, membuat pesawat N250 kurang berkembang.
Baca Juga:
Saat memimpin Bangsa Indonesia, meskipun tergolong singkat atau hanya sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999, banyak kebijakan penting yang diwariskan sang ahli industri penerbangan lulusan RWTH Aachen, Jerman Barat, itu.
Berdasarkan catatan yang dikutip SINDOnews dari berbagai sumber, selama pemerintahannya, BJ Habibie banyak mengeluarkan keputusan penting. Terlebih saat itu BJ Habibie dihadapkan pada kondisi dimana Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dan politik, sehingga dibutuhkan kebijakan yang cepat dan tepat. Berikut keputusan penting yang dikeluarkan BJ Habibie selama menjabat presiden.
1. Melahirkan UU Otonomi Daerah.
UU Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan upaya BJ Habibie mengatasi kesenjangan antara pusat dan daerah. Dengan Otonomi Daerah, diharapkan terjadi pemerataan pembangunan di Indonesia dan bisa keluar dari krisis ekonomi 1997/1998.
2. Kebebasan menyalurkan aspirasi/berpolitik.
UU Nomor 2/1999 tentang Partai Politik yang ditandatangani BJ Habibie memberikan kebebasan kepada rakyat untuk menyalurkan aspirasi melalui partai politik. Tak ayal, Pemilu 1999 diikuit 48 parpol. Untuk memperkuat UU tentang Partai Politik, BJ Habibie juga menerbitkan UU Nomor 3/1999 tentang Pemilu. UU Nomor 3/1999 menjadi dasar pemilu dengan sistem multipartai.