(BACA JUGA : Demokrat Tuntut Trump Segera Dipecat atau Diusir dari Gedung Putih )
Karla Cecilia Perez, 32, mengalami kelumpuhan sebagian di lengan dan kakinya hanya beberapa jam setelah menerima suntikan vaksin buatan Pfizer/BioNTech pada 30 Desember 2020 dan segera ditempatkan di unit perawatan intensif rumah sakit di Coahuila, di negara bagian Nuevo Leon. Dia juga mengalami kesulitan berbicara. (Baca: Perawat Ini Meninggal Sehari usai Disuntik Vaksin COVID-19 Pfizer )
Keluarga Perez telah meminta lebih banyak penelitian setelah kejadian itu.
Baca Juga:
- Lewat Telepon, Menlu RI dan Rusia Bahas Kerjasama Vaksin Covid-19
- Saudi Berencana Rampungkan Program Vaksinasi Covid-19 Sebelum Akhir Tahun
- Vaksinasi COVID-19 Drive Thru di Surabaya Digelar hingga Akhir Juni
Perez mengalami sejumlah kejang selain ruam kulit, lemah, dan kesulitan bernapas dalam waktu setengah jam setelah menerima vaksin. Sejak itu, dia telah didiagnosis dengan encephalomyelitis (radang otak dan sumsum tulang belakang).
Perez sekarang dalam kondisi stabil dan tidak lagi mengalami kejang, tetapi keluarganya telah menyerukan pengujian tambahan untuk memeriksa potensi efek samping tersembunyi dari vaksin vaksin COVID-19 Pfizer/BioNtech, serta analisis lebih lanjut tentang kondisinya untuk melihat apakah dia mengalami alergi yang mendasari yang mungkin telah memicu reaksi ekstrem.
(BACA JUGA : Kasus Covid-19 Bertambah 9.321, Wiku: Ini Angka Tertinggi Sejak Awal Pandemi )
“Kami tidak bersikeras bahwa itu disebabkan oleh vaksin. Namun, perlu diklarifikasi apakah ini terkait dengan inokulasi dengan vaksin. Kami tidak memperdebatkan bahwa itu adalah alasannya. Harus ada penelitian untuk memastikan," kata Carlos Palestino, saudara ipar dokter perempuan itu, seperti dikutip Russia Today, Rabu (6/1/2021).