“Habis turun dari Sumbing, kita langsung tek-tok Sindoro aja gimana ?”
Kalimat yang menjadi bahan tertawaan kami berlima di akhir perjalanan ini.
Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Kami berempat sudah berkumpul di Stasiun Kiaracondong Bandung untuk bersiap menaiki kereta ekonomi dengan tujuan Stasiun Kutoarjo. Perlengkapan sudah oke, restu orangtua sudah aman, akhirnya kami berangkat untuk mendaki Gunung Sumbing.
Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam untuk sampai di Stasiun Kutoarjo. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan menumpang elf menuju Kebumen dan disambung lagi elf menuju Wonosobo. Akibat beberapa kendala konyol (just info, hati hati dengan kenek elf yang suka seenaknya wkwk), kami pun tiba di basecamp Gunung Sumbing jalur Garung pukul 13.00. Setelah melakukan packing ulang, registrasi, dan membayar tiket sebesar 20 ribu rupiah, kami pun berangkat menuju Pos 1.
Saran : Buat yang berangkat dari Bandung, lebih enak naik bus jurusan Wonosobo karena lebih dekat menuju basecamp pendakian Gunung Sumbing via Garung
Basecamp – Pos 1
Ada yang menarik dari rute ini. Secara normal, pendakian dari basecamp menuju pos 1 akan memakan waktu sekitar 2 jam dengan track jalanan berbatu serta melewati rumah dan perkebunan warga sekitar. Tetapi, jika kalian ingin mencoba pengalaman baru, memakai ojek bisa menjadi pilihan. Ojek ? Bukannya itu biasa aja ? Oke. Awalnya saya pun menganggap itu hal yang sangat biasa saja. Namun, saya terkejut ketika tepat akan menaiki sepeda motor hasil modif-an tersebut.
“Mas sini tas nya saya aja yang bawa” sahut mas ojeknya.
Sontak saya bingung. Nanti saya duduk dimana dong mengingat ukuran carrier yang saya bawa lumayan besar.
“Nanti mas nya duduk di depan ya” mas ojek menambahkan.
Okesip.
Terakhir saya duduk di depan kalau naik motor yaitu ketika saya masih sd. Ya, SEKOLAH DASAR! Mana ada ojek yang penumpangnya duduk di DEPAN! Jalannya nanjak pula, huft.
Menurutlah saya ke mas ojek tersebut. Awalnya saya khawatir mengingat motor yang digunakan sejujurnya tidak terlihat aman. Namun, setelah jalan, ternyata SERU! Pemandangan dan hawa segar pegunungan menghilangkan kekhawatiran saya. Setelah sekitar 30 menit, saya pun sampai di pos 1.
Kalau saya sih menyarankan kalian naik ojek ini saja. Selain membantu perekonomian warga sekitar, menghemat waktu pendakian sekitar 2 jam, serta yang terpenting kalian akan mendapatkan pengalaman yang seru dan berbeda. Tarif ojek ini terjangkau kok, hanya 25 ribu saja.
Pos 1 – Pos 2
Akhirnya ‘pendakian’ benar – benar dimulai. Track dari pos 1 ke pos 2 didominasi oleh jalan setapak menyusuri hutan. Kondisi tanah sedikit basah tetapi tidak licin. Mungkin sehabis hujan malamnya. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam. Saat itu, jalur pendakian cukup ramai sehingga kami banyak bertegur sapa dengan pendaki lainnya. Oiya, jalur pendakian via Garung ini tidak memiliki sumber air jadi sebaiknya hemat air mulai dari sini ya!
Pos 2 – Pos 3
Tidak jauh berbeda, kalian masih akan melewati jalur hutan seperti sebelumnya. Namun kali ini daya tahan kaki kalian akan diuji. Jalan setapak akan menjadi lebih curam dan ditambah kelelahan yang sudah mulai terasa. Sebenarnya jarak yang ditempuh lebih dekat tapi waktu tempuh masih sekitar 1 jam an.
Saat briefing di basecamp pendakian, kami dianjurkan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini. Namun, melihat waktu itu sudah banyak tenda yang didirikan serta untuk menghemat waktu saat summit nanti, kami memutuskan untuk naik sedikit lagi menuju Pestan. Kebetulan sekali ketika kami tiba, ada pendaki yang sedang bersiap – siap untuk turun. Waktu menunjukkan pukul 16.30 dan lapak untuk tenda pun kami dapatkan. Rejeki anak soleh hehehe.
Summit dan Larangan Tidak Boleh Mengeluh!
Setelah bertanya – tanya pada setiap pendaki yang kami temui di jalan, kami memutuskan untuk memulai summit pada pukul 02.00. Bukan tanpa alasan, hal itu mengingat jarak yang masih jauh menuju puncak Gunung Sumbing. Kalau diibaratkan, pos 3 itu masih setengah perjalanan menuju puncak. Berarti masih jauh bukan ? wkwkwk. Tentunya kami sudah mengisi perut dan juga sejenak memejamkan mata.
Kami hanya membawa tas kecil berisi makanan ringan serta air minum, sisanya kami tinggalkan di tenda. Tak lupa headlamp dan senter, akhirnya kami memulai pendakian.
Awalnya kami begitu bersemangat. Pendakian berjalan tanpa hambatan. Separuh jalan, kami kebingungan pada dua percabangan. Tidak ada tanda jelas mana cabang yang harus dipilih. Salah satu cabang melandai turun, cabang lainnya menanjak naik. Mungkin karena ingin cepat – cepat sampai, kami memutuskan untuk memilih rute menanjak. Pendakian pun dilanjutkan.
ZONK.
Ternyata kami salah jalan. Jalur semakin tidak jelas. Beruntung, salah satu kawan ingat bahwa kami diberi kertas panduan di basecamp tadi. Setelah ditelusuri, harusnya kami memilih cabang yang melandai turun yang sebenarnya bertujuan untuk memutar. Kami pun turun kembali ke percabangan tersebut.
Ketika ada dua percabangan setelah Pasar Watu, pilih jalur yang melandai turun!
Kami pun mulai kelelahan dan berpikir yang aneh – aneh. Namun, tiba – tiba saya teringat sesuatu.
“Setelah pos 3, dilarang untuk mengeluh“
Salah satu kalimat pada kertas panduan.
Awalnya saya mengira itu hanya larangan biasa. Kemudian di tengah kelelahan, kedinginan, serta puncak yang belum terlihat sedikit pun, entah kenapa saya kembali bersemangat karena mengingat kalimat tersebut. Mungkin ini maksud si pembuat kalimat tersebut. Ketika kalian merasa sudah sangat lelah dan ingin sekali mengeluh, tanpa disadari larangan tersebut memberi percikan kecil semangat.
Kalimat sederhana namun memiliki makna yang dalam.
Waktu menunjukkan pukul 05.00. Terdengar teriakan pendaki ‘Puncak! Puncak!’ Kami merasa lega mendengarnya. Dan akhirnya, kami sampai di Puncak Cakrawala Gunung Sumbing. Alhamdulillah!
Info : sebenarnya masih ada Puncak Rajawali (puncak lain Gunung Sumbing) yang bisa kalian tempuh selama 30 menit dari Puncak Cakrawala.
Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk turun dan langsung menuju basecamp. Waktu turun total sekitar 2 jam.
“Habis turun dari Sumbing, kita langsung tek-tok Sindoro aja gimana ?”
CAPEK BOS!
HAHAHAHAHAHAHA. Ternyata kami semua kelelahan dan kalimat tersebut hanya menjadi bualan.
Lain waktu aja yah Sindoro 🙂