Trappes, kota di perbatasan Paris, diberi label sebagai pusat ekstremisme Islam. Wali kotanya mengatakan, tuduhan itu tidak akan membantu kotanya mengatasi masalah yang ada.
Salon HairCoiffure di Rue Jean Jaurès, dekat stasiun Trappes, menawarkan potong rambut seharga 18 euro untuk wanita dan 15 euro untuk pria. Penata rambut dan klien mereka menjadi berita utama setelah salah satu guru, Didier Lemaire, mengklaim tidak ada salon untuk wanita dan pria di Trappes, menunjukkan kota itu berada dalam cengkeraman radikalisasi Islam, lapor The Guardian.
Dia juga mengklaim anak-anak sekolah dilarang bernyanyi dan beberapa perempuan dilarang masuk kafe. Lemaire sejak itu ditempatkan di bawah perlindungan polisi menyusul dugaan ancaman pembunuhan.
Tuduhan itu muncul pada malam anggota parlemen Prancis memberikan suara pada RUU kontroversial untuk memerangi ekstremisme Islam, yang diajukan setelah pembunuhan brutal guru Samuel Paty Oktober lalu.
Namun klaim tersebut telah memicu kemarahan dari penduduk setempat, yang paling terkenal di antaranya adalah aktor Omar Sy, pesepakbola Nicolas Anelka, dan komedian Prancis populer Jamel Debbouze. Dalam wawancara dengan Observer, walikota Ali Rabeh membalas.
“Kami sedang distigmatisasi,” katanya.
“Banyak orang yang menyebarkan kebohongan dan tuduhan tidak adil tentang Trappes. Mereka bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini.
“Ya, ada masalah narkoba, kenakalan, dan radikalisasi. Saya tidak pernah menyangkal hal itu. Namun kami sedang berupaya untuk mengatasinya dan serangan semacam ini tidak membantu. Tentu saja anak-anak kita boleh bernyanyi: mereka bernyanyi di taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah. Kami bahkan memiliki paduan suara sekolah.”
Trappes, di pinggiran barat Paris dekat Versailles, memegang rekor nasional yang suram setelah lebih dari 60 pemuda setempat pergi untuk bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah, menjadikannya sasaran empuk dalam konflik politik dan ideologis ini.
Lemaire (55), profesor filsafat, juga mengklaim kota itu berada di bawah pengaruh Salafisme dan “secara definitif sesat”. “Tidak ada lagi penata rambut campuran, wanita Afrika utara tidak bisa lagi pergi ke kafe, ada tekanan pada wanita karena kerudung … Trappes tidak lagi di Prancis,” kata Lemaire kepada TV Prancis. Dia mengklaim penduduk setempat “hidup dalam ketakutan” dan sekularisme telah terkalahkan.
Rabeh (36), wali kota Trappes sekaligus anak migran Maroko, menanggapi dengan marah, menuduh Lemaire dan media yang memberinya waktu tayang memicu perpecahan dan membuat hidup lebih rumit bagi penduduk setempat. “Anak-anak muda yang lulus tahun ini mengatakan kepada saya mereka sangat khawatir mereka tidak bisa masuk perguruan tinggi dan universitas yang bagus jika mereka mengatakan mereka berasal dari Trappes,” ujar Rabeh, dilansir dari The Guardian.
“Ini sangat tidak adil bagi mereka. Seolah-olah setiap kali kita mengangkat kepala kita dari air, seseorang menenggelamkan kita lagi.” Seperti Lemaire, Rabeh juga diberi perlindungan polisi.
“Kami tahu ada masalah dengan Islamisme di sini tapi kami telah membuat kemajuan. Kami sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah ini, namun seseorang justru datang dan menyerang kami dengan kebohongan, melebih-lebihkan, dan menuduh secara tidak adil. Terkadang saya putus asa.”
Dia menambahkan, “Trappes adalah bagian dari republik Prancis. Sangat tidak benar untuk menyatakan yang sebaliknya.”
Memang, gambaran kota itu tidak semuanya indah: lebih dari seperempat warga Trappes hidup di bawah garis kemiskinan dan Rabeh mengatakan masalah radikalisasi Islam adalah masalah “kompleks” dan didorong oleh perasaan bahwa republik telah meninggalkan komunitas lokal seperti Trappes.
Ketika kru TV melakukan kunjungan mendadak, penduduk setempat berkerumun untuk mempertahankan kota mereka. Jacques Michelet, yang mengelola klub bola basket Trappes menolak anggapan bahwa klub itu telah ditinggalkan oleh ekstremisme Islam: “Kami telah melihat semua ideologi, kami telah melihat ekstremis dan bukan hanya kaum Islamis … tetapi ini adalah fenomena marjinal di Trappes.”
Pastor Etienne Guillet, pastor Katolik setempat, membantah pernyataan Lemaire, penduduk non-Muslim telah melarikan diri. Jemaatnya memiliki 700 orang dari 45 negara berbeda.
“Ketika ada ketegangan, saya bertemu dengan imam setempat dan kami menyelesaikan masalah,” kata Guillet kepada The Guardian.
“Tidak mudah bagi semua orang untuk hidup bersama dan selalu ada godaan bagi komunitas untuk mundur, tapi yang saya lihat di kota ini semuanya berjalan dengan baik.”
Penerjemah: Nur Hidayati
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Ilustrasi perempuan Muslim di Prancis yang kemungkinan bakal terancam dengan hukum “Anti-Muslim” Macron. (Foto: Middle East Eye)
‘Sangat Tidak Adil’: Kota di Prancis Dituduh Sarang Ekstremisme Islam